Meme Maratana, Perempuan Suku O Hongana Manyawa “Dipaksa” Menyerah Karena Urusan Isi Perut

Meme Maratana, Perempuan Suku O Hongana Manyawa. FOTO : FARIS

Di perjalanan menuju pemukiman warga, Gigoro dan Meme nekat menumpang di mobil perusahaan tambang yang beroperasi di hutan Ake Jira. Namun, Meme yang tidak terbiasa naik kendaraan terlihat ketakutan hingga muntah.

Saat tiba di Desa Saolat, Meme kelelahan. Ngigoro akhirnya dibantu oleh warga setempat, termasuk Mama Leani (50), ibu dari Yuliani Pihang (29). Meskipun tidak memiliki hubungan darah, mereka bersedia menampung Meme dan merawatnya dengan penuh kasih sayang. Yuliani Pihang sendiri adalah seorang aktivis lingkungan yang kerap memperjuangkan hutan adat O Hongana Manyawa. Tindakan Gigoro memastikan kondisi Meme dan dukungan dari Yuliani Pihang menjadi pendorong langkah selanjutnya.

Meme bersama keluarga ketika masih tinggal di hutan Ake Jira. FOTO : IST

Tubuh Meme begitu lembut, dihiasi oleh garis kerutan yang membentang di sekujur tubuhnya. Rambutnya telah memutih, dan matanya menatap tajam, menyiratkan kebijaksanaan. Sesekali, Meme Maitana menyelipkan candaan dengan kehangatan yang memancar. Senyum di wajahnya terlihat ringan, tanpa beban. Jika kita mencoba menebak pikiran Meme, mungkin terdapat pertanyaan dalam hatinya mengenai akhir hidupnya nanti. Apakah ia akan kembali ke tanah leluhurnya hingga akhir hayat? Ataukah ia akan menutup mata di tempat lain selain tanah leluhur?

Kehangatan keluarga Yuliani Pihang membuat Meme merasa sangat nyaman tinggal di pedesaan. Ia tidak merasa seperti orang asing, melainkan seperti nenek kandung sendiri. Meskipun Meme memiliki gaya hidup yang berbeda di hutan, keluarga Yuliani Pihang menerima keberadaannya tanpa keberatan.

Trauma karena kehabisan bahan makanan di hutan membuat Meme enggan kembali ke rumah lamanya. Ia memilih untuk menjaga diri, meski itu berarti harus melepaskan tanah leluhurnya. Tidak ada yang tersisa kecuali kenangan, ditambah dengan beberapa perabot yang berhasil ia bawa dari Ake Jira.

Beradaptasi dengan Kehidupan di Pedesaan

Tujuh bulan Meme tinggal di desa Saloat. Meski sudah berlalu beberapa bulan, Meme masih kesulitan untuk beradaptasi. Ia enggan memasuki rumah karena terganggu dengan suara gemuruh hujan yang jatuh ke atap. Bahkan untuk makan, Meme tidak mampu menikmati masakan rumahan dengan cita rasa bumbu khas Halmahera. Oleh karena itu, ayah Yuliani Pihang membangunkan sebuah rumah di Desa Saolat yang mirip dengan yang ada di hutan, beratapkan rumbia dengan dinding kayu. Meski tidak seindah tempat persinggahan di hutan, Meme berusaha untuk memakluminya.

Rumah Meme di desa Saloat. FOTO : FARIS

Meme tetap mempertahankan gaya hidup tradisional O Hongana Manyawa. Bahkan dalam memasak, ia menggunakan bambu sebagai wadah untuk memasak air dan makanannya. Tas yang terbuat dari dedaunan dan senjata berburu tetap menjadi bagian dari perlengkapan Meme.

Satu-satunya kegiatan yang tidak dilakukan Meme adalah berburu dan mencari ikan di sungai. Oleh karena itu, ia mendapatkan ikan dari tuan rumah untuk memenuhi kebutuhan makanannya, termasuk nasi dan umbi-umbian.

Setiap hari, Meme memasak dan membagikan hasil masakannya kepada orang-orang di rumah. Meskipun kadang-kadang tuan rumah mencoba membalas kebaikannya dengan makanan khas Halmahera, Meme tetap menolak karena tidak sesuai dengan selera dan kebiasaannya.

Gigoro merasa sedih melihat nasib leluhur dan Meme Maratana. Dampak dari pengerukan nikel di Ake Jira menghancurkan generasi penerus O Hangana Manyawa yang selama ini hidup damai di hutan. Dengan tegas, Gigoro menyatakan bahwa apa yang dilakukan pemerintah dan perusahaan adalah bentuk penjajahan. Mereka dianggap memanfaatkan ketidakpahaman O Hongana Manyawa untuk mengambil kekayaan alam tanpa izin.

Tradisi memasak menggunakan bambu masih digunakan Meme meskipun tidak lagi tinggal di hutan. FOTO : FARIS

“Kalau memang kita bodoh, ya kita orang bodoh. Tapi secara kasar, dunia ini belum merdeka. Hak milik orang harus dihormati. Tapi jika hak milik kita diambil orang lain, itu artinya masih ada penjajahan,” ujarnya.

Pos terkait