PALU, MERCUSUAR – Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Sulawesi Tengah (Sulteng) bersama Hannah Asa Indonesia berkolaborasi dalam meningkatkan kapasitas petani milenial di Kabupaten Sigi dalam upaya membangun ekosistem pertanian yang mandiri, maju, dan berkelanjutan.
“Program Berani Menjadi Petani Milenial Provinsi Sulawesi Tengah merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pertanian yang mandiri, maju, dan berkelanjutan,” kata Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Sulawesi Tengah, Moh. Saleh, di Sigi, Kamis.
Program tersebut mengacu pada Peraturan Gubernur Sulteng Nomor 7 Tahun 2025 tentang program petani milenial periode 2025-2029.
Menurut dia, program tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat regenerasi petani sekaligus membangun ekosistem pertanian yang mendukung keberlanjutan usaha.
Berdasarkan data Sensus Pertanian 2023 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2024, terdapat sekitar 123.014 petani milenial di Sulteng atau 26,89 persen dari total 457.492 petani.
Sementara itu, program periode 2025-2029 menetapkan target penambahan 5.000 petani milenial, dengan sasaran 1.000 orang per tahun.
Saleh menjelaskan pengembangan program perlu dihubungkan dengan kesiapan petani menjalankan usaha, dukungan produksi, akses pasar, dan penguatan kelembagaan agar keberlanjutan usaha dapat dibangun secara bertahap.
Ia mengatakan pengembangan petani milenial tidak cukup hanya berfokus pada penambahan jumlah pelaku di sektor pertanian, tetapi juga perlu memastikan kesiapan mereka dalam mengelola usaha secara produktif dan berkelanjutan.
Selain itu, kata dia lagi, program regenerasi petani juga diharapkan mampu mendorong tumbuhnya usaha pertanian yang memberikan nilai tambah bagi pelakunya.
Oleh karena itu, Bappeda Provinsi Sulteng berkolaborasi dengan Hannah Asa Indonesia yang bergerak di bidang literasi keuangan untuk memperkuat kapasitas petani milenial.
Kegiatan penguatan kapasitas petani milenial tersebut berlangsung di Desa Maku, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi yang diikuti 180 peserta.
Ia mengatakan kegiatan ini membahas pentingnya modernisasi pertanian yang didukung peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pengelolaan usaha.
Saleh mengatakan keberhasilan usaha pertanian tidak hanya ditentukan oleh hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan petani mengelola biaya produksi, menentukan harga jual, mencatat transaksi, dan menjaga modal usaha.
Sementara itu, Pendiri Hannah Asa Indonesia Mardiyah mengatakan kemampuan mengelola keuangan merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan usaha pertanian.
“Petani bukan hanya sebagai pelaku produksi, tetapi juga sebagai pengelola usaha yang perlu merencanakan kebutuhan produksi, mengendalikan biaya, mengenali pasar, mengelola pendapatan, dan menyiapkan modal untuk siklus produksi berikutnya,” ujarnya.
Untuk itu, kata dia, petani perlu dibekali keterampilan praktis untuk mencatat transaksi, menghitung biaya produksi, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, serta merencanakan modal bagi siklus produksi selanjutnya.
“Kemampuan mengelola keuangan merupakan bagian penting dari penguatan kapasitas petani, terutama untuk membantu mereka mengambil keputusan usaha berdasarkan kondisi keuangan yang terukur,” kata Pendiri Hannah Asa Indonesia Mardiyah.
Ia mengatakan kemampuan mengelola keuangan merupakan fondasi penting bagi keberlanjutan usaha pertanian.
Menurut dia, petani bukan hanya sebagai pelaku produksi, tetapi juga sebagai pengelola usaha yang perlu merencanakan kebutuhan produksi, mengendalikan biaya, mengenali pasar, mengelola pendapatan, dan menyiapkan modal untuk siklus produksi berikutnya.
Untuk itu, kata dia, petani perlu dibekali keterampilan praktis untuk mencatat transaksi, menghitung biaya produksi, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, serta merencanakan modal bagi siklus produksi selanjutnya.
Pada kesempatan itu, materi yang disampaikan bertajuk “Petani Milenial Cerdas Finansial, Usaha Tumbuh Berkelanjutan”, yang mencakup pengelolaan biaya produksi, pencatatan transaksi, pemisahan keuangan pribadi dan usaha, serta perencanaan modal kerja.
Petani juga diberikan pemahaman mengenai perbedaan biaya tetap dan biaya variabel sebagai dasar menghitung harga pokok produksi (HPP), menentukan harga jual, dan memperkirakan keuntungan.
Selain itu, lanjut dia, petani perlu menjaga modal kerja untuk membeli sarana produksi, membayar tenaga kerja, dan memenuhi biaya operasional sebelum penerimaan penjualan berikutnya tersedia.
Ia mengatakan pendekatan ini menempatkan literasi keuangan sebagai keterampilan praktis yang dapat membantu petani menilai kondisi usaha, menentukan kebutuhan modal, dan merencanakan pengembangan usaha secara bertahap.*/MAN






