Oleh: Haliadi-Sadi, Ph.D.
Selamat Haul Guru Tua ke-58. Al Khairat ke Islam ilmupengetahuan adalah ajaran-ajaran agama Islam dijadikan sebagai ilmu pengetahuan dalam hidup dan kehidupan manusia. Menurut Prof. Kuntowijoyo bahwa ilmu ditandai dengan sifat yang obyektif. Metodologi ilmu pengetahuan mementingkan yang faktual. Dalam ilmu diajarkan tentang cara berpikir yang terbuka. Perode agama Islam ilmupengetahuan disebarkan oleh Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie yang biasa dipanggil dengan Ustadz Tua. Beliau adalah seorang yang berkebangsaan Hadramaut yang rela tinggal di Palu.
Secara ringkas beliau berasal dari Hadramaut. Tokoh Islam ini lahir dari Salim Bin Alawy seorang mukti Hadramaut dan dari ibu yang bernama Nur. Sayyid Idrus Bin Salim Aldjufrie datang ke Palu pada tahun 1929, kemudian pada tahun 1930-an di Kota Palu membangun perguruan Islan yang bernama Alkhairat. Dua puluh tahun kemudian, perguruan ini berkembang luas di sekitar Kota Palu hingga ke daerah Sangir Talaud di pulau-pulau kecil Utara pulau Sulawesi. Persebaran itu ke Tinombo, Ampana, Batui Luwuk Banggai, Kepulauan Togean, Banggai Kepulauan, dan Bungku hingga Tanjung Selor Kalimantan Timur juga di Kota Poso. Pada tahun 1960-an seorang murid Guru Tua yang terkenal adalah Zainal Abidin Betalemba sebagai tokoh lokal pendiri Perguruan Tinggi Alkhairat dan juga pendiri Provinsi Sulawesi Tengah.
Tulisan ini akan membahas dua hal penting yakni proses perjalanan Said Idrus Bin Salim Aljufri dari Hadramaut hingga ke Palu Sulawesi Tengah dan proses pendirian perguruan Alkhairat di Palu hingga mengembangkan industri pendidikan agama di Sulawesi Tengah. Bukan hanya menjadi industri pendidikan yang besar di Sulawesi Tengah dan Indonesia Timur tetapi juga menjadi organisasi sosial yang besar di Indonesia sekarang ini.
Dari Hadramaut ke Palu Sulawesi Tengah
Said Idrus bin Salim Aljufri lahir di Taris Hadramaut Yaman Selatan pada 15 Sya’ban 1309 hijriyah atau 15 Maret 1890 dari keluarga yang menjunjung tinggi agama Islam. Salim Aljufri lahir dari seorang Salim Bin Alawy seorang mukti Hadramaut dan dari ibu tercintanya bernama Nur. Sayid Idrus pertama kali mempelajari Islam dari ayahnya. Kemudian, ia juga belajar kepada ulama setempat yang merupakan kawan ayahnya. Di antara ulama-ulama tersebut adalah Sayid Muhsin bin Alwi Al-Saggaf, Abd Al-Rahman bin Ali bin Umar Al- Saggaf, Muhammad bin Ibrahim Balfaqih, Abd Allah bin Husain Saleh Al-Bahra, dan Idrus bin Umar Al-Habsyi (Sofyan B. Kambay, 1991: 23). Sayid Idrus juga sempat belajar dan memperoleh banyak manfaat dari sejumlah ulama di Mekkah ketika ayahnya membawanya kesana dalam rangka menunaikan ibadah haji. Dalam riwayat pendidikannya, Sayid Idrus adalah lulusan Perguruan Tinggi Arrabithatul Alawiyah di Kota Tarim Yaman.
