Gerakan Tanam Pohon untuk Mitigasi Bencana

Penanaman bibit pohon jenis nantu di bantaran sungai Desa Tanalanto Kecamatan Torue, Kamis (9/4/2026). FOTO: ABDUL FARID/MS

PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Pemkab Parmout) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mendorong upaya mitigasi bencana berbasis lingkungan.

Salah satunya diwujudkan melalui aksi penanaman pohon, di bantaran Sungai Desa Tanalanto Kecamatan Torue, Kamis (9/4/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-24 Kabupaten Parmout yang jatuh pada 10 April 2026, serta Hari Kesiapsiagaan Bencana pada 26 April 2026.

Pelaksana Tugas (Plt.) BPBD Parmout, Rivai mengungkapkan Pemerintah Daerah mendapat dukungan sebanyak 4.150 bibit pohon produktif dan bernilai ekonomis seperti nantu, mahoni, alpukat, durian, pala, hingga kemiri dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Palu-Poso.

“Untuk penanaman tahap awal ini, kami fokuskan masing-masing 200 bibit nantu dan mahoni di bantaran Sungai Tanalanto,” ujar Rivai.

Tak hanya di kawasan sungai, penghijauan juga menyasar wilayah pesisir dengan penanaman mangrove. Langkah tersebut dinilai penting, untuk menjaga ekosistem sekaligus menekan potensi abrasi di kawasan pantai.

Kegiatan tersebut turut melibatkan Yayasan Merah Putih Sulteng, yang selama ini aktif dalam isu perubahan iklim, khususnya di wilayah Desa Tanalanto, Torue, dan Tolai.

Selain penanaman langsung, BPBD juga telah menyalurkan bibit pohon seperti tabebuya, pucuk merah, dan durian ke sejumlah sekolah. Langkah tersebut, kata Rivai, sebagai bagian dari edukasi lingkungan sejak dini.

Sementara itu, Wakil Bupati Parmout, H. Abdul Sahid pentingnya kolaborasi lintas sektor agar upaya mitigasi bencana dapat berjalan optimal. Menurutnya, aksi penghijauan harus menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara berkelanjutan, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Ia juga menegaskan, keberhasilan program penghijauan sangat bergantung pada perawatan pascatanam. Tanpa itu, manfaat jangka panjang tidak akan tercapai.

Sahid juga menyoroti pentingnya keterlibatan pihak perusahaan, khususnya yang menjalankan aktivitas galian C, agar ikut bertanggung jawab dalam menjaga aliran sungai. Sahid mengingatkan bahwa penanganan sedimentasi sungai perlu dilakukan dengan baik. Terutama, mengangkat material yang menumpuk di tengah aliran agar tidak merusak bantaran.

“Aliran sungai harus diarahkan dengan baik. Jika tidak, dampaknya bisa memperparah kondisi lingkungan dan memicu banjir,” tegasnya.

Kepala Desa Tanalanto, Sulaeman menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemerintah Daerah yang menjadikan wilayahnya sebagai lokasi kegiatan.

“Ini sangat penting bagi kami. Selain melindungi bantaran sungai dari abrasi, juga menjaga kebun warga dan jalur distribusi hasil pertanian,” tutur Sulaeman. AFL

Pos terkait