Kabur Tiga Hari, Anak Binaan LPKA Palu Kembali Tertangkap

PETOBO, MERCUSUAR – Usai kabur selama tiga hari, satu orang Anak Binaan atau Anak Berhadapan Hukum (ABH) yang masih berstatus tahanan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas II Palu, kembali tertangkap dan dikembalikan lagi ke dalam blok hunian LPKA Palu, Rabu (15/2/2023) pagi.

Penangkapan tersebut dilaksanakan oleh Tim Pencari LPKA Palu, yang dipimpin oleh Kepala LPKA Palu, Revanda Bangun dan Koordinator Lapangan, Antonius Andri, yang bekerja sama dengan Kepolisian Sektor (Polsek) Palu Barat, serta masyarakat sekitar Perumahan BTN Citra Banua Nagaya, Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, tempat anak tersebut ditemukan.

“Kronologisnya, anggota kami yang bertugas sejak tadi malam di sini, menaruh curiga pada salah seorang yang dianggap adalah anak yang dicari tersebut. Lantas, anggota kami mencoba berpura-pura menanyakan alamat rumah dan belum selesai bertanya, anak tersebut mengelak tidak tahu dan mencoba untuk menjauhi petugas kami. Melihat gelagat itu, petugas kami itu mencoba mendekati anak dan anak itu pun lari, reflek petugas kami mengejarnya dan berhasil menangkapnya,” jelas Andri di lokasi kejadian.

Sebelum tertangkap, sekitar pukul 04.00 Wita, diketahui anak berinisial MW umur 17 tahun tersebut, terlebih dahulu terlibat melakukan aksi pencurian pada rumah salah seorang warga, dengan dibantu oleh tiga orang temannya.

“Jadi, salah satu faktor susahnya menemukan keberadaan anak ini, adalah ada teman dan orangtua dari teman-temanya membantu anak tersebut bersembunyi. Kami pun beberapa kali telah menginterogasi mereka dan hasilnya membuat kami menambah personil, untuk memantau setiap rumah dari temannya. Hasilnya sekarang, kami akan turut mengupayakan tindakan hukum bagi mereka yang tidak koperatif, ini masuk unsur pidana yah karena menyembunyikan pelaku tindak kejahatan,” jelasnya.

Senada dengan itu, Revanda juga menjelaskan, sejak kabur pada 13 Februari dini hari, dirinya bergerak cepat membentuk tim pencari yang dihuni oleh perwakilan jajaran Satuan Kerja Divisi Pemasyarakatan se-Kota Palu dan bersinergi bersama dengan TNI/Polri serta berbagai tokoh masyarakat di Kota Palu untuk mencari keberadaan MW.

“Sejak diketahui lari, kami langsung membentuk tim pencari dan bersinergi dengan pihak TNI/Polri, serta berbagai tokoh masyarakat di sejumlah wilayah di Kota Palu, serta Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong, yang diduga tempat anak bersembunyi,” terang Revanda.

Lebih lanjut, ia pun menjelaskan, pihaknya segera melakukan pemeriksaan terkait proses pelarian tersebut. Kata dia, selain struktur bangunan yang jauh dari kesan penjara membuat anak yang masih baru berstatus sebagai tahanan, melihat peluang dan menjadi nekat untuk melakukan pelarian, faktor kerinduan terhadap keluarga juga menjadi dugaannya.

“Bangunan kami ini jauh sekali bedanya dari lapas dewasa. Tembok dan kamar huniannya seperti rumah pada umumnya, jadi mudah bagi anak untuk melompat keluar. Tapi, yang jelas faktor-faktor penyebab pelarian akan kami telisik lebih dalam, yaa tujuannya adalah untuk mengoptimalkan proses pembinaan kami,” tutupnya. */JEF

Pos terkait