“Ini Palu, Bung luhut!”

  • Whatsapp
IMG_20210308_094504_978

Selanjutnya tingkat pengangguran Kota Palu, meningkat dari 6,32 % ditahun 2019 menjadi 8,38 % atau sama dengan 22.111 jiwa ditahun 2020. Adapun jumlah penduduk miskin Kota Palu, meningkat dari 26.620 jiwa atau 6,83 % ditahun 2019, naik menjadi 26.890 jiwa atau 6,8 % ditahun 2020, dengan tingkat keparahan kemiskinannya 0,99 ditahun 2019, menjadi 0,97 ditahun 2020.

Sengaja angka makro pembangunan ini diutarakan, agar Bung Luhut mengatahui seberapa berat pembangunan yang harus digerakan oleh Pemerintah Kota Palu, jika investasi dari eksternal itu ditakut takuti dengan alasan akan berpotensi menimbulkan korban jiwa dimasa mendatang jika periode ulang kebencanaan tersebut tidak terantisipasi.

Berita Terkait

Melalui tempat ini kami beritahu pada Bung, bahwa negeri kami, Kota Palu, bukan cuma sekali ini saja terjadi bencana. Sering Bung. Tapi kami sudah mendapatkan alert dari berbagai pertanda yang alam sediakan untuk kami, seperti toponimi daerah kami yang memang banyak mengasosiasikan terhadap kehadiran bencana itu sendiri, seperti nama penamaan kampung Kaombona yang berarti pernah runtuh, kampung Tagari Lonjo, yang berarti tenah terbenam, kampung Bangga yang berarti banjir, kampung Pantale Doke atau tempat meletakan tombak. Semua itu sinyal bahwa leluhur kami di sini, sudah memiliki pengetahuan dan pengalaman terhadap fenomena kebencanaan.

Bahkan ketika kejadian pembuburan tanah, atau likufaksi masih bersinonim dengan bahasa asing untuk penyebutannya, maka orang di kampung kami sudah memililki nama yang tepat terhadap fenomena tersebut yaitu Nalodo.

Hal itu mengindikasikan bahwa kejadian Nalodo itu bukanlah hal yang baru kali ini terjadi, tapi pernah terjadi pada beberapa masa yang lalu. Hal itu terkonfirmasi dari pemetaan Lidar, yaitu teknologi pemetaan yang bisa menembus penglihatan permukaan tanah tanpa terhalang vegetasi, terlihat bahwa Nalodo, pernah terjadi di beberapa tempat di Lembah Palu, salah satunya di desa Sibowi, pada beberapa ratus tahun yang lalu.

Bung Luhut, mungkin pernah mendengar sebuah pepatah dari negeri matahari terbit yaitu negara Jepang, bahwa bencana itu terjadi jika kita sudah mulai lupa, karenanya pekerjaan besar kita semua saat ini, adalah merawat ingatan koletif terhadap kejadian bencana dan berupaya mengedukasi masyarakat dan pemerintah tentang apa yang harus mereka ketahui dan harus lakukan ketika terjadi bencana serupa.

Adalah hal yang lebih masuk akal, ketimbang kita seolah menghalang halangi masuknya invesitasi berupa pembangunan infrastruktur di Kota Palu, sebab suka atau tidak suka, Kota Palu adalah ibu kota Prooinsi Sulawesi Tengah, yang merupakan Pusat Kegiatan Nasional/PKN, serta adanya program srategis nasional yaitu Kawasan Ekonomi khusus/KEK Palu, yang sementara terus bergeliat untuk maju.

Kami tentu berharap dan berbaik sangka bahwa ungkapan Bung, yang seolah bernada menakut-nakuti investor untuk masuk dan membangun di Kota Palu itu, adalah sekadar warning bagi kami, untuk lebih berhati-hati dalam menentukan strategi pembangunan di Kota Palu, yang kami cintai ini. Palu, sebuah kota yang memang terlanjur berada di atas patahan sesar aktif, sehingga arahan pembangunan investasi infrastruktur atau berbagai pembangunan fasilitas publik lainnya, harus dibangun dengan standar yang berbeda kualitas ketahannya dengan tempat lain.

Kalau saat ini, negara kita punya standar SNI 1726 yang mengatur bangunan tahan gempa untuk skala nasional, mungkin untuk Kota Palu yang memiliki intensitas dan tipologi kebencanaan yang multi-hazard, perlu mengembangkan standar bangunan tahan gempa yang spesifik KotaPpalu, atau serupa standar SNI 1726 yang diperkhusus.

Kalau kita khawatir akan membebani masyarakat atau investor, karena konsekuensi membengkaknya budget pembangunan, maka disitulah peran pemerintah baik dalam bentuk insentif untuk memfasilitasi agar bangunan yang dibangun tersebut, apa lagi yang berfungsi sosial, seperti sekolah, perkantoran, sarana jasa, pasar, shalter adalah benar-benar dianggap tahan dan mampu menghadapi gonjangan jika terjadi bencana serupa dikemudian hari.

Oh yah, Bung Luhut, sebenarnya setelah kejadian bencana 28 september 2018, telah ada peta Zona Rawan Bencana yang difasilitasi pembuatanya oleh pemerintah pusat, dan kami paham sekali dalam proses pembuatannya bukanlah sesuatu hal yag mudah, sebab banyak pakar dari dalam dan luar negeri terlibat dalam penyususnan peta Zona Rawan Bencana tersebut.

Baca Juga