Beliau hijrah ke Indonesia karena alasan menghindari pergolakan di tempat asal dan mengembangkan Agama Islam di daerah Nusantara sebagai wilayah pengembangan agama Islam yang baru. Pada umur tujuh belas tahun Said Idrus menjadi sekretaris mufti bersama ayahnya selama lima tahun dan setelah ayahnya meninggal dunia, jabatan sebagai mufti diserahkan kepadanya. Jabatan mufti tersebut dipangkunya selama dua tahun saja karena adanya pertentangan politik yang terjadi di Hadramaut, sehingga ia memutuskan untuk melepaskan jabatannya dan hijrah ke Indonesia. Beliau datang ke Indonesia pada tahun 1925 ia meninggalkan Tarim menuju Batavia dan tinggal beberapa lama untuk mengajar di sebuah madrasah. Sayid Idrus kemudian pindah ke Pekalongan salah satu tempat mukimnya orang Arab sejak akhir abad ke-19. Dari Pekalongan ke Jombang Jawa Timur, belaiu sempat bertemu dengan Hasyim Asy’ari salah seorang pendiri Nahdatul Ulama (NU) dan tinggal di sana selama dua tahun. Sayid Idrus kemudian pindah ke Solo, tempat pemukiman Arab lainnya di Jawa Tengah. Di sana beliau diberi kepercayaan mengajar di Madrasah Al-Rabitah Al-Alawiyah. Beliau dilantik mengetuai Madrasah yang berubah menjadi Yayasan Pendidikan Islam Diponegoro(Sofyan B. Kambay, 1991: 24). Selepas dari Solo, Sayid Idrus menuju ke Ternate Maluku dan Sulawesi Utara. Sayid Idrus mempunyai keluarga di kalangan pendatang dan peniaga Arab. Menurut Azyumardi Azra selama di Indonesia Sayid Idrus mengabdikan dirinya dalam bidang dakwah saja (Azyumardi Azra, 2002: 170). Dari Gorontalo Sulwesi Utara, Sayid Idrus akhirnya memilih ke dan tinggal di Palu, Sulawesi Tengah. Sayid Idrus yang dikenal di Palu dengan Guru Tua berperan penting dalam bidang pendidikan Agama Islam di Sulawesi Tengah.
Beliau membina keluarga dengan masyarakat setempat yakni mengawini seorang perempuan Kaili Palu Sulawesi Tengah dan membentuk komunitas Arab di Palu Sulawesi Tengah. Cerita pernikahan dari Guru Tua adalah pada mulanya menikah dengan Syafirah Kalsum bin Zen Al Mahdali. Perkahwinan itu tidak menghasilkan keturunan, dan sebelum itu Sayid Idrus telah menikah beberapa kali di Hadramaut. Ia telah menikah dengan putri Sayid Umar Al-Bahli dan mempunyai seorang putri bernama Fatimah. Perkahwinan kedua terjadi setelah Sayid Idrus tinggal selama enam bulan di Mekkah dengan putri Sayid Hasan bin Ahmad Al-Bahr dan dikaruniai tiga orang putra. Setelah hijrah ke Indonesia ia kemudian menikah dengan Syarifah Aminah putri Sayid Thalib Al-Jufrie di Pekalongan Jawa Tengah. Dari hasil pernikahannya itu, mereka dikaruniai tiga orang putri dan pernikahan berikutnya dengan wanita Jawa di Jombang, tetapi tidak menghasilkan keturunan. Pernikahannya dengan Syarifah Kalsum di Wani merupakan pernikahan yang kelima. Selepas dari Wani, Sayid Idrus kemudian pindah ke Palu dan menikah lagi dengan anak bangsawan Kaili, Daeng Marotja ialah Intje Aminah binti Daeng Sute tahun 1931. Pernikahannya ini menghasilkan dua orang putri. Perkahwinan Said Idrus yang terakhir adalah dengan Syarifah Haulah binti Husain Al-Habsyi di Ampana dan tidak memiliki keturunan.
