MOROWALI, MERCUSUAR – Pengembangan sumber daya manusia (SDM) menjadi investasi paling strategis dalam mendorong kemajuan perkebunan kelapa sawit rakyat. Di tengah berbagai tantangan industri, mulai dari rendahnya produktivitas kebun, perubahan iklim, hingga tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan berkelanjutan, peningkatan kapasitas pekebun dinilai sebagai fondasi utama untuk meningkatkan produktivitas, daya saing, dan kesejahteraan petani.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun), dan diselenggarakan oleh Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY). Pada 6–11 Juli 2026 di Palu, Sulawesi Tengah. Sebanyak 84 pekebun, penyuluh, dan aparatur dari Kabupaten Morowali mengikuti Pelatihan Teknis Budidaya Kelapa Sawit sebagai bagian dari upaya membangun pekebun yang profesional, adaptif, dan siap menghadapi dinamika industri sawit.
Wakil Direktur AKPY, Idum Satia Santi, menegaskan bahwa keberhasilan industri sawit Indonesia pada masa depan tidak cukup ditopang oleh teknologi, benih unggul, atau besarnya investasi fisik. Faktor yang paling menentukan adalah kualitas manusia yang mengelola perkebunan.
“Kami percaya kemajuan industri sawit Indonesia tidak hanya ditentukan oleh luas lahan, teknologi maupun investasi, tetapi juga ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya,” ujarnya.
Menurut Idum, sebagai perguruan tinggi vokasi yang berfokus pada pengembangan SDM perkebunan, AKPY memandang peningkatan kompetensi pekebun sebagai investasi jangka panjang yang manfaatnya akan terus dirasakan, baik bagi produktivitas kebun maupun kesejahteraan keluarga petani.
Ia menjelaskan, meskipun Indonesia masih menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia, tantangan yang dihadapi perkebunan rakyat semakin kompleks. Produktivitas kebun masih perlu ditingkatkan, banyak tanaman telah memasuki usia tua sehingga membutuhkan peremajaan, sementara praktik budidaya, pemupukan, pemeliharaan tanaman, hingga penanganan pascapanen masih perlu terus disempurnakan. Di sisi lain, perubahan iklim, perkembangan teknologi, serta meningkatnya tuntutan pasar global terhadap sawit berkelanjutan mengharuskan pekebun terus belajar dan beradaptasi.
“Keberhasilan sawit Indonesia ke depan tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul atau pupuk yang digunakan. Yang paling menentukan adalah kualitas manusianya, kualitas petaninya,” tegasnya.
Karena itu, menurut Idum, pelatihan yang difasilitasi BPDP bukan sekadar kegiatan peningkatan pengetahuan, tetapi merupakan investasi pembangunan SDM perkebunan yang akan menentukan masa depan sawit nasional.
“Investasi terbesar yang dapat kita lakukan bukan hanya membeli pupuk atau alat panen, tetapi meningkatkan pengetahuan dan keterampilan diri sendiri. Ilmu yang diperoleh hari ini akan terus memberikan manfaat bagi kebun dan keluarga di masa mendatang,” katanya.
Materi pelatihan dirancang untuk menjawab kebutuhan pekebun di lapangan melalui penerapan Good Agricultural Practices (GAP), mulai dari teknik pemeliharaan tanaman, pemupukan berimbang, pengendalian gulma, konservasi tanah dan air, hingga praktik budidaya yang mampu meningkatkan produktivitas kebun secara berkelanjutan.
Menutup sambutannya, Idum mengajak seluruh peserta menjadikan pelatihan sebagai awal dari proses belajar sepanjang hayat. “Sawit yang hebat tidak lahir dari kebun yang luas, tetapi dari petani yang terus belajar. Petani masa depan adalah petani yang mau belajar, mampu beradaptasi terhadap perubahan, memahami teknologi, mencatat usahanya dengan baik, dan menerapkan prinsip keberlanjutan dalam mengelola kebunnya,” tuturnya.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Provinsi Sulawesi Tengah, Muhammad Neng. Menurutnya, penguatan SDM menjadi kebutuhan mendesak agar pekebun tetap memiliki daya saing, terutama di Kabupaten Morowali yang berkembang pesat sebagai kawasan industri pertambangan dan hilirisasi nikel. Ia menilai pelatihan menjadi bekal penting bagi pekebun untuk menghadapi perubahan industri sekaligus meningkatkan produktivitas usaha tani.
“Kegiatan seperti ini sangat luar biasa. Di tengah kondisi efisiensi anggaran pemerintah, program pengembangan SDM seperti ini tetap hadir untuk membantu meningkatkan kapasitas petani sawit. Kami sangat mengapresiasi AKPY yang terus mendukung peningkatan kompetensi pekebun,” ujarnya.
Muhammad Neng menjelaskan, pembangunan perkebunan saat ini tidak lagi berorientasi pada perluasan areal tanam, melainkan pada peningkatan produktivitas, kualitas hasil, efisiensi usaha, nilai tambah, daya saing, dan keberlanjutan lingkungan. Seluruh target tersebut hanya dapat dicapai apabila didukung SDM pekebun yang kompeten.
Ia juga memberikan apresiasi kepada peserta pelatihan yang tetap memilih mengembangkan usaha perkebunan sawit meskipun Morowali menawarkan peluang kerja besar di sektor pertambangan.
“Peserta yang hadir hari ini luar biasa. Mereka berada di daerah yang dikelilingi industri pertambangan dengan peluang kerja yang sangat besar, tetapi tetap memilih menjadi petani sawit yang hebat. Ini menunjukkan semangat yang luar biasa untuk membangun sektor pertanian,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan dan Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Morowali, Awalludin Nunu, menekankan bahwa pembangunan SDM tidak boleh berhenti setelah pelatihan selesai. Menurutnya, pendampingan berkelanjutan menjadi faktor penting agar seluruh materi yang diperoleh peserta benar-benar diterapkan dalam pengelolaan kebun.
“Kami berharap setelah pelatihan ini tetap ada ruang untuk memberikan bimbingan kepada kami, baik secara kedinasan maupun kepada para peserta dan petani. Pendampingan setelah pelatihan sangat penting agar ilmu yang diperoleh benar-benar diterapkan di lapangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, sinergi antara AKPY, BPDP, pemerintah daerah, penyuluh, dan pekebun perlu terus diperkuat agar program pengembangan SDM menghasilkan perubahan nyata di tingkat lapangan, bukan sekadar meningkatkan pengetahuan peserta.
Melalui kolaborasi tersebut, pengembangan SDM diharapkan menjadi penggerak utama transformasi perkebunan sawit rakyat. Ketika pekebun memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi serta tuntutan keberlanjutan, produktivitas kebun akan meningkat, pendapatan petani bertambah, dan daya saing sawit Indonesia akan semakin kuat di pasar global. Sebab, investasi terbaik bagi industri sawit pada akhirnya bukan hanya pada sarana produksi, melainkan pada manusia yang mengelolanya.MAN/*






