TONDO, MERCUSUAR — Dosen Fakultas Teknik Universitas Tadulako (Untad) berinisial FJ membantah adanya ancaman dalam komunikasi telepon dengan orang tua mahasiswa berinisial KRG, yang diduga menjadi korban pengeroyokan.
FJ mengaku menghubungi ayah KRG pada pagi hari setelah menerima informasi melalui WhatsApp mengenai adanya laporan dugaan penganiayaan kepada kepolisian. Menurutnya, komunikasi tersebut dilakukan untuk memastikan kebenaran informasi setelah kedua pihak sebelumnya sepakat menyelesaikan persoalan secara damai.
“Saya menghubungi ayah KRG semata-mata untuk mengonfirmasi informasi yang saya terima mengenai adanya laporan ke kepolisian. Sebelumnya kami sudah sepakat menyelesaikan persoalan ini secara damai. Jadi tidak ada maksud untuk menekan atau mengancam siapa pun,” ujar FJ.
Ia menjelaskan, dalam percakapan tersebut ayah KRG menyampaikan belum mengetahui adanya pemberitaan mengenai laporan ke polisi. FJ kemudian meminta bantuan untuk mengonfirmasi informasi tersebut kepada pihak yang membuat laporan.
FJ juga mengaku menyampaikan kemungkinan dampak yang dapat muncul jika persoalan berlanjut, baik terhadap dirinya, mahasiswa lain maupun KRG.
Terkait informasi bahwa dirinya mengancam mahasiswa akan dikeluarkan atau di-drop out apabila laporan polisi tidak dicabut, FJ secara tegas membantahnya.
“Saya tidak pernah mengatakan akan mengeluarkan atau men-drop out mahasiswa jika laporan itu tidak ditarik. Telepon tersebut murni untuk menanyakan kebenaran informasi tentang laporan dan mengingatkan kembali kesepakatan damai yang sudah dicapai sebelumnya. Tidak ada ancaman kepada KRG maupun teman-temannya,” tegasnya.
Sementara itu, penanganan dugaan kekerasan tersebut masih berjalan melalui mekanisme internal Untad oleh Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (Satgas PPKPT). Di luar proses internal kampus, dugaan penganiayaan juga telah ditangani kepolisian dan menjadi bagian dari proses hukum yang berjalan.






