Menjadi pasukan penjaga perdamaian dunia atau pasukan PBB tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan, pengetahuan, mentalitas dan keberanian yang tinggi. Hanyalah orang pilihan mampu menembus masuk ke dalam satuan topi baja biru ini.
Misi utama pasukan ini adalah membantu negara-negara yang dilanda konflik untuk menciptakan perdamaian. Khusus pasukan dari Indonesia disebut dengan Pasukan Garuda yang terdiri dari Tentara Nasional indonesia (TNI), Polisi dan Sipil. Indonesia sendiri sudah berpartisipasi dengan kegiatan sejenis mulai tahun 1957.
Tahun ini, Indonesia kembali mengirimkan sekira 155 pasukan terbaiknya untuk misi perdamaian PBB di Republik Afrika Tengah (Minusca) tepatnya di Bangui. Di wilayah federal ini, sering terjadi pemberontakan dan konflik.
Dari ratusan nama pasukan Garuda untuk perdamaian di Afrika Tengah, tercatat Perwakilan Polda Sulteng bernama Brigadir Moh Nur Hidayat masuk dalam kontingen Garuda. Putra kelahiran Tanah Kaili, Palu 11 April 1992 ini, akan menjaga perdamaian selama setahun di Republik Afrika Tengah.
Hidayat sendiri sudah tiga kali mendaftarkan diri menjadi pasukan PBB. Kali ketiga barulah ia lolos bergabung di Pasukan Garuda. Selama berada di Polda Sulteng, Hidayat pernah bertugas di Operasi Tinombala yang kini berubah jadi Madago Raya memburu kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) di Poso.
“ Menjadi kebanggaan tersendiri bisa membawa nama Indonesia ke mancanegara. Saya pun bangga kerana menjadi orang suka kaili pertama yang bisa masuk menjadi pasukan Garuda PBB FPU 3 Minusca di Afrika Tengah,”ungkap Hidayat.
Sebelum diberangkatkan pada Setember mendatang, ia menjalani latpragas dibawah pembinaan Biro Misi Internasional (Romisinter), Divisi Hubungan Internasional (Divhubinter) Polri. Tujuannya untuk mengasah kompetensi para pasukan.
Bergabungnya Hidayat di Pasukan PBB, mendapat tanggapan dari orangtuanya, Ampera B Manila. Ia mengaku bangga dengan prestasi yang diraih anaknya.
“Anak saya bisa membuktikan kalau dia bisa menjadi yang Polisi terbaik. Alasannya, di keluarga besar tidak ada dari Polisi. Jadi dia berusaha untuk menggapai cita-ciatnya menjadi polisi. Kedua, Alhamdulillah dia buktikan kalau dia bisa menjadi Pasukan PBB Indonesia, sebagai orang tua saya sangat terharu. Walaupun meninggalkan istri dan anaknya yang masih berusia dua bulan,”ungkapnya.
Hidayat sendiri menyelesaikan semua pendidikannya di tanah kelahirannya, Palu. Ayahnya berprofesi sebagai guru dan ibunya pegawai negeri. Istrinya bernama Briptu Kirana Karunia Rizki Sudrajat bertugas di Polda Sulteng. IKI