Oleh: Prof. Dr. KH. Zainal Abidin, M.Ag
(Ketua FKUB Sulawesi Tengah / Rais Syuriyah PBNU)
Setiap peringatan hari besar keagamaan selalu membawa pesan universal yang melampaui batas-batas teologis internal pemeluknya. Saat ini, umat Kristiani merayakan Paskah, sebuah momentum yang dalam perspektif iman Kristiani dimaknai sebagai kemenangan kehidupan atas kematian, serta harapan baru setelah pengorbanan. Bagi kita sebagai bangsa yang majemuk, momentum ini sejatinya menjadi cermin untuk merefleksikan sejauh mana kualitas persaudaraan kemanusiaan kita telah bertumbuh di tengah dinamika sosial yang kian kompleks.
Paskah tahun ini hadir di tengah kerinduan kolektif kita akan kedamaian yang substantif. Ia memanggil kita untuk menengok kembali relasi antarumat beragama, bukan sekadar dalam bingkai toleransi pasif, melainkan dalam semangat rekonsiliasi sosial yang aktif. Di sinilah, Moderasi Beragama menemukan urgensinya sebagai jembatan yang menghubungkan tebing-tebing perbedaan guna menguatkan kembali keutuhan umat.
Dalam setiap narasi agama, pengorbanan selalu menjadi pintu gerbang menuju kemuliaan. Paskah mengajarkan bahwa untuk mencapai sebuah “kebangkitan” atau pemulihan, diperlukan kerelaan untuk berkorban. Jika kita tarik ke dalam ranah kehidupan berbangsa, pengorbanan yang paling dibutuhkan saat ini adalah kesediaan setiap individu untuk menanggalkan ego sektoral, kefanatikan yang sempit, dan prasangka yang menutup pintu dialog.
Rekonsiliasi sosial bukanlah sekadar kata tanpa makna. Ia adalah proses penyembuhan luka sosial yang mungkin muncul akibat gesekan kepentingan atau perbedaan pandangan. Paskah menjadi momentum yang tepat bagi kita semua untuk melakukan introspeksi, sudahkah kehadiran kita menjadi kesejukan bagi sesama, atau justru menjadi pemicu keretakan? Sebagai umat beragama, kita harus menyadari bahwa kesalehan sejati tidak diukur dari seberapa keras kita meneriakkan kebenaran kelompok kita, melainkan dari seberapa besar manfaat kehadiran kita bagi kemanusiaan.
Saya sering menekankan bahwa Moderasi Beragama bukanlah upaya untuk mendangkalkan akidah atau mencampuradukkan ajaran agama. Moderasi adalah jalan tengah (wasathiyah) sebuah sikap mental yang menempatkan keadilan dan keseimbangan sebagai pilar utama dalam berinteraksi. Dalam konteks Paskah, moderasi mengajak kita untuk menghormati kekhusyukan ibadah saudara-saudara kita tanpa harus kehilangan jati diri keimanan kita sendiri.
Moderasi beragama adalah jalan rekonsiliasi karena ia menuntut kita untuk bersikap inklusif. Ia mengajarkan bahwa agama hadir untuk memuliakan manusia. Ketika kita memuliakan manusia, siapa pun dia, apa pun latar belakangnya, sesungguhnya kita sedang memuliakan Penciptanya. Jika prinsip ini dipegang teguh, maka segala bentuk konflik yang mengatasnamakan agama akan sirna dengan sendirinya. Rekonsiliasi sosial akan terjadi secara alami ketika setiap pemeluk agama merasa aman dan dihormati oleh saudaranya yang lain.
Kita perlu menggeser paradigma dari sekadar kesalehan ritual menuju kesalehan sosial yang konkret. Ibadah yang kita lakukan di rumah ibadah masing-masing harus memiliki dampak nyata di ruang publik. Nilai manusia, dalam pandangan saya, diukur dari dampak positif yang dirasakan oleh sekitarnya.
Filosof Jerman, Johann Wolfgang von Goethe, pernah berujar: “Untuk apa hidupku jika aku tidak berguna untuk orang lain.” Kalimat ini memiliki resonansi yang kuat dengan nilai-nilai agama kita. Untuk apa kita mengaku beriman jika kehadiran kita tidak membawa kedamaian bagi tetangga kita? Untuk apa kita merayakan hari besar agama jika hati kita masih menyimpan kebencian terhadap mereka yang berbeda?
Melalui momentum Paskah ini, saya mengajak seluruh elemen umat beragama untuk mempraktikkan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Rekonsiliasi sosial dimulai dari meja makan yang sama, dari gotong royong membersihkan lingkungan, dan dari kerja sama lintas iman dalam membantu mereka yang kesulitan. Keutuhan umat beragama hanya bisa diperkuat jika kita memiliki keterikatan emosional sebagai satu keluarga besar bangsa Indonesia.
Tugas kita sebagai generasi masa kini adalah merawat pondasi kerukunan yang telah diletakkan oleh para pendahulu kita. Di Sulawesi Tengah, kita memiliki warisan keteladanan dari para tokoh agama terdahulu, seperti Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Aljufri), yang telah mencontohkan betapa indahnya hubungan harmonis lintas iman melalui pendidikan dan interaksi sosial.
Menguatkan keutuhan umat beragama memerlukan tiga pilar utama:
- Saling mengenal (Ta’aruf), memahami perbedaan bukan untuk diperdebatkan, melainkan untuk saling menghargai.
- Saling memahami (Tafahum): Membangun empati agar kita tidak mudah menghakimi orang lain dengan menggunakan perspektif yang kita miliki
- Saling menolong (Ta’awun): Berkolaborasi dalam kebaikan demi kemaslahatan umum tanpa melihat latar belakang suku agama dan ras
Paskah membawa pesan tentang fajar yang merekah setelah kegelapan. Mari kita jadikan momentum ini sebagai fajar baru bagi kerukunan di tanah air. Jadikan Moderasi Beragama sebagai napas dalam setiap perjumpaan kita. Kita harus menjadi perekat, bukan pemisah; menjadi jembatan, bukan tembok. Rekonsiliasi sosial melalui jalan moderasi adalah investasi terbaik untuk masa depan anak cucu kita. Mari kita buktikan kepada dunia bahwa di Indonesia, perbedaan agama bukanlah sumber perpecahan, melainkan kekuatan yang menyatukan. Selamat merayakan Paskah bagi saudara-saudara yang merayakan. Semoga kedamaian, kesejahteraan, dan kebahagiaan senantiasa menyertai kita semua dalam lindungan Tuhan Yang Maha Esa.***






