Astra Agro Lestari Lahirkan Miliarder di Donggala

  • Whatsapp

Notice: Trying to get property 'post_excerpt' of non-object in /home/mercusua/public_html/assets/themes/bloggingpro-child/template-parts/content-single.php on line 81

Menurutnya, dari hasil penjualan buah sawit anggota kelompoknya, selalu disisihkan satu persen untuk berbagai kegiatan kelompoknya.

“Petani di sini sekarang sangat gampang untuk beli motor. Juga kebanyakan sudah punya mobil. Semua itu karena hasil dari menjadi petani sawit,” kata lelaki berusia 53 tahun itu.

Mana yang lebih menjanjikan, menjadi petani sawit atau hasil kios? Bintoro hanya tertawa lepas. Menjadi petani sawit tentu saja lebih menggiurkan. Kemudian, menanam sawit juga tidak ribet seperti menanam cokelat atau tanaman lainnya.

“Menanam sawit tidak rumit. Ketika sudah panen, buahnya disimpan di pinggir jalan saja sudah laku terjual. Dibandingkan cokelat, misalnya, hasil panen harus dijemur dulu dan lainnya,” katanya lalu tersenyum simpul.

Merantau Bermodal Rp 5 Juta

Bintoro merantau ke Palu bulan Juli 1994. Ketika Lalundu dibuka sebagai daerah transmigrasi, ia pun hijrah ke Lalundu. Di sana ia membuka kios menjual onderdil sepeda dengan modal Rp 5 juta.

Ia bercerita begitu susahnya menuju Lalundu. Belum ada jalan. Dari Donggala harus naik motor laut ke Tike.

Kemudian, daerah Lalundu kerap kali dilanda banjir. Hujan sebentar saja, pasti banjir. Kondisi itu, membuat para transmigran tidak betah.

Mereka satu-satu meninggalkan tempat, pulang ke daerah asalnya. Karena kurang biaya untuk pulang, transmigran menjual lahannya ke Bintoro.

“Itulah sebabnya saya mempunyai 30 hektar lahan. Kemudian saya tanami cokelat,” ceritanya.

Sekitar tahun 2007, Astra Agro Lestari masuk membuka lahan kelapa sawit di Pasangkayu, Sulawesi Barat termasuk di Lalundu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah.

Ia pun mendapat tawaran untuk melakukan pembibitan kelapa sawit. Bibit kemudian dijualnya ke beberapa anak perusahaan Astra Agro Lestari.

Baca Juga