Eko Wandowo Gelar ‘Kupatan’ di TVRI

  • Whatsapp
IMG-20220521-WA0077-e50529e6

PALU, MERCUSUAR- Paguyuban Kesenian Eko Wandowo Sulawesi Tengah menggelar halal bihalal, Sabtu malam (21/5/2022), bertempat di halaman TVRI Sulawesi Tengah.

Acara yang akrab disebut syawalan atau Kupatan itu terbuka untuk seluruh warga Sulawesi Tengah etnis Jawa. 

Berita Terkait

Kegiatan yang telah menjadi agenda rutin ini, tahun ini bekerja sama dengan TVRI dan akan disiarkan secara live selama satu jam.

Ketua Panita, H. Abdul Munir mengatakan halal bihalal dimaksudkan untuk merekatkan seduluran atau persaudaraan warga Jawa di perantauan.

“Selain itu, ini merupakan upaya Eko Wandowo nguri-uri atau melestarikan budaya,” katanya.

Pilihan Redaksi :  Wim Al-Amri Resmi Jadi Ketua DPC Demokrat Kota Palu

Halal bihalal akan menghadirkan akademisi UIN Dato Karama Dr. KH. Abdul Gani Jumat, mengisi hikmah.

“Sebagai bagian dari budaya, kegiatan juga akan menampilkan kesenian campursari. Selaku panita, saya mengundang sedulur Jawa berkenan hadir. Mari pererat silaturahmi, makin guyub rukun bersama kita berkontribusi dalam pembangunan di Sulawesi Tengah,” katanya. 

Pada halal bihalal juga akan disuguhkan beragam kuliner khas Jawa. Salahsatu makanan khas adalah Ketupat. Bagi masyarakat Jawa, Ketupat atau Kupat memiliki nilai filosofis sangat dalam dari sisi budaya maupun religi. Ketupat pada awalnya diperkenalkan Sunan Kalijaga (salahsatu Walisongo) sebagai media dakwah, usai puasa Ramadan. Ketupat mengacu pada ajaran Sunan Kalijaga, berasal dari kata Ngaku (mengaku) dan Lepat (salah). Ketupat adalah simbol bagi masyarakat muslim Jawa, mengakui segala kesalahan yang dilakukan baik sengaja atau tidak pada Allah SWT dan orang-orang di sekitarnya. Orang yang menyuguhkan dan memakan Ketupat, harus sadar akan kesalahannya dan bersedia meminta maaf pada orang lain dan mohon ampun pada Allah SWT.

Pilihan Redaksi :  JK Resmikan Masjid Nurul Yaqin Mamboro

Bagi masyarakat Jawa sebagaimana ajaran Sunan Kalijaga, berebut dan mengklaim sebagai pihak yang paling benar adalah benih kesombongan yang dilarang Allah SWT dan pemicu konflik antar sesama. Jika masing-masing orang saling menyadari kekurangan dan kesalahannya, perdamaian bisa diwujudkan. Melestarikan Ketupat dan halal bihalal bagi Eko Wandowo, merupakan ikhtiar membangun ketahanan nasional dari sisi budaya dan sikap religi. MS

Baca Juga