Guru Tua dan Alkhairat: Islam Ilmu Pengetahuan Palu
Said Idrus bin Salim Aljufri atau Guru Tua membuka taman pengajian di Palu Sulawesi Tengah sebagai salah satu bentuk dakwah Islam yang dilakukannya untuk masyarakat pribumi. Sebelum bangunan madrasah Alkhairat berdiri, Guru Tua pertama kali mengajar para pemuda-pemuda bakal calon murid-muridnya di toko milik H. Quraisy seorang Bugis dari Donggala dengan tidak memungut biaya. Rumah tersebut berada di Kampung Ujuna Kota Palu Sulawesi Tengah. Kemudian, kegiatan belajar mengajar dilakukan selanjutnya di rumah Daeng Marotja di Kampung Baru yang berdekatan dengan masjid Jami di kampung Baru Palu. Sayid Idrus memilih tinggal di rumah tersebut, di rumah Daeng Marotja juga digunakan sebagai tempat mengajar oleh Guru Tua dan membuka ruangan asrama untuk murid-muridnya(Jamrin Abubakar, 1999: 38). Secara umum pengaturan waktu belajarnya dan materi yang diberikan adalah sebagai berikut: (1). Sehabis sholat subuh hingga pukul 07.00 pagi, belajar khusus qiraah langsung dijelaskan dan dibuka tanya-jawab. (2). Pukul 07.00 pagi sampai waktu duhur diajarkan pelajaran bahasa Arab sebagai pengetahuan dasar seperti Nahwu dan Shorof ditambah pelajaran Tauhid dan Fiqhi. (3). Setelah ashar mereka melakukan latihan olahraga, biasanya sepak bola, (4). Waktu magrib sampai isya’ diberikan kembali pelajaran mengaji dengan tajwid, dan (5). Sesudah isya’ diadakan Tanya jawab antara murid dengan Guru Tua langsung (Sutrisno Kutoyo, 2005: 90.).
Pada tahun 1935, Guru Tua telah berhasil menamatkan beberapa ulama besar yang berasal dari masyarakat lokal Sulawesi Tengah. Dalam kurun waktu empat tahun saja (1934), Madrasah Alkhairat telah menghasilkan tamatan pertamanya sebanyak dua orang, yakni H.M. Hasim Maragau dan Syech Abd. Rahman Aldjufrie. Setahun kemudian (1935), madrasah ini kembali menamatkan muridnya sebanyak dua belas orang, antara lain: 1. Alwi Intje Unte, 2. Abdullah Hay Abdullah, 3. Hasjim Samsuddim, 4. Saat F. Basjir, 5. Zahrani, 6. M. Muhammad, 7. B. Daeng Malino, 8. Hasan Intje Ote, 9. M. Noh Lawewa, 10. D.M.P Djaelangkara, 11. Zainuddin, 12. S. Aidid Al-Hasni. Tamatan pertama dan kedua merupakan kader-kader pertama yang diberikan kepercayaan oleh Sayid Idrus untuk menjadi guru, karena telah dibekali dengan ilmu pengetahuan sebagai pegangan untuk menjadi muballigh. Setelah itu menyusul lagi tamatan-tamatan yang berikutnya. Mereka-mereka inilah yang pada gilirannya menjadi juru dakwah tidak hanya di Sulawesi Tengah, tetapi juga di Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan, bahkan di Kalimantan. Kemudian, banyak diantara mereka yang membuka cabang-cabang Alkhairat di daerah mereka masing-masing. Taman pengajian Alkhairat di Palu Sulawesi Tengah membina masyarakat Kaili yang berada di Palu Sulawesi Tengah sejak tahun 1931.
Dua puluh tahun kemudian, perguruan ini berkembang luas di sekitar Kota Palu hingga Sangir Talaud di pulau-pulau kecil utara pulau Sulawesi. Persebaran itu Pada tahun 1935 di Tinombo oleh H. Gasim Maragau, tahun 1934 di Ampana oleh Dg. Mario Djaelangkara, Pada tahun 1938 di Batui oleh Marzuki, Pada tahun 1936 di Kepulauan Togean Sjamsuddin dan Nohlawewa, Tahun 1937 di Banggai oleh Abd. Hafid Palewa, Pada tahun 1939 di Kintom oleh Alwi Intje Ote dan Abd. Hafid. Pada Tahun 1940-an di Bungku dikembangkan oleh Hasjim, demikian juga di Tanjung Selor Kalimantan Timur dikembangkan oleh Rustam Arsyad Palas dan Lanari serta Sagaf Bin Sech Al Jufri, di Kota Poso tahun 1941 oleh Nawawian Abdullah dan Nur Hasan. Pada tahun 1950 di Sangir Talaud Al Khairat dikembangkan oleh M.S. Patimbang, demikian juga di tahun 1951 di Tahuna dikembangkan oleh Nawawian Abdullah. Inilah wujud dari dakwah bil hal dari Guru Tua di Sulawesi Tengah yang menciptakan ulama Islam sehingga dapat mengembangkan Agama Islam dimana-mana.
