BUOL, MERCUSUAR — Pertemuan penting antara tim pelaksana Program Digitalisasi Tradisi Lisan Buol: Suara, Teks, dan Teknologi dalam Pemajuan Warisan Budaya dengan Raja Buol, Safri Abdullah T. Turungku dilaksanakan pada Kamis (26/2/2026), di Kabupaten Buol.
Audiensi tersebut menjadi momentum strategis dalam memperkuat legitimasi adat sekaligus memastikan bahwa seluruh proses dokumentasi tradisi lisan berjalan selaras dengan nilai, norma, serta tata kelola budaya setempat.
Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh kekeluargaan. Tim pelaksana menyampaikan secara langsung maksud dan tujuan program, yakni melakukan identifikasi, pendokumentasian, serta digitalisasi berbagai bentuk tradisi lisan Buol yang selama ini diwariskan secara turun-temurun. Tradisi tersebut mencakup cerita rakyat, tuturan sejarah kerajaan, petuah adat, mantra, serta praktik tutur yang masih hidup dalam ruang sosial masyarakat.
Dalam pemaparannya, tim menekankan, tradisi lisan bukan sekadar narasi masa lalu, melainkan fondasi identitas kolektif masyarakat Buol. Nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya memiliki peran penting dalam membentuk etika sosial, sistem kepemimpinan adat, hingga cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupan.
Raja Buol menyampaikan apresiasi atas inisiatif program yang dinilai sebagai langkah konkret dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya takbenda. Pihaknya menegaskan, modernisasi dan perkembangan teknologi tidak boleh menghilangkan akar budaya masyarakat. Sebaliknya, teknologi harus dimanfaatkan sebagai instrumen untuk memperkuat serta memperluas jangkauan pelestarian tradisi.
Pihaknya juga menekankan pentingnya menjaga etika dan batas-batas adat dalam setiap proses dokumentasi, terutama terhadap tradisi yang memiliki nilai sakral. Setiap pengambilan data, perekaman suara, maupun visualisasi ritual adat diharapkan dilakukan dengan penuh penghormatan serta melalui koordinasi dengan tokoh adat setempat.
Selain memberikan dukungan moral, Raja Buol turut merekomendasikan sejumlah tokoh adat dan penutur senior yang dinilai memiliki otoritas serta pengetahuan mendalam mengenai sejarah, struktur adat, dan sistem nilai masyarakat Buol. Rekomendasi tersebut diharapkan dapat memperkuat validitas dan akurasi data yang akan dihimpun dalam kegiatan lapangan.
Program Digitalisasi Tradisi Lisan Buol dirancang dalam beberapa tahapan, mulai dari persiapan dan konsolidasi, pengumpulan data dan produksi dokumenter serta majalah budaya, hingga tahap finalisasi berupa diseminasi hasil kepada masyarakat. Pendekatan yang digunakan bersifat integratif dengan memadukan rekaman audio, transkripsi teks, dokumentasi visual, serta penyusunan narasi ilmiah sebagai bentuk pelestarian yang sistematis dan berkelanjutan.
Pertemuan ini tidak hanya menjadi ajang audiensi formal, tetapi juga simbol komitmen bersama antara unsur adat dan tim pelaksana dalam menjaga keberlanjutan memori kolektif masyarakat Buol.
Melalui sinergi antara unsur adat, akademisi, dan pemangku kebijakan, program ini diharapkan dapat menjadi model penguatan pelestarian tradisi lisan di wilayah lain, sekaligus mendorong regenerasi penutur di kalangan generasi muda Buol. */JEF




![IMG-20240802-WA0015[1]](https://mercusuar.web.id/file/2024/09/IMG-20240802-WA00151-200x112.jpg)
![IMG-20240802-WA0003[1]](https://mercusuar.web.id/file/2024/09/IMG-20240802-WA00031-200x112.jpg)
