Agrowisata di Kelurahan Terkendala Persetujuan Warga

  • Whatsapp
RAPAT- Suasana rapat pematangan dan cek kesediaan lahan agrowisata di tiap kelurahan, yang dilaksanakan di ruang Sekretearis Daerah Kota Palu, Selasa (10/7/2018). FOTO:ANDI BESSE/MS

TANAMODINDI, MERCUSUAR- Upaya Pemerintah Kota Palu melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan untuk menyediakan lahan agrowisata di tiap kelurahan, hingga kini masih mendapat hambatan atau terkendala persetujuan dari sejumlah warga yang lahannya akan digunakan untuk agrowisata.

Hal itu dikemukakan sejumlah lurah yang wilayahnya masuk kawasan agrowisata, pada rapat koordinasi yang digelar di ruang Sekretaris Daerah Kota Palu, Asri, Selasa (10/7/2018). Rapat itu untuk memastikan kesediaan lahan menuju agrowisata pertanian dan perikanan oleh tim percepatan agrowisata, dimana setiap kelurahan yang membutuhkan luas lahan paling sedikit 16 hektare sebab ada wilayah sampai 65 hektare.

Berita Terkait

Pilihan Redaksi :  Penghuni Huntap Tondo Terima Bantuan Sembako

Berdasarkan loporan lurah, kepastian kesedian lahan karena kebanyakan pemiliknya warga dari luar kelurahan, selain itu masih perlu sosialisasi terhadap masyarakat tentang pemanfaatan lahan dan pengembangan sehingga jelas manfaat buat para warga.

Selaian itu, kendala lain mengenai lahan kolam ikan, ada warga yang menolak memberikan tanahnya sebagai akses ke kolam di Kelurahan Duyu, karena tahun ini Perencanaan Pemkot sebanyak 124 kolam, berdasarkan hasil kunjungan tim percepatan kolam yang ada 24 kolam.

Sedangkan untuk Kelurahan Kabonena dari 2.4 hektare, masih terhambat belum ada surat pernyataan pemilik, selain itu lahan berada dekat dengan pemukiman dan sebagian lahan milik developer sehingga debit air yang ada sangat kecil, sehingga tidak bisa memenuhi 250 kolam ikan.

Pilihan Redaksi :  Dukung Pariwisata Sulteng, Puluhan Peserta Ikuti English For Tourism

“Untuk kolam pembenihan yang siap merupakan lokasi orang,” kata Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Palu, Burhan Hamading.

Dia melanjutkan, untuk penanaman pisang cavendish seluas 65 hektare di Kelurahan Kayumalue Ngapa sebaiknya dikaji kembali, sebab jenis pisang tersebut secara faktor alam tidak cocok di Kota Palu.

Untuk itu, para lurah diimbua untuk mendampingi tim percepatan agrowisata dalam meninjau lapangan, dan sebisa mungkin sesegera mungkin. Pemkot memprogramkan kawasan agrowisata pertanian dengan menanam markisa, buah naga, pisang cavendish, cabe, serta perikanan berupa kolam ikan lele, ikan nila dan ikan gabus serta teknopark seluas 50 hektare di Dusun Uvemtumbu.

Baca Juga