Pelayanan Disarankan Masuk Indikator Penilaian 

  • Whatsapp
TIM juri lomba kebersihan OPD dan Non OPD melihat kebun bibit yang dimiliki Dinas Kehutanan Provinsi Sulteng, Kamis (26/7/2018). FOTO: DOK TIM JURI OPD LOMBA KEBERSIHAN OPD DAN NON OPD////

PALU, MERCUSUAR – Kepala Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN), Muhtar Salim menyarankan agar lomba kebersihan dan keindahan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan non OPD tingkat provinsi tidak hanya menilai kebersihan dan keindahan lembaga, tetapi juga pelayanan sebagai salah satu indikator penilaian.

“Kegiatan ini sudah bagus hanya saja ke depan, lomba kebersihannya tidak hanya soal keindahan saja, tetapi juga pelayanan,”ujar Muhtar terkait lomkebersihan dan keindahan OPD dan non OPD yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulteng dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke- 73, Kamis (26/7/2018).

Berita Terkait

Pilihan Redaksi :  Kalsum Pimpin DPC PAN Tawaeli

Bagi dia, setiap OPD umumnya dituntut harus bersih, tetapi bersih saja tidak cukup bila tidak ditunjang dengan pelayanan kepada masyarakat. “Karena kita itu namanya lembaga pemerintah harus perpatokan pada pelayan. Jika ini didorong maka kepala daerahnya juga akan dianggap berhasil,” ujarnya.

Pentingnya peningkatan pelayanan, lanjut Muhtar, menjadikan media sekelas Tempo setiap tahun memberikan apresiasi kepada setiap kepala daerah yang berhasil meningkatkan sistem pelayanannya.

Sementara itu, selama pelaksanaan penilaian yang berlangsung tiga hari, Dinas Kehutanan (Dishut) terlihat lebih responsif terhadap poin-poin penilaian kebersihan. OPD yang pernah meraih juara umum lomba kebersihan dan keindahan itu, kini memiliki lubang resapan biopori dan telah menerapkan sistem kompos bagi sampah yang ada.

Pilihan Redaksi :  Polisi Ringkus Belasan Warga Tavanjuka Terlibat Narkoba 

Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat secara vertikal ke dalam tanah sebagai metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi genangan air dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Sedangkan kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembap, dan aerobik atau anaerobik.

“Ini satu terobosan bagi Dinas Kehutanan karena mereka berinisiatif membuat lubang resapan biopori dan sistem kompos,” kata salah satu tim juri lomba kebersihan Rehan.

Kompos yang telah dibuat dijadikan pupuk bagi bibit-bibit tanaman yang ada di dinas tersebut. Kompos-kompos tersebut berasal dari hasil pembakaran daun dan ranting kemudian dicampur bersama sekam padi dan tanah. “Kami berharap ini dapat ditiru oleh OPD lainnya,” harap Rehan. INT

Pilihan Redaksi :  Disdikbud Palu Akan Libatkan 70 Ribu Pelajar

 

Baca Juga