Oleh: Jefrianto (Wartawan Mercusuar)
Deru mesin Vespa tua memecah kesunyian jalanan desa. Motor klasik itu bukan sekadar melintas, melainkan berhenti di titik-titik yang jarang tersentuh fasilitas publik. Di atas roda besinya, ratusan buku ikut menumpang, menghadirkan harapan akan tumbuhnya minat baca di tengah masyarakat.
Inilah Vespa Literasi, sebuah gerakan lapak baca keliling yang memanfaatkan motor Vespa tua sebagai sarana edukasi. Digagas oleh Basrul Idrus, gerakan ini secara khusus menjangkau desa-desa di wilayah Kabupaten Parigi Moutong yang belum memiliki perpustakaan atau taman baca, sekaligus menjawab keterbatasan akses literasi di wilayah tersebut.
Berbasis di Kompleks Pasar Baru, Desa Bambalemo, Kecamatan Parigi, Kabupaten Parigi Moutong, Vespa Literasi menjadikan ruang sederhana itu sebagai sekretariat sekaligus titik konsolidasi. Dari sanalah buku-buku dihimpun, rute disusun, dan Vespa tua disiapkan untuk kembali menyusuri jalanan.
“Di banyak desa, anak-anak nyaris tidak pernah berjumpa dengan buku bacaan,” ujar Basrul.
Keresahan itu pula yang mendorong lahirnya Vespa Literasi, sekaligus menantang stigma terhadap komunitas Vespa klasik yang kerap dipandang sebelah mata. Baginya, Vespa tua tidak sekadar hobi, tetapi juga bisa menjadi kendaraan perubahan sosial.
Motor Vespa yang digunakan telah dimodifikasi agar mampu membawa penumpang di samping sekaligus mengangkut puluhan hingga ratusan buku bacaan. Namun, perjuangan ini tidak selalu berjalan mulus. Keterbatasan dana membuat mereka kerap patungan untuk membeli bahan bakar. Buku-buku lapak baca dikumpulkan melalui berbagai cara, meminjam, membeli buku diskon, hingga menerima donasi dari masyarakat.
Sulitnya akses bantuan pemerintah akibat persoalan administrasi dan legalitas komunitas membuat Vespa Literasi hingga kini mengandalkan usaha mandiri dan jejaring solidaritas antar komunitas.
Setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu, tak kurang dari seratus buku dibawa menuju lokasi lapak baca. Jenisnya beragam, mulai dari buku cerita anak, bacaan ringan, hingga buku pengetahuan. Lapak baca ini tidak hanya hadir di pusat keramaian, tetapi secara konsisten menyambangi desa-desa yang tidak memiliki fasilitas literasi formal.
Salah satu perjalanan itu dilakukan pada 12 Desember 2025, ketika Vespa Literasi bergerak menuju Desa Gangga, sebuah desa di Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah, yang berada di kaki bukit sebelah selatan Kota Parigi.
Sepanjang perjalanan, rombongan Vespa Literasi disambut hangat oleh warga. Senyum, tawa, dan lambaian tangan menjadi penyemangat. Di tengah perjalanan, Vespa tua sempat mogok. Kendala teknis tersebut tak menyurutkan langkah. Basrul dan rekan-rekannya berhenti sejenak, memperbaiki kendaraan seadanya, lalu kembali melanjutkan perjalanan.
Lelah sepanjang jalan terbayar saat rombongan tiba di Desa Gangga. Anak-anak berlarian mendekat, mengerubungi Vespa antik yang membawa buku-buku bacaan. Saat lapak digelar, mereka bebas memilih buku sesuai minat. Meski belum semua mampu memahami isi bacaan, ketertarikan mulai tumbuh, melalui gambar, teks ringan, dan kebiasaan membaca yang perlahan terbentuk.
Bagi Vespa Literasi, antusiasme anak-anak adalah ukuran keberhasilan. Mogok di jalan bukanlah kegagalan, melainkan bagian dari proses. Selama masih ada desa tanpa perpustakaan dan anak-anak yang menunggu buku, Vespa tua itu akan terus bergerak, pelan, sederhana, namun konsisten.
Di setiap deru mesinnya, Vespa Literasi membawa satu mimpi yang sama, membangun minat baca dari jalanan, melalui lapak baca keliling, dengan Vespa tua sebagai penggeraknya.***






