MTQ Momentum Transformasi Nilai Qur’ani

Prosesi simbolis penutupan MTQ XXXI tingkat Provinsi Sulteng, di Sigi, Sabtu (13/6/2026). FOTO: FERIZAL LATOPADA/KEMENAG SULTENG

SIGI, MERCUSUAR – Pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI tingkat Provinsi Sulteng tahun 2026 resmi ditutup, melalui seremoni yang digelar di Taman Likuefaksi Desa Lolu, Kabupaten Sigi, pada Sabtu (13/6/2026).

Pada kesempatan tersebut, Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Sulteng, Dr. H. Junaidin menekankan pelaksanaan MTQ harus menjadi momentum transformasi nilai-nilai Qurani, dari arena musabaqah menuju praktik kehidupan yang nyata di tengah masyarakat.

Menurut Junaidin, MTQ tidak sekadar menjadi ajang perlombaan untuk mencari yang terbaik dalam membaca, menghafal, memahami, dan menafsirkan Al-Qur’an. Lebih dari itu, MTQ merupakan ruang peradaban yang menghadirkan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai energi moral dalam membangun kehidupan masyarakat yang religius, berakhlak, dan berkemajuan.

“Kita sesungguhnya sedang meneguhkan kembali hubungan antara umat dengan kitab sucinya. MTQ merupakan ruang peradaban tempat nilai-nilai Al-Qur’an dihidupkan, dirasakan, dan ditransformasikan menjadi energi moral bagi kehidupan masyarakat,” ujar Junaidin.

Ia menjelaskan, seni Qur’ani memiliki karakter yang khas, karena tidak hanya menghadirkan keindahan bacaan, tetapi juga mengandung nilai-nilai yang membentuk akhlak dan peradaban.

Junaidin menegaskan, keberhasilan MTQ tidak boleh diukur hanya dari jumlah medali, piala, maupun peringkat juara yang diraih peserta. Ukuran keberhasilan yang lebih penting adalah sejauh mana nilai-nilai Al-Qur’an semakin hidup dalam keluarga, lembaga pendidikan, rumah ibadah, ruang publik, dan seluruh sendi kehidupan masyarakat.

“Juara sejati bukan hanya mereka yang tampil terbaik di atas panggung, melainkan mereka yang mampu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup sepanjang hayat,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa MTQ merupakan instrumen strategis, untuk membangun budaya Qurani yang tidak berhenti pada aspek seremonial, tetapi bertransformasi menjadi etos kehidupan yang berorientasi pada ilmu pengetahuan, akhlak mulia, dan kemaslahatan. */IEA

Pos terkait