Gempa M6.1 Guncang Pantai Barat Donggala, Ingatan Bencana 1968 dan 2018 Jadi Alarm Mitigasi Warga

  • Whatsapp

“Bukti pewarisan ingatan ini, ketika terjadi gempa yang cukup keras, warga tanpa dikomando, langsung berinisiatif mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Pada 2018 lalu, sebelum gempa utama terjadi, warga di pantai barat sudah lebih dulu mengungsi ke dataran tinggi, saat gempa awal terjadi pada siang dan sore hari. Memori gempa dan tsunami Mapaga 1968, melekat dalam ingatan mereka,” ujarnya. 

Tsunami 1968 menghantam wilayah pesisir Balaesang, Dampelas, serta Sojol. Meski berdekatan, daerah Sirenja sedikit beruntung sebab terlindung Tanjung Manimbaya. Lanjut Sairin, orang-orang saat itu belum mengenal istilah tsunami. Di Sirenja kata dia, tsunami disebut “lembotalu” yang memiliki arti air laut bergelombang tiga. Tsunami menurut warga setempat, selalu datang dengan tiga gelombang.

Kosakata lembotalu ini kata dia, dipengaruhi oleh bahasa Mandar, Lembong Tallu. Sirenja banyak dipengaruhi Mandar. Dari tradisi lisan, orang Mandar lebih dulu datang daripada orang Bugis di Sirenja.

“Istilah Lembotalu ini, saya dengar dari nenekku. Nenekku tahu dari mamanya, orang kaili di Sirenja,” ujar Sairin.

Gempa bumi dan tsunami 15 Agustus 1968 terjadi pada pukul 06.14 WITA. Gempa berkekuatan M7.2 ini memiliki titik episenter 0,157° LU ; 119,802 BT atau 118 km arah utara Palu, dengan kedalaman 20 km. Titik pusat gempa juga berada di kawasan Teluk Tambu. 

Gempa itu memicu gelombang tsunami dengan tinggi mencapai 10 meter. Selain Mapaga di Desa Labean, wilayah lain yang terdampak bencana kala itu yakni Kecamatan Dampelas dan Sojol, Pantai Barat Donggala. 160 orang meninggal dunia, 40 hilang, dan sebanyak 790 rumah penduduk tersapu tsunami.***

Baca Juga