PALU, MERCUSUAR- Kota Palu, mendapat kehormatan untuk dapat hadir dan berbicara pada session Paralel Forum bagi para pemangku kepentingan. Side Event tersebut membincang peningkatan implementasi lokal, pada kerangka kerja Senday untuk penanggulangan risiko bencana.
Acara itu masih merupakan rangkaian acara Global Platform Disaster Risk Reduction (GPDRR) ke- 7 yang digelar oleh UNHCR dan dihadiri 6.000 partisipan dari 193 negara.
Sekretaris Kota (Sekkot) Palu Irmayanti Pettalolo yang merupakan salah satu aktor kunci dan terlibat aktif sejak masa tanggap darurat kebencanaan hingga sampai saat ini, menjadi pembicara mewakili Pemerintah Kota Palu.
Dia menekankan tentang pentingnya kepedulian dan kolaborasi antar aktor yang harus saling terjaga dalam penanganan bencana.
Sekkot membungkus penanganan bencana dimaksud, dalam idiom lokal ‘nosiala pale’, atau saling bergandengan tangan. Idiom itu dimaknai saling membantu tanpa memandang herarkis sosial dan ekonomi, serta saling memberikan investasi khususnya dalam peningkatan ketahanan komunitas di tingkat lokal.
Sekkot hadir dan berdiskusi bersama para aktor dan mitra lokal lainnya yang diundang oleh UNHCR untuk saling berbagi pengalaman dan pembelajaran, dalam memahami peran kemitraan untuk adaptasi lokal secara efektif dan berkeadilan, khususnya pada isu pengurangan risiko bencana dan perubahan iklim.
Kehadiran Kota Palu untuk saling berbagi dalam menghadapi ancaman perubahan iklim dan krisis saat bencana, dengan mendorong masyarakat lokal dalam berinovasi mengatur dan merencanakan strategi guna pengurangan risiko bencana, sehingga tercipta pembangunan yang tangguh.
Kemampuan menemukenali permasalahan secara tepat pada masa bencana, kemudian dikaitkan dengan implementasi kebijakan global seperti senday framework dan SDGs adalah hal unik yang dipaparkan oleh Kota Palu.
Pada pertemuan tersebut didalami menyangkut bagaimana mengalola para pemangku kepentingan lokal dan lembaga donor, sehingga dapat mengkatalisasi adaptasi yang efektif, adil dan transparan, khususnya bagi kaum perempuan serta anak di Kota Palu.
Diskusi yang dilakukan bertujuan untuk memperoleh insight dalam mempercepat implementasi Senday Framework, khususnya bagi kaum perempuan dan anak. Selain itu, diskusi juga diarahkan untuk berbagai tantangan dan peluang untuk merajut kemitraan dengan masyarakat, organisasi lokal, pemerintah daerah, dan kelembagaan keuangan untuk mempercepat implementasi senday frameworks, serta mengidentifikasi berbagai titik masuk secara langsung untuk saling berkolaborasi. WAN/*