Pada masa pendudukan Jepang, Sayid Idrus dan Alkhairat juga menjadi pusat kecurigaan Jepang. Suatu ketika tentara Jepang (Dai Nippon) melakukan penggeledaan di Perguruan Islam Alkhairat. Mereka berhasil menyita sebuah buku yang berjudul “Idzatun Nasyin” yang ditulis oleh Mustafa Al-Galayin dari Libanon. Buku itu merupakan salah satu materi yang diajarkan kepada murid-muridnya. buku itu berisikan rangsangan dan semangat juang untuk membebaskan diri dan bangsa dari bentuk perbudakan dan penjajahan oleh bangsa-bangsa maupun negara-negara lain. Kemudian pejabat Jepang di Palu mengeluarkan perintah untuk menghentikan aktivitas dakwah Alkhairat dan pendidikannya. Kemudian, gedung sekolah milik Alkhairat dijadikan gedung Nantako, sebagai pusat tentara Jepang. Dilaporkan pula bahwa beberapa murid yang berusaha menghalangi tentara Jepang ditangkap dan dipenjarakan. Meskipun penutupan dilakukan, bukan berarti tidak ada aktifitas sama sekali. Kegiatan secara sembunyi-sembunyi atau dari rumah ke rumah tetap dilakukan dan para murid tetap belajar.
Menurut keterangan Bapak Sabir Datu Pamusu, pada waktu Palu dikuasai oleh Jepang, Guru Tua (Sayid Idrus) didatangi oleh tentara Jepang. Maksud kedatangan mereka pada waktu itu adalah untuk menantang Guru Tua. Kemudian terjadilah percakapan antara Sayid Idrus dan tentara Jepang tadi. Ketika itu, tentara Jepang melihat fisik Guru Tua dan berkata dengan angkuh bahwa anda ini adalah seorang yang bertubuh tinggi dan besar. Tujuan dari pembicaraannya itu adalah untuk memancing emosi Guru Tua. Namun, dengan bijak Guru Tua menjawabnya, ia saya memang bertubuh besar dan tinggi, dan anda bertubuh lebih kecil dari saya. Akan tetapi, kedudukan anda jauh lebih besar dan tinggi dari pada saya. Mendengar jawaban Guru Tua tersebut, tentara Jepang tadi mengurungkan niatnya untuk menantang Guru Tua. Dengan berakhirnya masa kependudukan Jepang di Palu serta dengan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945, Sayid Idrus kembali melakukan aktivitasnya dengan giat. Ia memerintahkan seluruh stafnya untuk membuka kembali Madrasah Alkhairat setelah menjalani ‘vakum’ selama masa kekuasaan Jepang. Instruksi itu dikeluarkan oleh Sayid Idrus tanggal 17 Desember 1945 dan kegiatan belajar murid-murid Alkhairat dimulai kembali.
Menurut Azyumardi Azra bahwa keluarga Aldjufrie mempunyai peranan penting dalam bidang pendidikan Islam di Palu. Keluarga Aldjufrie yang terkenal akan dedikasinya dibidang pendidikan Nusantara terutama di Sulawesi Tengah ialah Sayid Idrus bin Salim Aldjufrie. Al-Habib Sayid Idrus bin Salim Aldjufrie orang Hadramaut yang pertama memainkan peranan penting, khusunya dalam bidang pendidikan Islam di Sulawesi Tengah. Ia merupakan pendiri Perguruan Islam Alkhairat yang berpusat di Palu. Aldjufrie seorang pendidik Hadrami yang terkemuka di Indonesia pada abad ke-20 yang telah mendirikan satu-satunya jaringan madrasah terluas (lebih dari 1.268 jumlahnya) di wilayah bagian timur Indonesia.
Karya-karya guru tua adalah terdiri atas buku, nyanyian-nyanyian, dan orang Islam sebagai “dakwah bilhal” untuk membentuk generasi Islam di Sulawesi Tengah. Sementara itu, menurut buku karya Huzaimah dkk. (2013) bahwa Said Idrus Al Jufri memiliki mazhab Syafi’I dan tariqah yang diikutinya adalah tariqah Alawiyyah yang berafiliasi dengan tariqah Aidarisiyyah (Hj. Huzaimah T. Yanggo, 2013: 88).
