Makanan Banyak, Warga yang Tak Mau Diatur

  • Whatsapp

PALU, MERCUSUAR – Pengurus Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia (APJI) Sulawesi Tengah menegaskan cukup banyak makanan gratis yang disiapkan di acara Central Celebes Marathon hari Minggu (15/4) lalu. Hanya saja, warga yang membeludak tidak mau diatur, bahkan merampas makanan yang disediakan.

Hal itu dikemukakan Ketua APJI Sulteng, Asmartati Tombolotutu di Gubernuran Siranindi, Senin (16/4) malam. Ia hadir bersama pengurus lainnya untuk meluruskan berita Mercusuar terbitan kemarin. Pertemuan itu difasilitasi Ketua Tim Penggerak PKK Sulteng, Ny Zalzulmida A Djanggola.

Berita Terkait

Pilihan Redaksi :  Masyarakat Diminta Petuhi Prokes, Gubernur: Kita Bersama Bantu Bangsa dan Negara

Menurut Asmartati, makanan yang disiapkan justru lebih dari 10.000 porsi seperti yang dijanjikan penyumbang Hendrik Liyanto. Namun, sebanyak apapun bila warga saling merampas tidaklah akan cukup.

Ia menjelaskan, ada kendala dari pihaknya untuk mengantarkan makanan yang telah disediakan. Mobil pengangkut tidak diizinkan untuk masuk ke sekitar lokasi. Karenanya, mobil diparkir jauh dari tempat acara.

Yang lebih kacau lagi, katanya, ketika diangkut dari mobil ke tempat acara, massa justru menyerbunya tanpa aturan. Warga bahkan merampas makanan yang sedang diantar.

“Saya sudah siapkan makanan utadada dan 200 kue tradisional. Tetapi ketika baru diturunkan dari mobi, massa sudah menyerbunya. Dalam sekejap saja habis. Saya mau bikin apa,” kata Humas APJI Sulteng, Ny Nurmala.

Pilihan Redaksi :  Penghuni Huntap Tondo Terima Bantuan Sembako

“Saya juga disuruh buat nasi bakar sebanyak 150 tetapi saya buat 350. Saya sempat meloloskan ke stand yang disiapkan dan menyimpannya di bawah meja. Ketika Pak Gubernur umumkan ada makanan gratis, saya ingin menyajikan di meja tetapi langsung diserbu. Hanya sekejap habis,” kata pula Ny Mirna.

Sebelumnya, Ny Zalzulmida menjelaskan, makanan gratis sudah disiapkan. Hanya saja, agak sulit untuk diangkut ke tempat yang disedaiakan.

Selain itu, warga juga tidak mau sabar, tetapi langsung berebutan sehingga tidak sampai ke tempat yang disedaiakan.

“Bahkan ada yang berteriak, bagi saja itu makanan, kan sudah dibayar. Bukan saja berteriak, tetapi langsung berebutan,” katanya.

Menurutnya, ini adalah suatu pengalaman berharga. Ke depan, harus diatur sebaik-baiknya. Misalnya, yang ingin mendapatkan makanan harus menyerahkan kupon.MAN

Pilihan Redaksi :  Nilai Leadership, Membentuk Pengusaha Muda

 

Baca Juga