Ketua WHDI Parmout Unjuk Kemampuan Menari

Leli Pariani (kiri) saat membawakan salah satu tarian sakral dalam gelaran ritual pemelastian, sebagai salah satu rangkaian menuju puncak proses persembahyangan. FOTO: IST.

PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – Ada yang menarik di sela-sela gelaran upacara Melasti di Pantai Segara Indah Desa Torue, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong (Parmout), Selasa (17/3/2026). Ketua Wanita Hindu Dharma (WHDI) Parmout, Ni Wayan Leli Pariani, unjuk skill menari, dengan menampilkan dua tarian sekaligus, yakni Tari Sumping Keladi dan Tari Pemendak Panca Warna.

“Kehadiran saya dalam tarian itu merupakan ungkapan terdalam saya, dalam mendukung berkembangnya budaya ataupun tradisi Bali di Parigi Moutong,” ujar Leli.

“Meskipun sudah cukup lama bertahan di tanah rantau, jangan kemudian melupakan akar asal, dan budaya leluhur,” tegas Leli yang juga Anggota DPRD Parmout.

Dua tarian tersebut disajikan Leli Pariani di hadapan ribuan umat Hindu yang bersiap mengikuti ritual upacara Melasti. Penampilan tersebut mendapatkan apreasiasi yang positif dari warga, bahkan disaksikan langsung dan diapreasi oleh Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI), I Made Astina.

Tari Sumping Keladi merupakan salah satu tarian sakral bagi Umat Hindu, yang bercerita tentang ketulusan hati dan kesetiaan dalam menjalani tradisi. Tarian ini merupakan wujud pengabdian suci, sering kali ditarikan oleh wanita tua, mencerminkan kerendahan hati dan kesetiaan yang mendalam. 

“Sedangkan Tari Pemendak Panca Warna, adalah tarian Bali yang melambangkan keharmonisan lima arah mata angin yang terpusat. tarian ini berfungsi sebagai simbol pemendak atau menjemput Ida Betara, atau roh suci, untuk turun ke bumi, memohon kedamaian, kesehatan, dan kerahayuan, sekaligus sebagai wujud pengabdian, ngayah spiritual dan adat para perempuan,” tutur Leli.

Leli juga mengungkapkan terima kasih kepada pelatihnya, Eva, yang disebut sudah mengorbankan waktu melatih para wanita yang tergabung dalam organisasi WHDI Kabupaten Parmout.

“Pada umumnya, memang kami menggelar tarian-tarian khusus yang berkaitan dengan ritual atau tarian sakral lainnya, sembari menunggu puncak upacara persembahyangan. Baik itu Melasti, kadang juga saat Hari Raya Galungan,” tutup Leli. MBH

Pos terkait