Protes Hibah Rp14 M, Penyintas: Dimana Pikiran dan Hati Nurani 

  • Whatsapp
Hibah Rp 14 M-063c2a8a
UNJUK RASA - Aksi teatrikal yang ditampilkan oleh Front Advokat Rakyat (FAR) Pasigala, saat berunjukrasa di Gedung DPRD Sulteng terkait dengan keputusan anggaran hibah kepada KAHMI sebesar Rp14 Miliar, Kamis (15/9/2022). FOTO: AMAR SAKTI/MS

BESUSU BARAT, MERCUSUAR- Salah seorang penyintas peristiwa bencana 28 September 2018 silam, Sritini Haris menyampaikan, sangat memprotes keras keputusan yang diambil para anggota DPRD Sulteng, yang telah menghibahkan anggaran sebesar Rp.14 miliar untuk pelaksanaan Munas ke-XI Korps Alumni Mahasiswa Islam Indonesia (KAHMI) di Kota Palu.

“Dimana pikiran, dimana hati nurani?Saya kira ketua DPR disini seorang perempuan. Dimana-mana yang namanya perempuan, punya hati nurani, punya perasaan. Kami sudah empat tahun ibu, tidak ada enaknya tinggal di dalam huntara,”ujarnya, saat berunjukrasa di depan kantor DPRD Sulteng, Kamis (15/9/2022).

Menurutnya, hingga saat ini mereka belum mengetahui kelanjutan nasib mereka yang kini sebagian masih berdiam di hunian sementara (Huntara), diapun mempertanyakan seperti apa upaya pemerintah provinsi maupun para para legislator dalam memperjuangkan hak-hak para penyintas di Pasigala.

Malahan, lanjutnya ditengah kondisi yang serba sulit setelah melewati pandemi Covid dan baru-baru ini pemerintah menaikkan lagi harga Bahan Bakar Minyak (BBM), keputusan soal anggaran yang diambil pemprov dan DPRD Sulteng pun sangatlah tidak berpihak kepada masyarakat, khususnya para penyintas.

Salah seorang orator, Harsono Bereki dalam orasinya menyampaikan bahwa nilai anggaran hibah untuk kegiatan munas tersebut sangatlah fantastis, sementara dampak yang dirasakan bagi masyarakat tidaklah seberapa dari kegiatan tersebut.

Olehnya dia meminta anggota DPRD Sulteng membatalkan atau mengurangi anggaran hibah tersebut, dan lebih focus pada penanganan para penyintas yang hingga kini nasibnya masih terkatung-katung dan belum seluruhnya mendapatkan tempat tinggal yang layak atau hunian tetap (huntap).

“Sangatlah miris jika anggaran sebesar itu hanya dihambur-hamburkan untuk reuni tiga hari, sementara permasalahan korban bencana di Pasigala belum tuntas. Masih banyak penyintas yang menderita,”ujarnya.

Sementara, Advokat Rakyat, Agussalim, SH mengatakan, dirinya mendapat informasi bahwa di tim anggota badan anggaran pun ternyata ada yang tidak setuju dengan keputusan tersebut.

“Hanya untuk kegiatan seremonial, namun anggaran yang dikucurkan sangatlah besar. Acara dengan anggaran Rp14 miliar itu untuk apa?”tanyanya.

Bahkan, dia mendesak dari hasil kedatangan mereka untuk bertemu para anggota dewan itu, nantinya akan melahirkan keputusan yang menyatakan bahwa tidak ada pelanggaran hukum atau dugaan praktik mafia anggaran dalam putusan yang diambil Pemprov dan DPRD Sulteng sekaitan dengan dana hibah tersebut.

Tak Satupun Anggota Dewan Hadir

Baca Juga