BIROBULI UTARA, MERCUSUAR — Yayasan Sikola Mombine menggelar pelatihan business plan bagi empat koperasi konsumen inklusi di Sulawesi Tengah sebagai upaya memperkuat kapasitas pengelola koperasi dalam mengembangkan usaha secara berkelanjutan.
Pelatihan berlangsung selama dua hari, 5–6 Oktober 2026, di Hotel Sutan Raja Palu. Kegiatan tersebut diikuti perwakilan empat koperasi konsumen inklusi, masing-masing delapan peserta. Tiga koperasi berasal dari tiga kecamatan di Kabupaten Sigi, sementara satu koperasi merupakan koperasi konsumen tingkat provinsi yang berada di Kota Palu.
Program tersebut dilaksanakan Yayasan Sikola Mombine bersama Arbeiter-Samariter-Bund (ASB) South East Asia, dengan dukungan dan kerja sama pemerintah serta BMZ melalui program PAKAGASI yang dilaksanakan di Kabupaten Sigi.
Program Manager Yayasan Sikola Mombine, Muh Taufik Hidayat, mengatakan penyusunan business plan penting dilakukan karena aktivitas usaha koperasi yang didampingi telah berjalan hampir dua tahun.
“Walaupun aktivitas koperasi ini sudah berjalan hampir dua tahun, penting bagi kita untuk melihat kembali arah pengembangan usaha ke depan. Koperasi perlu memiliki business plan agar dapat melihat peluang unit usaha lainnya maupun merencanakan pengembangan usaha baru,” ujar Taufik.
Menurutnya, pengalaman koperasi selama menjalankan kegiatan usaha dapat menjadi dasar untuk menyusun strategi pengembangan bisnis yang lebih realistis dan sesuai dengan kebutuhan anggota serta potensi pasar.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan pada sejumlah komponen penyusunan business plan, mulai dari pemetaan kondisi usaha, identifikasi kebutuhan dan peluang pasar, pengembangan produk atau unit usaha, strategi pemasaran hingga perencanaan keuangan.
Taufik berharap pelatihan tidak berhenti pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga mendorong pengurus dan anggota koperasi mengambil keputusan usaha secara lebih strategis.
“Dengan perencanaan yang baik, koperasi diharapkan tidak hanya mampu mempertahankan aktivitas usaha yang sudah berjalan, tetapi juga memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai peluang usaha baru di masa mendatang,” katanya.
Selama pelatihan, peserta juga berdiskusi dan berbagi pengalaman mengenai kondisi usaha masing-masing koperasi. Hasil pembahasan tersebut diarahkan menjadi gagasan pengembangan usaha yang dapat diterapkan sesuai karakteristik dan potensi masing-masing koperasi.
Yayasan Sikola Mombine berharap pelatihan tersebut menjadi langkah awal bagi empat koperasi konsumen inklusi untuk memiliki business plan yang aplikatif dan berkelanjutan, sehingga koperasi dapat terus memberikan manfaat ekonomi bagi anggota dan masyarakat. */JEF






