PMI Parmout Butuh 9.000 Kantong Darah Per Tahun

Try Fadli

PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Parigi Moutong (Parmout) memprioritaskan program penyediaan darah sebagai agenda utama pada tahun 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk menjawab tingginya kebutuhan darah, dengan cakupan daerah terluas dan jumlah penduduk terbesar di Provinsi Sulteng.

Sekretaris PMI Parmout, Try Fadli menjelaskan, bahwa kebutuhan darah di Parmout sangat besar, yakni sedikitnya 9.000 kantong darah setiap tahunnya.

“Berdasarkan data terakhir dari Unit Transfusi Darah (UTD) Rumah Sakit Anuntaloko, pada 2025 kita hanya mampu menyediakan sekira 3.000 kantong darah. Artinya, baru sekira 29 persen dari total kebutuhan,” ungkap Fadli kepada Mercusuar, di Parigi, Jumat (27/2/2026).

Ia mengatakan, kondisi tersebut menjadi alasan utama PMI menjadikan program donor darah sebagai fokus utama tahun ini. Untuk meningkatkan capaian, PMI menggagas kerja sama dengan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Parmout. Pelaksanaannya akan dilakukan secara bergilir selama satu tahun, dengan target setiap OPD menyelenggarakan tiga kali kegiatan donor darah, yang dimulai pada Selasa (3/3/2026).

“Melalui kerja sama dengan OPD, kami berharap dapat membantu pelestarian donor darah. Sekaligus, menjadi bagian dari edukasi dan bentuk kepedulian pemerintah dalam membantu penyediaan stok darah bagi masyarakat luas,” ujar Fadli.

Selain bekerja sama dengan OPD, PMI Parmout juga berencana memperluas kegiatan donor darah hingga ke seluruh kecamatan di wilayah Parmout. Menurut Fadli, rencana tersebut membutuhkan dukungan sarana dan prasarana, salah satunya pembangunan Unit Donor Darah (UDD) PMI.

Menurutnya, keberadaan UDD PMI sangat penting untuk memperluas jangkauan pelayanan. Dengan adanya unit tersebut, PMI dapat menyuplai darah hingga ke wilayah terjauh, termasuk ke Rumah Sakit Buluye Napoa’e Moutong.

“Selama ini, kita hanya memiliki satu unit transfusi darah yang melekat di Rumah Sakit Anuntaloko. Kalau PMI punya UDD sendiri, cakupan pelayanan akan lebih luas dan bisa membantu semua rumah sakit maupun layanan kesehatan terpadu di wilayah Parmout,” kata Fadli.

Selain itu, lanjutnya, PMI Parmout juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk menjadwalkan kegiatan donor darah di tingkat kecamatan.

Fokus besar terhadap program donor darah tersebut, lanjut Fadli, bukan tanpa alasan. Sebab, tingginya angka kebutuhan darah di daerah berkaitan dengan berbagai kasus medis, terutama angka kematian ibu dan anak serta kasus anemia.

“Ini bukan hanya pekerjaan dan tanggung jawab PMI, tapi pemerintah secara umum. Karena ini bagian dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) pemerintah. PMI hadir untuk membantu pelayanan dalam menunjang kebutuhan darah di setiap fasilitas kesehatan,” tutur Fadli.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan, Fadli berharap berharap kesadaran masyarakat untuk mendonor darah semakin meningkat. Sehingga, kebutuhan darah di Kabupaten Parmout dapat terpenuhi secara optimal.

“Kalau ke depan PMI sudah memiliki UUD, otomatis sumber daya akan berkembang dan pelayanan untuk satu kabupaten bisa lebih dimaksimalkan. Untuk sementara, kami tetap berkolaborasi dengan Dinas Kesehatan dan Rumah Sakit Anuntaloko dalam pelaksanaan program donor darah. Mengingat, tenaga teknis masih berada di rumah sakit tersebut,” pungkas Fadli. AFL

Pos terkait