KOLAKA – PT Vale Indonesia Tbk memperkuat upaya pencegahan dan penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di seluruh wilayah konsesi dan Persetujuan Penggunaan Kawasan Hutan (PPKH) perusahaan.
Langkah tersebut dilakukan melalui edukasi, pemantauan, penguatan kesiapsiagaan, serta koordinasi lintas sektor, terutama menghadapi musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran akibat kondisi lahan dan vegetasi yang mengering.
Sebagai bagian dari Mining Industry Indonesia (MIND ID), PT Vale turut mengambil peran dalam memperkuat kapasitas pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman Karhutla.
Salah satu upaya dilakukan melalui Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa dengan menggelar Sosialisasi Penanganan dan Pencegahan Karhutla di Desa Totobo, Kecamatan Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Selasa (1/9/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari Kementerian Kehutanan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta Dinas Pemadam Kebakaran Kabupaten Kolaka. Sosialisasi juga melibatkan jajaran pemerintah kecamatan dan desa dari Kecamatan Pomalaa dan Kecamatan Baula yang wilayahnya berdekatan dengan area operasional perusahaan.
Project Director IGP Pomalaa PT Vale Indonesia Tbk, Mohammad Rifai, mengatakan pencegahan Karhutla merupakan bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam menerapkan praktik pertambangan berkelanjutan sekaligus menjaga keselamatan masyarakat dan lingkungan di sekitar wilayah operasional.
“PT Vale memiliki kepedulian tinggi terhadap pencegahan dan penanganan Karhutla. Meski merupakan tanggung jawab lintas sektoral, kami mengambil peran aktif melalui mitigasi, penguatan kesiapsiagaan, dan koordinasi yang dijalankan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan PPKH perusahaan,” ujar Rifai, Kamis (3/9/2026).
Menurut dia, kolaborasi lintas sektor penting untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat diantisipasi dan ditangani sedini mungkin.
Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman bersama mengenai mitigasi, pencegahan, mekanisme pelaporan, koordinasi, hingga penanganan awal ketika terjadi kebakaran.
Pelibatan pemerintah kecamatan dan desa dinilai penting karena aparatur di tingkat lokal memiliki posisi strategis dalam menyampaikan informasi pencegahan kepada masyarakat, mengidentifikasi potensi kerawanan, serta membangun koordinasi awal apabila ditemukan titik api atau terjadi kebakaran.
Berdasarkan catatan tim Emergency Response PT Vale, intensitas penanganan kebakaran di wilayah Kolaka mengalami peningkatan. Sepanjang Agustus 2026, tim pemadam kebakaran PT Vale melakukan hampir 30 kali penanganan kejadian kebakaran di area hutan, lahan, dan permukiman warga.
Catatan tersebut menjadi salah satu dasar bagi perusahaan untuk terus memperkuat langkah pencegahan, kesiapsiagaan, dan koordinasi dengan berbagai pihak.
Selain menyiagakan personel terlatih dan armada pemadam kebakaran, PT Vale juga terus memperkuat sistem komunikasi, pemetaan wilayah rawan, pemantauan kondisi lapangan, serta prosedur pelaporan dan respons awal.
Dalam penanganan Karhutla di Kabupaten Kolaka, perusahaan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait. Personel dan sarana tanggap darurat dapat dikerahkan sesuai kebutuhan melalui mekanisme koordinasi penanganan keadaan darurat.
Dukungan tersebut merupakan bagian dari kontribusi PT Vale dalam memperkuat kapasitas penanganan Karhutla di daerah. Perusahaan menyatakan siap mengambil bagian dalam penanganan yang dikoordinasikan pemerintah dengan tetap memperhatikan kewenangan dan tanggung jawab masing-masing pihak.
Meski kesiapan personel dan peralatan menjadi unsur penting dalam menghadapi Karhutla, PT Vale menempatkan pencegahan sebagai prioritas.
Upaya tersebut dilakukan melalui edukasi mengenai aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, pemetaan area rawan, pemantauan kondisi lapangan, penguatan jalur komunikasi dan pelaporan, peningkatan kapasitas para pihak, serta evaluasi berkala terhadap efektivitas langkah mitigasi.
Dilaksanakan Paralel di Seluruh Wilayah Konsesi
Upaya pencegahan dan penanganan Karhutla tidak hanya dilakukan di wilayah IGP Pomalaa. PT Vale menjalankan mitigasi dan kesiapsiagaan secara paralel di seluruh wilayah konsesi dan PPKH perusahaan dengan menyesuaikan karakteristik, tingkat kerawanan, serta kebutuhan masing-masing wilayah operasional.
Dalam pelaksanaannya, perusahaan mengintegrasikan aspek lingkungan, keselamatan, operasional, dan pelibatan pemangku kepentingan.
Langkah tersebut mencakup identifikasi dan pemetaan area rawan kebakaran, pemantauan kondisi lapangan, kesiapan personel dan sarana tanggap darurat, penguatan prosedur pelaporan dan respons awal, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat.
PT Vale juga terus meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya pencegahan Karhutla, khususnya di wilayah yang berbatasan atau memiliki keterkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat.
Pendekatan kolaboratif diperlukan agar upaya perlindungan kawasan hutan dan lahan dapat berjalan seiring dengan perlindungan terhadap pekerja, masyarakat, aset, dan keberlanjutan kegiatan operasional.
PT Vale meyakini pengendalian Karhutla membutuhkan sinergi berkelanjutan. Pemerintah berperan dalam kebijakan dan koordinasi penanggulangan, masyarakat menjadi bagian penting dalam pencegahan dan pelaporan awal, sementara perusahaan dapat berkontribusi melalui sumber daya, kompetensi, edukasi, pemantauan, dan kesiapan tanggap darurat.
Melalui sosialisasi di Kabupaten Kolaka dan berbagai upaya di seluruh wilayah konsesi serta PPKH, PT Vale berharap dapat memperkuat budaya pencegahan, meningkatkan kesiapsiagaan para pemangku kepentingan, serta meminimalkan risiko Karhutla.
Langkah tersebut menjadi bagian dari penerapan praktik pertambangan yang bertanggung jawab sekaligus mendukung terciptanya lingkungan yang aman, tangguh, dan berkelanjutan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional.TIN






