PALU, MERCUSUAR, – Federasi Panjat Tebing Indonesia ( FPTI) Sulawesi Tengah mulai tanggal 7-12 Maret 2022 menggelar seleksi atlet pemusatan latihan daerah (Pelatda). Hal ini dilakukan guna menentukan nama-nama atlet yang akan diserahkan kepada Kelompok Kerja (Pokja) Sulteng emas bentukan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Sulawesi Tengah.
Manager Pelatda FPTI Sulteng, Abdul Rifai menuturkan, seleksi Pelatda kali ini diikuti oleh 47 atlet dari 7 pengurus kabupaten maupun kota di Sulawesi Tengah.
Adapun tes hari pertama dilaksanakan di lapangan sekertariat KONI Sulteng di Kota Palu. Selanjutnya, tes memanjat akan dilakukan di Kabupaten Sigi. Para atlet yang rata-rata berusia di bawah 30 tahun, akan melaksanakan serangkaian tes yang meliputi ketahanan fisik, teknik memanjat, dan tes psikologi.
“Kuota untuk di Pelatda sebenarnya 6 orang, tapi dari 47 atlet ini kami akan ambil 10 orang untuk diserahkan ke KONI karena ada yang namanya sistem degradasi. Nanti 10 orang ini yang akan berebut kuota 6 orang itu,” kata Rifai, Senin (07/03/2022).
Sebelum diserahkan, lanjut Rifai, para atlet yang lolos Pelatda akan menjalani latihan mandiri. Latihan itu akan diakomodir oleh pengkab maupun pengkotnya masing-masing sesuai dengan program latihan yang telah disusun.
“Mereka yang lolos nantinya akan persiapan Pra Pon terlebih dahulu dan mudah-mudahan bisa lolos di pra PON untuk bertarung di PON Aceh-Sumut tahun 2024,” ujarnya.
Zikran Lamalundu, salah satu pelatih Panjang Tebing Sulteng, mengatakan, ukuran penilaian tes awal seleksi kali ini ialah 30 persen dari ketahanan fisik, “Dari hasil tes fisik akan ada tim A dan tim B untuk di Pelatda nantinya sesuai dengan hasil yang mereka dapatkan pada tes nanti,” Katanya.
Selanjutnya, 40 persen penilaian akan diambil dari keterampilan ataupun teknik atlet dalam memanjat. Zikran bilang, para atlet akan dinilai melalui strategi yang digunakan dalam memanjat dengan waktu yang telah diberikan. Adapun limit waktu itu antara lain 4 menit di kategori Boulder, 6 Menit untuk lead serta speed diambil dari waktu tercepat yang berhasil diraih.
Selain keterampilan memanjat, tes terakhir yang dilakukan adalah wawancara dengan penilaian sebesar 30 persen. “Tujuan wawancara ini untuk mengetahui latar belakang atlet. Tentunya para atlet punya strategi sendiri untuk masuk tim pelatda. Selain itu, lewat pertanyaan yang telah kami susun, kami jadi tahu kondisi psikologi dari para atlet,” ucapnya.
Diketahui, Panjat Tebing merupakan masuk dalam 10 cabor unggulan yang diharapkan bisa menyumbangkan emas untuk sulteng pada Pon Aceh-Sumut 2024. Pelatda nantinya akan diakomodir oleh Pokja Sulteng emas yang rencananya akan berlangsung pada bulan Juni.
Lewat serangkaian tes tersebut diharapkan para atlet memanjat yang masuk Pelatda adalah mereka yang memang memiliki potensi terbaik untuk diikutkan dalam kejuaraan nasional, termasuk pada pelaksanaan Pra PON di tahun 2023. */CLG