Untad Tembus 35 Besar EduRank: Sinyal Kebangkitan Kampus Tadulako

Oleh: Syukur Umar (Akademisi Universitas Tadulako)

Kabar menggembirakan menyapa Bumi Tadulako di awal tahun 2026. Dalam rilis terbaru lembaga pemeringkatan internasional EduRank, Universitas Tadulako (Untad) sukses menembus peringkat 35 nasional. Pencapaian ini bukan sekadar deretan angka statistik di atas kertas, melainkan manifestasi nyata dari kebangkitan ekosistem riset di jantung Pulau Sulawesi.

Berbeda dengan pemeringkatan lain yang mungkin lebih menonjolkan aspek popularitas digital, EduRank menitikberatkan pada substansi akademik murni: volume publikasi ilmiah, jumlah sitasi, dan dampak riset secara global. Keberhasilan Untad di posisi ini menegaskan bahwa kampus kita sedang bertransformasi menjadi institusi yang mengedepankan kualitas intelektual, bukan sekadar pencitraan visual.

Fluktuasi Menuju Akselerasi

Perjalanan menuju posisi 35 besar ini dilalui dengan dinamika yang cukup ketat. Menengok ke belakang, pada tahun 2023, Untad berada di peringkat 49 nasional. Sempat naik ke posisi 38 pada 2024, posisi tersebut sedikit terkoreksi ke peringkat 40 di tahun 2025.

Namun, penurunan tipis di tahun lalu justru menjadi ancang-ancang untuk lompatan yang lebih jauh. Lonjakan signifikan ke peringkat 35 pada tahun 2026 ini menjadi titik balik krusial. Ini membuktikan bahwa mekanisme evaluasi internal dan perbaikan tata kelola di Untad telah berjalan di jalur yang tepat (on the right track).

Menggeser Episentrum Regional

Satu hal yang paling mencuri perhatian dari rilis EduRank 2026 adalah posisi Untad dalam peta persaingan regional di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Secara impresif, Untad berhasil melampaui dua “raksasa” pendidikan tinggi, yakni Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado dan Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda.

Jika tiga tahun lalu Untad masih menatap punggung kedua universitas tersebut dari kejauhan, kini posisi itu berhasil dibalik. Keberhasilan menyalip perguruan tinggi mapan di Sulawesi Utara dan Kalimantan Timur ini memberikan pesan kuat: episentrum keunggulan akademik di KTI kini tengah bergeser ke Sulawesi Tengah. Transformasi ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari proses panjang yang terencana dan terukur.

Amunisi 70 Profesor Baru

Apa mesin penggerak di balik lompatan ini? Jawabannya ada pada penguatan sumber daya manusia. Dalam kurun waktu kurang lebih tiga tahun terakhir, Untad mencatatkan rekor dengan menambah sekitar 70 profesor baru.

“Ledakan” jumlah guru besar ini menjadi amunisi utama dalam memacu produktivitas riset. Kehadiran para profesor baru ini tidak hanya meningkatkan kapasitas bimbingan mahasiswa pascasarjana, tetapi juga memperluas jejaring kolaborasi internasional dan meningkatkan visibilitas ilmiah kampus di jurnal-jurnal bereputasi dunia. Ekosistem akademik kini semakin matang, memberikan ruang bagi para dosen muda untuk terpacu melakukan inovasi serupa.

Dampak Strategis bagi Daerah

Sebagai institusi pendidikan terbesar di Sulawesi Tengah, capaian Untad memiliki implikasi strategis bagi pembangunan daerah. Kampus tidak boleh lagi menjadi “menara gading” yang terisolasi dari persoalan masyarakat. Peningkatan kualitas riset di Untad harus berbanding lurus dengan kemampuannya menghasilkan solusi bagi tantangan lokal—mulai dari isu lingkungan, ekonomi kerakyatan, hingga ketahanan sosial.

Reputasi nasional yang kian mentereng akan meningkatkan daya saing daerah. Ketika Untad diakui secara global, maka inovasi dan sumber daya manusia yang dihasilkan akan memiliki nilai tawar yang lebih tinggi di level nasional maupun internasional.

Menjaga Konsistensi

Tentu saja, tantangan ke depan tetaplah berat. Mempertahankan posisi di papan atas membutuhkan napas panjang dan konsistensi tinggi. Investasi pada teknologi riset dan kesejahteraan peneliti harus terus diperkuat.

Kenaikan peringkat ini adalah awal, bukan garis finis. Dengan fondasi 70 profesor baru dan semangat kerja kolektif yang sedang membara, Universitas Tadulako telah membuktikan bahwa perguruan tinggi di daerah mampu menembus batas dan bersaing di kancah tertinggi. Mari kita jaga momentum kebangkitan ini demi masa depan pendidikan di Timur Indonesia.

Pos terkait