Pemkot Palu Diminta Bangun Kebun Edukasi Siswa

  • Whatsapp
HLL

PALU, MERCUSUAR – Mengenal jenis-jenis tumbuhan, menjadi salah satu pelajaran yang diterima oleh siswa Sekolah Dasar (SD). Namun, mata pelajar tersebut tidak bisa dipraktekkan secara maksimal oleh siswa, sebab tidak adanya kebun yang di dalamnya tumbuh berbagai jenis tanaman tersebut.

Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Palu melalui Dinas Pertanian, diharapkan dapat membuat sebuah kebun edukasi tempat praktek bagi seluruh siswa SD di Kota Palu.

Berita Terkait

Pilihan Redaksi :  Atap Huntap Diterjang Angin Puting Beliung

Guru SDN 3 Palu, Cristian Gloria mengatakan, salah satu mata pelajaran di SD itu mengenalkan kepada siswa berbagai jenis tumbuhan berdasarkan jenis perkembangannya, seperti tumbuhan umbi-umbian dan tumbuhan sayur-sayuran yang kerap dikonsumsi siswa. Tetapi sejauh ini, pengenalan yang diberikan siswa hanya melalui gambar di buku dan mereka tidak melihat langsung.

“Kami pernah mencoba membawa tanaman tersebut dari rumah, tetapi tetap saja tidak maksimal. Sebab, mereka tidak melihat dan mengetahui secara langsung bagaimana adaptasi dan lingkungan tempat tumbuhan itu hidup. Olehnya, adanya kebun edukasi sangat dibutuhkan, agar siswa tidak diajarkan untuk menghayal, tetapi bisa melihat langsung kondisi tumbuhan tersebut,” kata Cristian, Sabtu (8/9/2018).

Pilihan Redaksi :  Vaksinasi Covid-19 Sulteng Capai 1.139.362 Jiwa

Dengan begitu, para siswa bisa melihat secara langsung perkembangan jenis-jenis tumbuhan tersebut. Selain itu, belajar di luar ruangan juga menjadi kesukaan siswa, mereka sangat senang jika belajar di luar ruangan, tetapi bagaimana hal itu bisa dilakukan, jika tempat belajar seperti kebun edukasi tidak tersedia.

“Kami berharap, dinas terkait dapat menyediakan kebun edukasi, yang di dalamnya tumbuh tanaman yang merupakan bagian dari pembelajaran, seperti kebun khusus, sehingga anak-anak bisa melihat secara langsung tumbuhan yang tergolong umbi yang mana dan sebagainya,”harapnya.

Lanjutnya, begitupun dengan peternakan. Sebab, banyak hewan yang ada di buku, tetapi siswa belum pernah melihatnya secara langsung. Lagi-lagi siswa harus berkhayal dan hanya dapat melihatnya melalui media elektronik maupun cetak. Pembelajaran seperti itu tentunya tidak maksimal. UTM

Baca Juga