Pendidikan Kebencanaan untuk Generasi Sulawesi: Investasi Kesehatan dan Ketahanan Masa Depan

Oleh : Ilham Akbar, Elsafitri Muin Rayani

Sulawesi merupakan salah satu wilayah di Indonesia yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap berbagai jenis bencana. Gempa bumi, tsunami, banjir, hingga tanah longsor menjadi ancaman nyata bagi masyarakat di wilayah ini.

Tragedi gempa dan tsunami Palu pada tahun 2018 menjadi pengingat kuat bahwa bencana dapat datang secara tiba-tiba dan membawa dampak besar, tidak hanya terhadap infrastruktur, tetapi juga terhadap kesehatan fisik dan mental masyarakat.

Dalam konteks tersebut, pendidikan kebencanaan menjadi sangat penting bagi generasi muda di Sulawesi. Pendidikan ini tidak sekadar memberikan pengetahuan tentang jenis bencana, tetapi juga membentuk kesiapsiagaan, kesadaran risiko, serta kemampuan menjaga kesehatan ketika menghadapi situasi darurat.

Bencana sering kali menimbulkan korban jiwa dan kerugian besar bukan hanya karena kekuatan alam, tetapi juga karena kurangnya kesiapsiagaan masyarakat. Banyak korban terjadi karena masyarakat tidak mengetahui langkah yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
Pendidikan kebencanaan berperan penting dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran masyarakat dalam menghadapi risiko bencana. Dengan pemahaman yang baik mengenai potensi bencana dan langkah mitigasi yang tepat, masyarakat dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan oleh bencana tersebut.

Pengetahuan kebencanaan juga perlu ditanamkan sejak usia sekolah. Anak-anak dan remaja merupakan kelompok yang relatif rentan dalam situasi bencana karena keterbatasan pengalaman dan kemampuan mengambil keputusan dalam kondisi darurat. Oleh karena itu, edukasi kebencanaan perlu diberikan sejak dini agar mereka memiliki kesiapsiagaan yang lebih baik ketika menghadapi bencana.

Di Sulawesi, pendidikan kebencanaan menjadi semakin relevan karena wilayah ini berada pada kawasan cincin api (Ring of Fire) yang memiliki aktivitas tektonik tinggi. Dengan kondisi geografis tersebut, generasi muda perlu dibekali pemahaman mengenai cara menyelamatkan diri, mengenali tanda-tanda bencana, serta memahami jalur evakuasi yang aman.

Bencana tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan dan infrastruktur, tetapi juga memiliki dampak besar terhadap kesehatan masyarakat. Dampak tersebut dapat berupa cedera fisik, penyakit menular akibat kondisi lingkungan yang buruk, hingga gangguan kesehatan mental seperti trauma, kecemasan, dan depresi.

Penelitian menunjukkan bahwa bencana seperti banjir dapat meningkatkan risiko penyakit terutama penyakit menular akibat sanitasi dasar yang tidak tersedia dan gangguan kesehatan mental pada masyarakat yang terdampak. Kondisi ekonomi yang memburuk setelah bencana juga dapat memperparah masalah kesehatan tersebut.

Dalam situasi ini, pendidikan kebencanaan memiliki peran penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan kesehatan masyarakat. Misalnya, melalui edukasi mengenai: pertolongan pertama pada korban bencana, menjaga sanitasi dan kebersihan lingkungan di pengungsian, mengenali gejala stres dan trauma pascabencana, cara menjaga kesehatan selama masa tanggap darurat.

Dengan pengetahuan tersebut, masyarakat tidak hanya mampu menyelamatkan diri, tetapi juga mampu menjaga kesehatan diri dan orang di sekitarnya.

Generasi muda memiliki peran strategis dalam upaya mitigasi bencana. Pendidikan kebencanaan dapat membentuk generasi yang tidak hanya sadar risiko, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan di masyarakat.
Program literasi kebencanaan yang melibatkan siswa terbukti mampu meningkatkan kesiapsiagaan serta kemampuan mereka dalam menghadapi potensi bencana. Selain itu, siswa yang memiliki pengetahuan kebencanaan dapat menyebarkan informasi tersebut kepada keluarga dan lingkungan sekitar.

Artinya, pendidikan kebencanaan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga dapat memperkuat ketahanan masyarakat secara luas. Ketika generasi muda memiliki pemahaman yang baik mengenai mitigasi bencana, mereka dapat membantu membangun budaya sadar bencana di lingkungan masyarakat.

Meskipun penting, implementasi pendidikan kebencanaan di sekolah masih menghadapi berbagai tantangan. Materi kebencanaan sering kali hanya muncul secara terbatas dalam beberapa mata pelajaran, seperti geografi atau ilmu pengetahuan alam.

Padahal, pendidikan kebencanaan seharusnya menjadi bagian dari pembelajaran lintas disiplin yang terintegrasi dalam kurikulum pendidikan. Pendekatan ini bertujuan agar siswa tidak hanya memahami konsep bencana secara teori, tetapi juga mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, keterbatasan fasilitas, kurangnya pelatihan bagi guru, serta minimnya simulasi bencana di sekolah juga menjadi kendala dalam pengembangan pendidikan kebencanaan di Indonesia.

Melihat berbagai risiko bencana yang ada di Sulawesi, pendidikan kebencanaan seharusnya menjadi bagian penting dari sistem pendidikan di daerah ini. Sekolah dapat menjadi pusat edukasi mitigasi bencana melalui berbagai kegiatan, seperti: simulasi evakuasi gempa dan tsunami, pelatihan pertolongan pertama, edukasi kesehatan di situasi bencana, pengenalan jalur evakuasi dan zona aman.

Melalui pendidikan kebencanaan yang terintegrasi dengan aspek kesehatan, generasi muda tidak hanya akan lebih siap menghadapi bencana, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menjaga kesehatan fisik dan mental dalam situasi darurat.

Pada akhirnya, pendidikan kebencanaan bukan hanya tentang menghadapi bencana, tetapi juga tentang membangun generasi yang tangguh, sehat, dan peduli terhadap keselamatan bersama. Di wilayah rawan bencana seperti Sulawesi, pendidikan kebencanaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan.***

Penulis adalah mahasiswa Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Palu

Pos terkait