PARIGI MOUTONG, MERCUSUAR – Kepala SMK Muhammadiyah Siney, Isnaeni membantah tuduhan melakukan upaya manipulasi dana Praktik Kerja Lapangan (PKL) murid, dengan memalsukan dokumen Laporan Pertanggungjawaban (LPj).
“Beragam dugaan yang dilayangkan, salah satunya terkait LPj yang dipalsukan tidak benar. Melainkan LPJ sudah disusun sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tegasnya kepada Mercusuar, Selasa (7/4/2026).
Dia menambahkan, foto murid memegang amplop yang berisi uang adalah sebagai dokumentasi LPj, dengan penggunaan uang tersebut diatur oleh panitia PKL untuk kebutuhan makan minum murid bersangkutan selama kegiatan PKL.
Isnaeni menjelaskan, uang tersebut bukan berbentuk uang saku yang dimaknai dapat digunakan oleh murid untuk keperluan yang bebas.
Selain itu, ia juga membantah tudingan pengeluaran kebutuhan harian murid yang menggunakan uang pribadi lalu didokumentasikan seolah dibiayai oleh sekolah. Proses itu, menurutnya, tidak terdapat dalam LPj yang disusun.
Selain itu, tuduhan lainnya yang beredar di publik bahwa terjadi krisis makanan, bahkan ada murid yang mengaku pernah tidak makan semalaman dan hanya berbagi mi instan, menurut Isnaeni adalah pernyataan yang keliru. Faktanya, kata dia, panitia PKL selalu memberikan uang belanja kepada salah seorang murid yang dipercayakan untuk mengelola kebutuhan makan dan minum selama PKL.
“Sementara saat panitia PKL berkunjung melihat kondisi murid juga, untuk memastikan agar kebutuhan makan minum terepenuhi dengan baik, dan segala bentuk kegiatan proses PKL murid bisa berjalan lancar,” ungkapnya.
Meski begitu, Isnaeni tidak menampik adanya informasi bahwa murid diminta untuk membawa beras selama proses PKL. Hal itu telah menjadi bagian dari kesepakatan antara pihak sekolah bersama murid, yang diketahui oleh para wali murid.
Upaya tersebut, tambahnya, adalah upaya dan bentuk kepedulian dari para orang tua untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya dalam mengikuti PKL, meskipun pihak sekolah telah menjanjikan semua kebutuhan akan ditanggung.
“Ada murid disebut terpaksa bekerja membuat batako demi makan, ini juga keliru, karena fakta sesungguhnya peristiwa ini terjadi atas kemauan murid sendiri tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Murid membuat batako bersama pamannya di hari libur, dan mendapatkan uang jajan tambahan,” beber Isnaeni.
“Semuanya akan saya susun dalam bentuk laporan, termasuk beberapa fakta yang saya temukan di lapangan, yang akan saya serahkan ke Pimpinan Daerah Muhammadiyah Parigi Moutong, dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulteng,” tutupnya. MBH






