PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – Pemerintah Kabupaten Parigi Moutong (Pemkab Parmout) memperpanjang status siaga darurat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan hingga 7 Maret 2026. Kebijakan tersebut diambil sebagai langkah antisipatif menyikapi dinamika cuaca yang masih fluktuatif di sejumlah wilayah.
Keputusan tersebut ditetapkan dalam rapat koordinasi yang digelar di Ruang Crisis Center Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parmout, Kamis (26/2/2026).
Plt. Kepala BPBD Parmout, Rivai menegaskan perpanjangan status siaga darurat merupakan hasil evaluasi menyeluruh terhadap kondisi lapangan dan perkembangan informasi meteorologi. Menurutnya, situasi cuaca di Parmout saat ini masih menunjukkan perbedaan signifikan antarwilayah.
“Wilayah Utara curah hujannya masih relatif rendah. Sementara di wilayah Selatan justru cukup tinggi. Ini membuat kita harus waspada terhadap potensi karhutla dan kekeringan. Termasuk potensi banjir akibat intensitas hujan tinggi,” ujar Rivai.
Dengan perpanjangan status siaga darurat, seluruh perangkat daerah wajib meningkatkan patroli dan pemantauan di sejumlah wilayah rawan. Selain itu, memastikan kesiapan logistik dan sarana pendukung penanggulangan bencana. Termasuk kesiapan distribusi air bersih bagi masyarakat apabila terjadi kekeringan. Rivai berharap, sinergi seluruh pihak dapat terus diperkuat sebagai upaya pencegahan dan meminimalkan risiko bencana di wilayah Parigi Moutong.
Sementara Kepala Stasiun GAW Lore Lindu Bariri Palu, Asep Firman Ilahi dalam pemaparannya menjelaskan perkembangan kondisi cuaca di wilayah Sulteng, termasuk Parmout, sangat dipengaruhi oleh parameter atmosfer serta dinamika iklim regional yang saling berinteraksi.
Asep menguraikan, sejumlah faktor seperti suhu permukaan laut, kelembapan udara, arah dan kecepatan angin, tekanan udara, hingga aktivitas gelombang atmosfer turut menentukan pola pembentukan awan dan curah hujan di daerah tersebut.
Menurutnya, kondisi geografis Sulteng yang berada di wilayah kepulauan dengan topografi pegunungan dan perairan luas, menjadikan karakter cuacanya cenderung dinamis dan cepat berubah. Oleh karena itu, pemantauan parameter atmosfer secara berkala menjadi langkah penting untuk mendeteksi potensi cuaca ekstrem lebih dini.
Asep menegaskan, informasi meteorologi yang akurat dan terkini sangat dibutuhkan sebagai dasar pengambilan kebijakan, terutama dalam upaya mitigasi bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, maupun kekeringan.
“Saya meminta Pemerintah Daerah dan masyarakat agar terus memperhatikan pembaruan informasi cuaca. Ini penting guna meminimalisir risiko yang dapat ditimbulkan,” imbuh Asep.
Di kesempatan yang sama, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Mutiara Palu, Taufiq Hidayah turut memaparkan perkembangan prakiraan cuaca terkini, serta potensi curah hujan dalam beberapa pekan ke depan, berdasarkan analisis data observasi dan pemodelan atmosfer terbaru. Ia menjelaskan, dinamika cuaca di Sulteng saat ini menunjukkan adanya perbedaan distribusi hujan yang cukup signifikan antarwilayah.
Berdasarkan rilis Dasarian III dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang dipaparkannya, curah hujan di wilayah Utara Kabupaten Parigi Moutong diperkirakan berada pada kisaran 50–70 milimeter. Angka tersebut tergolong kategori rendah hingga menengah, sehingga masih menyisakan potensi hari tanpa hujan yang cukup panjang. Sedangkan wilayah Selatan Parigi Moutong justru mencatat curah hujan di atas normal, bahkan berpotensi mencapai 200 milimeter atau lebih dalam satu dasarian.
Menurut Taufiq, perbedaan kondisi tersebut tidak bisa dipandang secara terpisah, karena masing-masing memiliki konsekuensi risiko yang berbeda. Wilayah dengan curah hujan relatif rendah masih menghadapi ancaman kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan, terutama pada area dengan vegetasi kering dan lahan gambut.
“Sebaliknya, wilayah dengan curah hujan tinggi perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi banjir, genangan, tanah longsor, hingga kerusakan infrastruktur akibat intensitas hujan yang tinggi dalam waktu singkat. Kondisi tanah yang jenuh air juga dapat memperbesar risiko pohon tumbang dan erosi,” jelas Taufiq.
Ia menambahkan, selain faktor curah hujan, beberapa kawasan juga masih dipengaruhi angin kencang dan suhu udara yang relatif panas pada siang hari. Kombinasi faktor tersebut dapat memperparah dampak bencana hidrometeorologi jika tidak diantisipasi sejak dini. Karena itu, ia mengimbau Pemerintah Daerah, pelaku usaha, serta masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi dan melakukan langkah mitigasi sesuai karakteristik wilayah masing-masing. AFL
Sementara itu, karhutla yang terjadi di Desa Labuan Donggulu Kecamatan Kasimbar, Kabupaten Parmout, berhasil dipadamkan oleh tim gabungan pada Kamis (26/2/2026).
Peristiwa tersebut pertama kali dilaporkan pada Rabu (25/2/2026) malam dan langsung ditindaklanjuti oleh BPBD Parmout melalui Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops).
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala BPBD Parmout, Rivai menjelaskan bahwa kebakaran itu melanda lahan perkebunan warga dengan luas sekitar 2,5 hektare. Tanaman yang terdampak terdiri dari kelapa dan cengkeh.
“Kerja sama lintas sektor ini mempercepat proses pengendalian api. Alhasil, sekitar pukul 18.00 WITA, petugas gabungan melaporkan api sudah padam. Namun, kami tetap melakukan pemantauan intensif untuk memastikan kondisi benar-benar aman dan tidak ada potensi kebakaran susulan,” tutur Rivai. AFL






