Implementasi KBC, Terapkan Pembelajaran Humanis

Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Sulteng, Muh. Syamsu Nursi (ketiga dari kiri) saat menyampaikan arahan pada kegiatan Implementasi dan Penguatan KBC di MTsN 1 Banggai, Kamis (5/3/2026). FOTO: IST.

BANGGAI, MERCUSUAR – Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulteng, H. Muh. Syamsu Nursi mengingatkan seluruh satuan pendidikan madrasah untuk dapat mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), sebagai bagian dari instruksi Menteri Agama RI.

Terkait hal itu, Syamsu menekankan nilai-nilai pembelajaran yang humanis terus ditekankan dalam pendidikan madrasah, termasuk penguatan moderasi beragama serta pembentukan karakter peserta didik.

“Penanaman nilai-nilai humanis, moderasi beragama dan penguatan karakter harus terus kita tanamkan kepada peserta didik. Sikap saling menghargai dan mencintai lingkungan madrasah menjadi bagian penting yang perlu kita tonjolkan,” ujar Syamsu Nursi pada kegiatan Implementasi dan Penguatan KBC, di MTsN 1 Banggai, Kamis (5/3/2026).

Ia menjelaskan dalam penerapannya, peran guru menjadi sangat penting sebagai ujung tombak dalam proses pendidikan. Guru diharapkan mampu menyampaikan materi pembelajaran dengan pendekatan yang penuh kasih sayang, dan menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi peserta didik.

“Dalam Kurikulum Berbasis Cinta, guru dituntut menyampaikan materi pembelajaran dengan pendekatan yang penuh rasa, hangat dan menyenangkan, sehingga peserta didik dapat belajar tanpa rasa takut selama proses pembelajaran di kelas,” jelas Syamsu.

Sementara itu, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Banggai, H. Suardi Kandjai menyampaikan program KBC menitikberatkan pada tiga pilar utama, yakni nilai kasih sayang, toleransi dan empati sebagai fondasi dalam membangun lingkungan pendidikan yang harmonis dan berkarakter.

Menurutnya, nilai-nilai tersebut sangat penting untuk ditanamkan dalam proses pendidikan agar tercipta suasana belajar yang damai, saling menghargai, serta jauh dari konflik di lingkungan sekolah.

“Nilai-nilai dalam Kurikulum Berbasis Cinta ini sangat luar biasa. Artinya, apabila dalam sebuah satuan kerja nilai cinta dan kasih sayang benar-benar diwujudkan, maka tidak akan ada permusuhan yang terjadi di dalamnya,” ujar Suardi.

Ia juga menegaskan, implementasi KBC tidak hanya diperuntukkan bagi peserta didik, tetapi juga harus menjadi budaya bagi para tenaga pendidik di lingkungan sekolah.

“Saya mengharapkan perwujudan Kurikulum Berbasis Cinta ini tidak hanya berlaku bagi siswa, tetapi juga harus diterapkan oleh para guru. Dengan begitu, seluruh ekosistem pendidikan dapat berjalan secara humanis, inklusif dan ramah anak,” tandasnya. */IEA

Pos terkait