TONDO, MERCUSUAR – Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Kota Palu menyayangkan karena tidak melaksanakan seleksi Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Kota Palu. Padahal ajang sangat penting untuk mencari bakat para siswa di sekolah masing-masing.
Sebelumnya dua tahun terakhir memang pemerintah tidak melaksanakan seleksi O2SN dan FLS2N tingkat Kota Palu karena masih dalam masa pandemi, namun tahun ini kembali terulang sementara pemerintah sudah melonggarkan aturan Covid-19. Pihak sekolah hanya meminta kepada pihak MKKS SMA Kota Palu untuk memilih langsung para siswa yang akan mengikuti O2SN dan FLS2N Kota Palu ke tingkat provinsi.
“Dengan adanya aturan untuk pemilihan langsung, maka akan menjadi polemik bagi seluruh pengurus MKKS SMA Kota Palu karena banyak orang tua, pelatih maupun sekolah yang complain karena pemilihan terkesan tidak profesional sebab tidak melaksanakan seleksi terlebih dahulu. Sementara untuk melaksanakan seleksi O2SN dan FLS2N membutuhkan dana, sementara saat ini seluruh sekolah tidak memiliki dana, karena sudah tidak ada komite dari orang tua,” kata Ketua MKKS SMA Kota Palu, Salim, Kamis (30/6/2022).
Menurutnya aturan pemilihan langsung para siswa yang akan tampil di tingkat provinsi merupakan aturan dari Kepala Cabang Dinas Wilayah 1 Kota Palu dan Sigi, makanya aturan tersebut sudah mereka ikuti, ternyata dari penetapan para siswa tersebut banyak yang tidak setuju, karena ada pihak-pihak merasa ada banyak siswa yang bisa diangkat, sementara yang dipilih hanya satu orang dari masing-masing cabang lomba.
“Kami hanya menyayangkan kepada pihak penyenggara mengapa mereka tidak bisa melaksanakan seleksi di tingkat Kota Palu. Padahal sekolah sangat membutuhkan ajang seperti itu untuk pengembangan bakat para siswa. Mereka juga bisa melihat sejauh mana prestasi yang bisa diraih para siswa. apalagi ajang tersebut bisa membawa para siswa hingga ke tingkat nasional jika bisa meraih juara satu di setiap tingkatan,”terangnya.
Ia mengatakan jika pemilihan langsung seperti ini wajar jika ada banyak orang tua, pelatih maupun sekolah yang protes karena tidak ada proses penyeleksian.
“Semoga ini bisa menjadi pelajaran kita bersama agar kedepannya tidak ada lagi persoalan seperti ini karena sangat merugikan para atlet yang ada di sekolah masing-masing. Sementara mereka juga sudah melaksanakan bimbingan dan pelatihan secara rutin dan tentunya mereka juga sudah mengeluarkan dana untuk pengembangan bakat para siswa di sekolah,” tutupnya. UTM