Pada usia Alkhairat yang ke-25 diadakanlah mu’tamar Alkhairat I di Palu. Kegiatan ini berlangsung selama lima hari sejak tanggal 21 hingga 25 ogos 1956. Hasil dari Mu’tamar itu adalah tersusunnya anggaran dasar Alkhairat dan dengan demikian perguruan ini dijadikan sebagai suatu oraganisasi bidang pendidikan yang lebih teratur administrasi dan pengelolaannya. Pada tahun 1958 madrasah Alkhairat secara resmi didirikan sebagai sebuah yayasan dengan nama yayasan pendidikan Alkhairat. Orang yang mengurus aktenya dikuasakan oleh Sayid Idrus kepada Z.A Betalembah selaku Ketua I dan M. Nawawian Abdullah selaku sekertaris umum. Dengan demikian Alkhairat sudah menjadi badan hukum. Pada tahun 1962 cabang Alkhairat sudah mencapai kurang lebih 100 buah dengan jumlah murid kurang lebih 12.000 orang dan tenaga pengajar sebanyak kurang lebih 200 orang. Sementara jumlah murid di Alkhairat pusat kurang lebih 1.000 orang dan tenaga pengajar kurang lebih 20 orang. Pada tanggal 10 – 15 Agustus 1963 kembali diadakan Mu’tamar II. Dalam Mu’tamar kali ini, Sayid Idrus menjelaskan bahwa Alkhairat adalah sebuah organisasi yang bersifat nonpolitik dan tidak berafiliasi pada oraganisasi manapun di Indonesia (Sulaiman P.L., 1996: 132). Pernyataan itu mengindikasikan bahwa Sayid Idrus dan Alkhairat berusaha untuk tidak terlibat dalam konflik politik dan agama yang mengemuka khusunya pada pertengahan 1960-an.
Pada tahun 1964 Sayid Idrus membuka sebuah universitas dengan nama Universitas Islam Alkhairat (UNISA) yang didirikan di Palu. Universitas ini membuka tiga fakultas yaitu fakultas Tarbiyah, fakultas Syariah, dan fakultas Ad’ab. Perguruan Tinggi ini sempat berhenti dan baru aktif lagi pada 1969 dengan satu Fakultas saja yaitu fakultas Syari’ah. Dekan dipangku oleh cucu Sayid Idrus, yaitu H.S. Saggaf Aldjufrie M.A. alumni universitas Al-Azhar Kairo, Mesir. Sejak dibukanya madrasah Alkhairat hingga tahun 1947 mata pelajaran yang diberikan hanyalah pelajaran agama dan bahasa Arab saja. Pada tahun 1948 telah diadakan kelas-kelas sesuai dengan tingkat kecerdasan pelajar. Pada tahun 1951 sistem pendidikan dan pengajarannya mulai disesuaikan dengan sekolah negeri.
Said Idrus Bin Salim Aljufri adalah seorang ulama Hadramaut yang mengembangkan Agama Islam di Palu Sulawesi Tengah. Tokoh sentral perguruan agama Islam Alkhairat ini mengawini perempuan Kaili Sulawesi Tengah untuk yang terakhir kalinya. Alkhairat adalah karya Guru Tua dalam mengembangkan pendidikan agama Islam dan sekaligus membina organisasi sosial berbasis Agama Islam yang besar di Indonesia Timur. Perguruan Alkhairat sekarang ini telah memiliki Perguruan Tinggi Agama Islam yang besar di Palu Sulawesi Tengah UNISA (Universitas Alkhairat) yang dibangun sejak tahun 1960-an. Guru Tua wafat di Palu Sulawesi Tengah pada tanggal 22 Desember 1968 bertepatan dengan 12 Syawal. Setiap tahunnya selalu diadakan peringatan wafatnya guru tua daam acara haul Guru Tua secara besar-besaran di Palu Sulawesi Tengah. ***
Penulis adalah Sejarawan Untad dan Penulis Buku 100 Tahun Al Khairat






