Kemenang Utamakan Kekeluargaan

  • Whatsapp
TRADISI RAMADAN - Kepala Kanwil Kemenag Sulteng, Rusman Langke (kanan) bersama Kabag TU Kanwil Zulkiflin Padjala berfoto bersama perwakilan anak dari panti asuhan Nurul Huda, Pengawu, Kota Palu saat buka bersama, Jumat (25/5/2018). FOTO: HUMAS KEMENAG SULTENG

BIROBULI UTARA, MERCUSUAR – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulteng, Dr. Rusman Langke, M.Pd mengharapkan keluarga besar Kemenag Sulteng senantiasa mengutamakan kekeluargaan. Kata dia, jajaran Kemenang harus dapat memberikan contoh bagaimana penerapan ukhuwah Islamiyah (persaudaraan muslim), ukhuwah insaniyah (persaudaraan sesama manusia), dan ukhuwah wataniyah (persaudaraan sesama anak bangsa), dalam kehidupan sehari-hari.

Berita Terkait

Hal tersebut disampaikan Kakanwil Rusman pada buka puasa bersama ASN Kemenag Sulteng di lingkungan kanwil, Jumat (25/5/2018). Nampak hadir Kepala Kemenag kabupaten/kota. Dikatakan, buka puasa bersama harus dilanjutkan sebagai bagian dari tradisi Kemenag di daerah ini.

Pilihan Redaksi :  Untad Sosialisasikan PMB Jalur Prestasi di Morut

Ia pun berharap, anak anak yatim dari panti asuhan yang sengaja diundang dalam kegiatan tersebut juga mendapat perhatian di luar bulan Ramadan. “Ketika kita berinfaq dan beraedekah di bulan Ramadan, hari-hari berikutnya kita tetap perhatikan anak yatim piatu di Kota Palu, dan Sulawesi Tengah pada umumnya,” tandasnya.

Sementara itu, KH Mansyur, dalam ceramahnya menyinggung masalah fidyah. Sebagaimana diketahui fidyah adalah kewajiban mengeluarkan makanan dalam kadar tertentu (umumnya dalam bentuk beras) untuk dibagikan kepada fakir miskin karena berhalangan berpuasa.

 Ia pun memberi contoh kepada ibu hamil atau menyusui yang tak bisa berpuasa di bulan Ramadan.  Kewajiban bagi mereka untuk mengganti berpuasa di luar Ramadan sesuai hari puasa yang ditinggalkan. “Di lapangan, ada yang potong kompas, saya sudah bayar fidyah. Padahal bayar fidyah itu tambahan, yang utama adalah tetap mengganti puasanya,” jelas KH Mansyur. Disebutkan, fidyah dapat dipahami sebagai peringatan keras bagi mereka yang meninggalkan puasa agar di waktu berikutnya tidak mengulang kembali. DAR

Baca Juga