Telinga Tikus

IMG-20220310-WA0132-f22e3e73

“Kadang kita perlu notasi berbeda untuk mendengar merdunya suara warga. Hanya dengan tangga nada, sebuah lagu dapat didengar indah dan harmonis”.

ADA pepatah mengatakan, jadilah orang bertelinga gajah jangan bertelinga tikus. Para arif di masa lalu, menyampaikan pepatah ini, bukan sekadar untuk menasihati orang di zamannya. Pepatah ini faktanya, masih relevan dengan kondisi kekinian.

Pepatah ini mengajarkan, agar orang tidak mudah tersinggung saat kritik dan koreksi datang menghantam. Sebaliknya, semua pendapat orang baik yang pro dan kontra didengar baik-baik. Karena kadang orang di dekat meninabobokkan, dan orang di seberang mengingatkan agar tidak terjerumus ke jurang.

Konon ada penggawa di sebuah kampung,menjadi perbincangan bawahannya. Ia sulit menerima saran dan pendapat dari orang lain. Jika ada kritik dan saran, ia akan memosisikan orang tersebut sebagai lawan atau kelompok yang tidak mendukungnya.

Dalam forum-forum resmi, sepintas ia seperti mendengarkan masukan orang di sekitarnya. Namun dalam pengambilan kebijakan, ia abaikan semuanya. Bahkan suara para penasihatnya, menguap begitu saja. Walhasil para penasihat seperti tidak bekerja. Tentu saja ini menjadi pertanyaan warga, karena mereka digaji untuk memberikan masukan pada para penggawa.

Sebaliknya di tempat berbeda, ada penggawa lainnya yang juga memiliki beberapa orang penasihat. Mereka dipilih dari orang-orang (yang katanya) ahli di bidangnya masing-masing.

Lucunya, ada penasihat di sebuah kampung berlagak penggawa. Hampir di setiap kesempatan ia hadir dalam kegiatan kampung. Hampir semua bidang ia urus. Padahal, hal-hal teknis seharusnya menjadi urusan dan pekerjaan pejabat teknis. Mungkin saja penasihat itu merasa dirinya ahli segala bidang, sehingga pekerjaannya melampaui bidang yang menjadi tugas pokoknya. Anehnya, Sang Penggawa seperti lebih percaya pada penasihat ini, dari pada orang lain. 

Bedanya penggawa yang satu ini dengan penggawa di atas, ia bertelinga gajah. Ia tidak pusing dengan kritik. Kalau ada saran, sepanjang masuk akal, ia siap mendiskusikan. 

Dalam konteks demokrasi, peran komunikasi publik memang seharusnya dijalankan pejabat publik, karena merekalah yang paling mengerti tentang kebijakan yang dibuat dan bertanggung jawab. Mereka yang bertanggung jawab membangun dialog dengan masyarakat. Dengan demikian, tidak semua hal diserahkan pada penasihat.

Seorang penggawa dan pejabat teknis merupakan orang yang paling bertanggung jawab atas kebijakan dan program yang dijalankan, bukan penasihat. Sebagai pembantu penggawa, para pejabat tenis harus menjadi corong terdepan untuk menjelaskan setiap kebijakan dan program yang dilaksanakan. 

Untuk membangun komunikasi dan dialog dengan masyarakat, mereka harus bertelinga gajah. Siap menerima keluh kesah, masukan, dan kritikan tanpa ketersinggungan.

Jika masih bertelinga tikus, sebaiknya ukur diri apakah pantas memerankan sosok penggawa dan atau pejabat teknis yang harus berhadapan dengan masyarakat dengan beragam pandangan dan suara. 

Kadang kita perlu notasi berbeda untuk mendengar merdunya suara warga. Hanya dengan tangga nada, sebuah lagu dapat didengar indah dan harmonis. Wallahualam bishawab.

Pos terkait