Oleh: Maslahul Falah
Gerak sinodis bulan Ramadan berakhir dan datanglah bulan Syawal. Dalam bulan Syawal ini Idul Fitri dilaksanakan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, khususnya, dan amalan ibadah lainnya selama bulan yang diberkahi itu. Ramadan sendiri disebutkan oleh Allah Ta’ala sebagai bulan diturunkannya Al-Qur`an (QS. 2:185). Demikian pula Sabda Nabi Muhammad saw meneguhkan bahwa kala Ramadan tiba pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan setan setan dibelenggu (HR. Imam Muslim).
Redaksi hadis lain bahwa yang dibuka adalah pintu pintu rahmat (HR. Imam Muslim). Selama bulan Ramadan, amalan dan kebaikan pun beragam. Ibadah puasa Ramadan, shalat tarawih, infak dan sedekah, membaca Al-Qur`an, mengkaji ilmu ilmu ke-Islaman, iktikaf, dan menunaikan zakat fitri serta shalat Idul Fitri, masuk dalam daftar amalan kebaikan. Tentunya amalan kebaikan tersebut belum semua dan sepenuhnya.
Di sisi lain, masjid, musala, penuh insan beriman untuk meraih keberkahan Ramadan. Ada rumah rumah warga dijadikan tempat untuk shalat tarawih dan tadarusan Al-Qur`an serta kajian kajian ke-Islaman lainnya. Bahkan tanah lapang pun dijadikan tempat untuk menabur kebaikan. Taburan kebaikan ini berwujud sebagai tempat kajian menjelang berbuka dengan disiapkan bahan untuk berbuka.
Hakikat Idul Fitri
Secara umum, al-Hafizh Ibn Rajab dalam Latha`if al-Ma’arif mengingatkan kepada umat Islam tentang hakikat hari raya (al-’id). Menurut ulama kelahiran Baghdad ini, hari raya itu bukanlah bagi orang yang berpakaian baru. Hakikat hari raya hanyalah milik orang yang ketaatannya kepada Allah semakin bertambah. Tidaklah hari raya itu bagi orang yang mempercantik dirinya dengan pakaian dan kendaraan. Sesungguhnya hari raya itu hakikatnya bagi orang yang dosa-dosanya diampuni Allah Ta’ala.
Ada dua hal pokok yang ditintaemaskan oleh Ibn Rajab pada hakikat hari raya, yaitu ketaatan kepada Allah semakin bertambah dan dosa dosa diampuni oleh-Nya. Keduanya ini bukan hal yang sepele. Juga bukan merupakan perkara yang mudah. Dalam konteks Idul Fitri, raihan dua hal pokok ini menjadi satu rangkaian gerbong Ramadan dan amalan amalan kebaikan di dalamnya.
Sekedar merenung sejenak. Bagaimana puasa Ramadan itu benar benar bisa menjadi perisai dari gerak hati, pikiran dan perbuatan indera dari perkataan tak berguna dan tindakan yang jelek. Puasa Ramadan, shalat tarawih benar benar menjadi amalan yang membersihkan dosa. Tadarusan al-Qur`an menguatkan dan mengikatkan hati dengan Sang Pencipta. Zakat fitri juga semakin menambah kesempurnaan ibadah puasa tersebut.
Kesalehan Ekologis
Ramadan seolah menjadi miniatur amalan kebaikan. Karena itu, paling tidak ada satu pelajaran penting dari amalan Ramadan: energi kebaikan. Tentunya energi kebaikan ini dilandasi ketauhidan. Paska Ramadan, umat Islam (diharapkan) tetap menyalakan energi kebaikan dalam setiap dimensi dan ritus kehidupan ini. Juga mentransformasikan energi kebaikan itu pada kesalehan ekologis-sosial. Kesalehan ekologis-sosial ini menjadi dambaan umat manusia. Umat Islam mempunyai kekuatan literasi untuk secara individual dan berjamaah untuk berkontribusi dalam upaya mewujudkan dambaan tersebut. Upaya ini dapat menjadi bagian dari nilai ibadah umat Islam. Bagian kecil dari kesalehan ekologis-sosial adalah menjaga lingkungan.
Dalam pandangan Fachrudin M Mangunjaya (2005:103-104 memelihara lingkungan dalam Islam merupakan bagian dari totalitas ibadah manusia. Sebab itu, Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam yang mendorong umat agar tidak membuat kerusakan atau mempercepat laju kerusakan yang dilakukan di planet bumi dan alam semesta. Terkonteks hal ini, kesalehan ekologis-sosial bisa diwujudkan, sifat egois harus ditanggalkan. Apalagi sifat tidak egois tersebut dipadukan dengan nilai yang diungkapkan Ibn Rajab di atas, umat yang ber-Idul Fitri sanggup mengasah nurani spritualitasnya untuk memperhatikan realitas di luar dirinya. Pembacaan terhadap realitas sosial-kemasyarakatan dengan kecerdasan ekologis sungguh sudah merupakan hal yang luar biasa. Dan tentunya berdampak positif bagi ekosistem kehidupan antar makhluk.
Dalam atlas kehidupan lain, ekosistem manusia tidak berada dalam ruang hampa. Namun berkelindan dan menyatu dalam lingkaran semesta alam. Kenyamanan hidup manusia di alam dunia ini juga sangat berkaitan dengan makhluk makhluk lainnya. Berbekal energi kebaikan, Idul Fitri merupakan kompas untuk memeka kesalehan ekologis-sosial. Menapaki hidup dan kehidupan dalam rangka kesalehan ekologis-sosial ini, kiranya patut kita renungkan pesan ekologis dari ulama Ali Yafie (2006:228-229). Pesan itu adalah “Kalau ada ungkapan an-nadhafatu minal iman (kebersihan itu adalah bagian dari iman), maka bisa dilanjutkan dengan hifdhul bi`ati minal iman (memelihara dan menjaga lingkungan hidup adalah bagian dari iman). Kesimpulan ini dilakukan karena hifdhu dlaruriyatil khams ma’nahu hifdhul hayati bi akmaliha wa fiha hifdhul bi`ati al-hayatiyah (memelihara dan melindungi lima komponen kehidupan itu artinya keharusan memelihara dan melindungi kehidupan secara keseluruhan, dan tentu di dalamnya tercakup memelihara lingkungan hidup).” Semoga
Penulis adalah ASN PPPK Direktorat Perlindungan Sosial Non Kebencanaan Kementerian Sosial RI bertugas di Kabupaten Lamongan Jawa Timur
Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan bukan pendapat dan cerminan ASN PPPK






