Mahasiswa Untad Jalankan Program Wira Desa, Dorong Uwemanje Jadi Destinasi Agro-Ekosiwata Unggul

  • Whatsapp
761ED6BF-686E-46DC-A418-8E1A047DCD04-adadd027
Kelompok mahasiswa Sanggar Seni Wanara Fakultas Kehutanan Untad, bersama dosen pendamping dan sejumlah warga desa Uwemanje berfoto bersama menampilkan produk hasil karya masyarakat, dalam Program Wira Desa yang dijalankan di desa tersebut.///FOTO: DOK. KELOMPOK MAHASISWA

 

SIGI, MERCUSUAR – Sejumlah mahasiswa Sanggar Seni Wanara Fakultas Kehutanan Universitas Tadulako (Untad) menjalankan program pemberdayaan masyarakat berbasis agro-ekowisata di Desa Uwemanje, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi.

Berita Terkait

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Wira Desa yang dibiayai oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) RI, yang secara umum bergerak pada perkembangan kegiatan wirausaha di desa, yang berpotensi menjadi penggerak perekonomian unggulan, berbasis lokal dan berkonsep global.

Kelompok mahasiswa penggerak program tersebut, terdiri dari Moh. Rafli, Lucia Laurel, Andre Maikel, Fritski Rinanda, Moh. Afiq Raziq Diul Haq, dan Frans Adrianus. Dalam kegiatannya, kelompok mahasiswa ini didampingi dosen pendamping Dr. Sc. Agr. Yusran, S.P., M.P.

Pilihan Redaksi :  FKM Untad Jalin Kerja Sama dengan BPBD Sulteng

Ketua kelompok, Moh. Rafli kepada media ini, Selasa (23/11/2021), menjelaskan pihaknya menjalankan program tersebut di desa Uwemanje, di antaranya berupa pendampingan berbagai kelompok masyarakat mulai dari kelompok wanita, kelompok pemuda, serta kelompok tani.

Pembinaan dan pemberdayaan yang dilakukan, yakni pengembangan salah satu titik potensial di desa tersebut, yakni Tabingga Hills menjadi lokasi wisata taman bunga serta wisata perkemahan (camping ground) yang menawarkan pemandangan indah dari dataran tinggi.

Selain itu, para mahasiswa juga melakukan pendampingan pada sektor kuliner, souvenir, pupuk, serta pembibitan berbagai jenis tanaman bunga, yang seluruhnya berbasis bahan baku lokal.

“Jadi, kami mengembangkan berbagai produk kuliner, souvenir, pupuk, berbasis bahan-bahan lokal yang didapatkan di sekitar lokasi, sehingga menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi,” kata Moh. Rafli.

Beberapa contoh souvenir yang dibuat warga, yakni gantungan kunci dan miniatur karakter dari buah pinus, serta piring dari daun aren. Jenis kuliner yang dibuat di antaranya beragam jenis makanan ringan seperti keripik, pilus dan kue kaktus berbahan baku kelor.

Pilihan Redaksi :  Fapetkan Untad Rayakan Dies Natalis ke - 9

Selain itu, turut dikembangkan pembuatan pupuk yang berasal dari limbah pertanian dan kehutanan. Seperti daun kemiri, daun jati, dan limbah kotoran sapi.

Nantinya, berbagai produk olahan lokal karya masyarakat setempat tersebut, akan dipasarkan meluas, dengan lokasi perkemahan Tabingga Hills menjadi salah satu sarana pemasarannya.

“Jadi, di Tabingga Hills disiapkan menjadi lokasi wisata perkemahan dan taman bunga. Serta menjadi sarana memasarkan hasil-hasil kuliner, souvenir, pembibitan, dan pupuk yang dibuat oleh masyarakat setempat,” ujar Moh. Rafli lagi.

Moh. Rafli menuturkan, tujuan program tersebut dijalankan di antaranya adalah untuk memperkenalkan dan mengembangkan potensi wisata di Desa Uwemanje dan menjadikan desa tersebut sebagai destinasi agro-ekosiwata utama di Kabupaten Sigi.

Pilihan Redaksi :  FKM Untad Evaluasi Layanan Akademik dan Non Akademik

Selain itu, juga bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat desa maupun produksi dan kapasitas usaha desa melalui penyuluhan dan pelatihan, memanfaatkan sumberdaya lokal, meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan melalui perbaikan manajemen usaha, promosi, dan pemasaran secara profesional.

“Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat desa melalui kemitraan usaha, dengan Tabingga Hills sebagai inkubator usaha dan penyedia lapangan kerja,” imbuh Moh. Rafli.

Ia menyebutkan, program tersebut telah berjalan selama 3 bulan, dan ditargetkan selesai pada Desember 2021 mendatang.

“Prosesnya sudah hampir 90 persen selesai. Tinggal menyelesaikan proses legalitasnya sebagai tempat wisata. Program kami memfasilitasi masyarakat, selanjutnya masyarakat yang akan mengembangkan. Alhamdulillah, respons dari masyarakat sangat baik. Mereka menyambut dan mendukung penuh program ini, dari awal sosialisasi hingga proses dilakukan sejauh ini,” pungkas Moh. Rafli. IEA

Baca Juga