Hindari Antrean, Warga Beralih ke BBK

Salah seorang pengendara sedang mengisi BBK di SPBU Pertamina Parigi. FOTO: IST.

PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi di SPBU Pertamina Parigi di Kelurahan Kampal Kabupaten Parigi Moutong (Parmout), mendorong sebagian masyarakat beralih menggunakan Bahan Bakar Khusus (BBK) atau non-subsidi.

Kondisi itu terjadi seiring tingginya kebutuhan BBM jenis Pertalite. Rivai Mohammad selaku Pengawas SPBU Pertamina Parigi menjelaskan, meskipun BBM subsidi masih menjadi pilihan utama masyarakat, namun keterbatasan kuota dan tingginya volume permintaan juga menyebabkan antrean panjang hampir setiap hari. Sehingga membuat sebagian konsumen memilih BBK sebagai alternatif untuk menjaga kelancaran aktivitas.

“Sekarang selisih harga Pertalite dan Pertamax tidak terlalu jauh. Jadi bagi masyarakat yang tidak ingin antre lama, Pertamax bisa menjadi pilihan,” ujar Rivai di Parigi, Selasa (6/1/2026).

Ia mengungkapkan, saat ini BBK yang tersedia di SPBU Pertamina Parigi meliputi Pertamax, Pertamax Turbo dan Pertamina Dex. Sementara itu, BBM non-subsidi jenis Dexlite sudah tidak lagi tersedia.

“Dexlite sudah tidak ada, sehingga alternatif solar non-subsidi sekarang menggunakan Pertamina Dex,” ungkap Rivai.

Ia menyebutkan, adanya penyesuaian harga BBM non-subsidi yang diterapkan Pertamina, turut memengaruhi minat masyarakat. Harga Pertamax saat ini Rp12.650 per liter, sedangkan Pertamina Dex mengalami penurunan dari sebelumnya Rp15.300 per liter menjadi Rp13.900 per liter.

Rivai menerangkan, kuota penjualan harian Pertamax di SPBU Pertamina Parigi rata-rata mencapai 1 hingga 1,5 ton per hari. Sementara penjualan Pertamina Dex yang umumnya digunakan oleh kendaraan besar seperti truk, justru cenderung lebih lambat. Menurutnya, hal itu disebabkan selisih harga yang cukup jauh dibandingkan solar subsidi.

“Meski penjualan Pertamina Dex mengalami peningkatan dibanding sebelumnya, tetapi tidak secepat Pertamax. Karena harganya jauh lebih mahal dari solar subsidi,” tutur Rivai.

Ia menerangkan, seluruh distribusi Solar dan Pertalite kini telah menggunakan sistem QR Code. Tujuannya, guna memastikan penyaluran BBM subsidi tepat sasaran dan diterima oleh masyarakat yang berhak.

“Setiap transaksi BBM subsidi tercatat dalam sistem digital Pertamina dan dipantau secara real time. Pengawasan ini dilakukan untuk mencegah penyalahgunaan,” pungkas Rivai. AFL

Pos terkait