Jangan Terjebak Pehamaman Keliru Soal Toleransi

TOLERANSI-8ddb523f
Ulyas Taha

PALU, MERCUSUAR – Pemerintah telah mencanangkan tahun 2022 sebagai Tahun Toleransi. Terkait hal itu, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulteng, H. Ulyas Taha mengatakan pihaknya telah menyiapkan program-program yang berkaitan dengan pemberdayaan terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang peduli terhadap pembangunan toleransi dan kerukunan umat beragama, khususnya di Provinsi Sulteng.

 

“Misalnya FKUB, ormas-ormas keagamaan, atau LSM yang peduli terhadap pembangunan toleransi dan kerukunan umat beragama di daerah kita,” kata Ulyas kepada wartawan di Palu, Senin (27/12/2021).

 

Ia berharap, program-program tersebut dapat membantu memberikan pemahaman dan pemaknaan terhadap sikap toleransi yang sesungguhnya. Sehingga, masyarakat tidak terjebak pada pemahaman yang justru menggiring bahwa toleransi memiliki kesan mencampuradukkan ajaran agama-agama.

 

“Ada kelompok-kelompok yang tidak mampu memaknai toleransi sesungguhnya. Misalnya dengan memahami orang Islam harus melakukan ritual keagamaan non-Islam atau sebaliknya. Ini yang kita hindari di masyarakat,” ujar Ulyas.

 

Ia juga berharap, ke depannya makna toleransi tidak hanya berada pada pemahaman di tingkatan elite atau kelompok-kelompok masyarakat tertentu saja. Tetapi dapat dipahami hingga ke seluruh kelompok masyarakat.

 

“Ketika kita membangun makna toleransi di seluruh kelompok masyarakat, maka akan terbangun kehidupan bersama yang menghargai dan menerima perbedaan. Jadi tidak sekadar menghargai, tetapi juga menerima perbedaan,” jelasnya.

Membangun toleransi, lanjutnya, juga berawal dari memahami dan memaknai Pancasila sebagai dasar negara. Olehnya, ia mengaku optimis pembangunan toleransi dan kerukunan di Provinsi Sulteng dapat berjalan dengan sangat baik, karena sebelumnya telah mendapatkan pengakuan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), yakni mendapatkan predikat memuaskan pada Indeks Aktualisasi Nilai Pancasila.

“Kita harus selalu optimis. Kalau kita sudah memahami betul Pancasila sebagai dasar negara yang menyatukan berbagai perbedaan, di situlah nilai toleransi akan muncul,” pungkasnya. IEA

Pos terkait