Kondisi Mahasiswa Asal Sulteng di Sudan Pascakudeta, Internet Diblokir, ‘Berburu’ Wi-fi Hingga ke Bandara

  • Whatsapp
HLL-35a8f479

PALU, MERCUSUAR – Kondisi keamanan di Sudan beberapa hari terakhir tidak menentu, akibat gerakan demonstrasi ribuan warga sipil menentang kudeta militer, setelah Jenderal Abu Fattah membubarkan pemerintah, menyatakan keadaan darurat dan menahan para pemimpin sipil Sudan.

Setidaknya belasan pendemo dilaporkan tewas, hingga demo besar-besaran yang dilakukan pada Sabtu 30 Oktober 2021.

Terkait hal tersebut, salah seorang mahasiswa Indonesia asal Kota Palu (Sulteng), Hajir Ahmad melaporkan, bahwa kondisi di Sudan khususnya di Ibukota Khartoum mulai berangsur kondusif, karena demonstrasi pada Sabtu akhir pekan kemarin merupakan demonstrasi yang terakhir.

Namun, Hajir mengungkapkan, jaringan internet yang diputus sejak tanggal 25 Oktober 2021 masih belum dapat diakses sepenuhnya. Kondisi tersebut menurutnya, sangat berdampak terhadap warga, terutama mahasiswa internasional yang sedang kuliah di Sudan.

“Alhamdulillah kemaren sabtu demo terakhir, tapi akses internet masih diputus. Tanggal 25 (Oktober 2021) itu mati seharian, terus tanggal 26 sore sempat dinyalakan, terus mulai tanggal 27 sampai sekarang dimatiin lagi,” kata Hajir, melalui aplikasi WhatsApp kepada media ini, Selasa (2/11/2021).

Bahkan, tutur Hajir, sebelumnya jaringan telepon dan layanan pesan singkat SMS juga diblokir. Sehingga, para mahasiswa internasional di Sudan, khususnya asal Indonesia, kesulitan untuk memberikan kabar kondisi terkini kepada keluarga.

“Di awal demonstrasi tidak ada internet, telepon dan SMS biasa pun tidak bisa. Pokoknya diputus total semua jaringan. Kalau kondisi sekarang masih bisa telepon biasa, SMS biasa, masih bisa berkabar walaupun berkabar ke Indonesia masih agak susah. Tapi kalau berkabar antarteman di Sudan menggunakan nomor Sudan masih nyambung,” ujar Hajir.

Mahasiswa International University of Africa ini menuturkan, untuk dapat mengakses jaringan internet di tengah situasi yang berangsur kondusif, ia bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya mulai berinisiatif untuk mencari akses wi-fi.

“Mulailah berburu wifi, awalnya di lingkungan kampus, sampai ada beberapa mahasiswa asal Afrika yang berupaya membobol wifi. Kita mahasiswa Asia ikut-ikut saja, tapi masih susah karena banyak yang mengakses,” kata Hajir.

Setelahnya, beberapa mahasiswa asal Indonesia kemudian berinisiatif untuk mengakses jaringan internet di Kantor Kedutaan Besar RI (KBRI) di Khartoum, yang memang memfasilitasi wi-fi bagi mahasiswa Indonesia.

Baca Juga