Meme Maratana, Perempuan Suku O Hongana Manyawa “Dipaksa” Menyerah Karena Urusan Isi Perut

Meme Maratana, Perempuan Suku O Hongana Manyawa. FOTO : FARIS

Gigoro berusaha membuka jalur musyawarah dengan pihak perusahaan untuk mengatur wilayah tanpa harus merusak hutan Ake Jira. Ia ingin membagi hutan tersebut agar tidak habis sepenuhnya.

“Baru-baru ini, saya mencoba berbicara dengan perusahaan untuk bekerja sama mengatur wilayah tanpa harus menghancurkan hutan Ake Jira sepenuhnya,” jelasnya.

Namun, Gigoro sadar bahwa dirinya hanya seorang individu yang tidak memiliki kekuatan besar. Meskipun ia bersikap pasrah, di sisi lain, ia tetap bertekad untuk melawan hingga titik darah penghabisan. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan hutan Ake Jira sebagai tempat makam leluhur dan ratusan masyarakat adat yang tinggal di dalamnya.

Rumah Mereka adalah Hutan

Sebelum kehidupan Meme Maratana diambil paksa, Yuliani Pihang segera mengambil langkah dengan menyelamatkan Meme di kediamannya. Yuliani menyadari bahwa seberapa pun nyaman tempat tinggal Meme saat ini, ia pasti akan selalu merindukan hutan. Meskipun begitu, Yuliani Pihang juga bertekad untuk mempertahankan Ake Jira sebagai tanah leluhur, meski eksploitasi tambang nikel besar-besaran terus berlanjut dan sulit dihentikan.

Yuliani Pihang (Baju Hitam) mersama ibunya terus mendampingi Meme di desa Saloat. FOTO : FARIS

“Apapun yang terjadi, Meme akan tetap merindukan hutan. Karena hutan adalah rumah. Saya harap, walaupun proses eksploitasi telah dimulai, kita bisa bersama-sama berjuang untuk membangun tembok pemisah antara hasil perusahaan dan tempat tinggal masyarakat Tobelo Dalam,” ujarnya.

“Meskipun kita tidak bisa menghentikan semuanya, kita harus memperjuangkan yang masih bisa kita pertahankan di sana (hutan). Kita harus peduli, karena bukan hanya Meme yang memiliki masa lalu di sana, tetapi juga anak cucu yang masih berada di dalam hutan. Mereka jumlahnya banyak, mungkin ratusan atau ribuan,” tambahnya.

Namun, menurut Yuli sapaan akrab Yuliani Pihang, masyarakat Tobelo Dalam sulit dijangkau oleh orang asing.

“Mereka sangat sulit dijangkau. Jadi kita harus menghormati itu. Namun, kita tidak boleh berhenti berjuang. Bahkan pemerintah juga harus memperhitungkan jumlah mereka. Mereka perlu tahu bahwa masyarakat Tobelo Dalam ada di sana. Jika mereka merasa terancam, pasti mereka akan keluar. Walaupun perjuangan ini mungkin memerlukan waktu, kita tidak boleh gegabah dalam hal ini,” katanya.

Yuli menyampaikan bahwa selama ini, masyarakat Tobelo Dalam tidak pernah dilibatkan dalam proses pengerukan hutan Ake Jira untuk kepentingan eksploitasi nikel oleh berbagai perusahaan tambang yang beroperasi dengan izin dari PT Weda bay Nickel dan IWIP.***

Pos terkait