Fakultas Teknik Untad, Gelar Kuliah Perdana Bersama BMKG

Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) mengawali perkuliahan semester genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan menggelar kuliah perdana menghadirkan BMKG Stasiun Kelas II Mutiara SIS Al Jufrie Palu, Senin (2/2/2026). FOTO: MISBACH/MS

TONDO, MERCUSUAR – Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) mengawali perkuliahan semester genap Tahun Akademik 2025/2026 dengan menggelar kuliah perdana menghadirkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Kelas II Mutiara SIS Al Jufrie Palu, Senin (2/2/2026).
Kuliah perdana ini menghadirkan Kepala Stasiun BMKG Palu, Taufiq Hidayah, S.Si., M.Si, sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Tantangan Bencana Hidrometeorologi dan Peran BMKG dalam Deteksi Peringatan dan Mitigasi”. Kegiatan berlangsung secara hybrid di Gedung Dekanat Fakultas Teknik Untad.
Dekan Fakultas Teknik Untad, Dr. Andi Arham Adam, S.T., M.Sc.(Eng)., Ph.D, mengatakan kuliah tamu tersebut menjadi momentum awal penerapan pembelajaran kontekstual, di mana mahasiswa memperoleh pemahaman langsung dari lembaga teknis yang berwenang di bidang kebencanaan.
“Mata kuliah mitigasi bencana merupakan mata kuliah wajib di Fakultas Teknik. Karena itu, kuliah perdana ini menjadi bagian penting dalam memperkuat pemahaman mahasiswa tentang kebencanaan secara aplikatif,” ujar Andi Arham, Selasa (3/2/2026).
Ia menjelaskan, dalam pemaparannya, BMKG menyampaikan berbagai informasi terkait karakteristik bencana hidrometeorologi yang kerap terjadi di Indonesia, seperti banjir, cuaca ekstrem, angin kencang, dan kekeringan. Jenis bencana tersebut sangat dipengaruhi oleh dinamika iklim dan kondisi geografis wilayah.
“Paparan yang disampaikan secara lugas oleh narasumber yang berpengalaman menjadi momen berharga bagi sivitas akademika Fakultas Teknik,” tambahnya.
Andi Arham juga menekankan peran strategis BMKG sebagai lembaga resmi penyedia data dan informasi meteorologi, klimatologi, dan geofisika, yang menjadi dasar sistem peringatan dini (early warning system) serta mitigasi bencana berbasis sains.
“Informasi cuaca dan iklim yang akurat merupakan kunci menurunkan risiko bencana, terutama jika dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat,” ujarnya.
Dengan kondisi geografis Sulawesi Tengah yang memiliki banyak sungai serta kerentanan terhadap cuaca ekstrem, menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi kebutuhan mendesak dalam pengurangan risiko bencana. Perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung upaya tersebut melalui riset, pendidikan, dan pengabdian masyarakat.
Kuliah tamu ini diikuti oleh para wakil dekan, ketua jurusan, koordinator program studi, dosen pengampu, serta mahasiswa dari delapan program studi di Fakultas Teknik Untad yang menyelenggarakan Mata Kuliah Mitigasi Bencana pada semester genap 2025/2026.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa teknik diharapkan tidak hanya memahami kebencanaan secara teoritis, tetapi juga mampu membaca data cuaca dan iklim secara kritis, memahami sistem peringatan dini, serta mengaitkannya dengan perencanaan teknis dan mitigasi risiko di lapangan.
“Harapannya, mahasiswa yang telah mendapatkan bekal ilmu kebencanaan ini dapat menjadi agen edukasi mitigasi bencana di masyarakat,” pungkas Andi Arham. MBH

Pos terkait