DONGGALA, MERCUSUAR – Sejumlah dosen dari perguruan tinggi negeri maupun swasta di Sulteng menjalankan program pengabdian kepada masyarakat, yakni Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didukung penuh oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi RI.
Salah satunya, program kolaborasi antara dosen Universitas Tadulako (Untad) dan Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu, dengan tim pelaksana pengabdian terdiri dari Dr. Hendra Pribadi, S.P., M.P. dari Fakultas Kehutanan Untad sebagai ketua, dengan anggota Dr. Jusman, S.Si., M.Si., dan Dra. Herlina Yusuf, M.Kes.
Adapun tema yang diusung tim tersebut adalah pengembangan usaha kelompok pengrajin tenun kain Donggala melalui diversivikasi pewarnaan alami berbasis daun untuk meningkatkan kualitas produk, di Desa Limboro Kecamatan Banawa Tengah Kabupaten Donggala, belum lama ini.
Ketua Tim, Dr. Hendra Pribadi, S.P., M.P. menjelaskan, latar belakang tema PKM tersebut adalah masih banyaknya kelompok penenun yang menggunakan pewarna tekstil. Hal itu, kata dia, dapat menimbulkan efek berbahayan bagi kesehatan, khususnya kesehatan kulit. Selain itu, proses tenun kain Donggala cukup lama, dengan produk dihasilkan dalam kurun 25—30 hari.
“Melalui program ini kami berupaya menghadirkan inovasi teknologi yang tetap menjaga nilai tradisional tenun Donggala. Dengan penggunaan alat tenun, pewarna alami berbasis daun, serta penggulung benang menggunakan mesin, kami ingin memastikan para penenun di Desa Limboro dapat meningkatkan produktivitas tanpa meninggalkan kearifan lokal,” tutur Hendra.
“Harapan kami, kegiatan ini tidak hanya memberi manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat identitas budaya masyarakat,” sambungnya.
Anggota tim, Dr. Jusman, S.Si., M.Si. menambahkan, kegiatan tersebut menjadi salah satu bukti pemberdayaan masyarakat dapat berjalan efektif ketika dilaksanakan secara kolaboratif.
“Antusiasme ibu-ibu penenun dalam mengikuti pelatihan teknis maupun nonteknis sangat luar biasa. Kami melihat adanya perubahan positif, baik dari sisi keterampilan maupun semangat mereka untuk terus berkarya. Ke depan, kami berharap kelompok tenun di Desa Limboro dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam mengembangkan usaha berbasis potensi lokal,” ujar Jusman.
Sementara anggota lainnya, Dra. Herlina Yusuf, M.Kes. menyebutkan, salah satu aspek yang perlu diperhatikan terkait pengembangan kelompok usaha yang mandiri, adalah teknologi tenun untuk mempercepat produksi dan kualitas produk.
Selain itu, masalah manajenan dan pengorganisasian kelompok juga perlu mendapat perhatian. Olehnya itu, dalam program PKM tersebut dilaksanakan pelatihan teknis dan nonteknis.
“Pelatihan teknis berorientasi pada peningkatan produksi, sedangkan pelatihan nonteknis berorientasi pada manjemen dan pemasaran produksi,” jelas Herlina.
Pada pelatihan teknis, tim pengabdian menghadirkan Slamet sebagai narasumber. Pada pelatihan tersebut ia menyampaikan kelompok penenun di Desa Limboro mendapatkan kesempatan spesial, karena tidak semua penenun di Donggala mendapatkan program tersebut.
“Olehnya, diharapkan peserta pelatihan mampu menerapkan atau mempraktikkan apa saja yang telah dilatih dalam pembuatan tenun kain Donggala, sehingga kemandirian kelompok terbangun dalam menggunakan pewarnaan alami,” kata Slamet.
Sementara narasumber nonteknis, Muhammad Jufri mengatakan program pengabdian tersebut merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat. Sehingga, peran serta para peserta usai mengikuti pelatihan sangat diharapkan. Yakni dengan berani mencoba atau mempraktikkan penggunaan pewarna alami dalam usaha kain tenun.
“Kalau kelompok tidak berani berbuat, maka ketergantungan kepada orang lain terjadi, sehingga kelompok tidak mandiri. Karna menurut Pak Slamet (narasumber teknis), sebagaian peserta sudah dilatih di tingkat provinsi tapi masih belum berani membuat sendiri. Melalui program PKM ini, peranan kegiatan nonteknis sangat penting, karena kelembagaan kelompok sangat penting. Tanpa penguatan kelompok, maka teknologi tidak akan berfungsi dan tidak akan memberi manfaat bagi mitra,” tutur Jufri. */IEA