Balai Arkeologi Sulawesi Utara, Paparkan Hunian Prasejarah di Pesisir Morowali

  • Whatsapp
HLL-6a5be1d9

PALU, MERCUSUAR – Balai Arkeologi Sulawesi Utara dengan wilayah kerja Sulawesi Utara, Gorontalo, dan Sulawesi Tengah, melaksanakan Seminar Hasil Penelitian Arkeologi, dengan tema Hunian Prasejarah di Pesisir Kabupaten Morowali, Jumat (26/11/2021). Kegiatan ini dilaksanakan di Hotel Palu Golden. 

Kepala Balai Arkeologi Sulawesi Utara, Wuri Handoko, dalam sambutannya menjelaskan, lewat kegiatan ini, pihaknya berharap dapat menerima banyak informasi terkait kekayaan arkeologi di wilayah Sulteng. Balai Arkeologi Sulawesi Utara kata dia, selama ini fokus dengan kajian dan riset tentang arkeologi, di wilayah Sulawesi Utara, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. 

“Nilai-nilai arkeologi di masa lalu penting untuk dikaji, terutama aspek multikultural yang terkandung di dalamnya. Hal ini penting, dalam upaya menggali identitas kebangsaan dan kebhinekaan,” ujarnya. 

Lanjut Wuri, Balai Arkeologi Sulawesi Utara juga mendorong kajian-kajian tentang nilai kebudayaan arkeologi, juga nilai pemanfaatan dan potensi yang bisa digali dari tinggalan arkeologi. Potensi yang bisa digali, misalnya potensi riset, wisata, kebudayaan, serta pengetahuan. 

Pilihan Redaksi :  Pemprov Sulteng Finalisasi Dokumen Teknis RZWP-3-K

Keberpihakan pemerintah kata dia, juga penting dalam kelangsungan tinggalan arkeologi. Untuk itu kata dia, dalam proses pembangunan ke depan, penting untuk tetap menjaga identitas lokal, dengan menjaga tinggalan arkeologi dan cagar budaya. 

Peneliti Balai Arkeologi Sulawesi Utara, Nasrullah Azis, dalam pemaparannya tentang Hunian Prasejarah di Pesisir Kabupaten Morowali, menjelaskan, penelitian ini dilakukan sejak 2018 lalu. Adapun lokus penelitian dilakukan di wilayah Mbokita, Kecamatan Menui Kepulauan, Kabupaten Morowali. 

Wisatawan mengenal wilayah Desa Mbokita dengan nama Sombori yang dijuluki sebagai “Raja Ampatnya Sulawesi Tengah”. Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya Gorontalo menemukan gambar cadas berupa cap tangan, di gua Berlian dan gua Mbokita, melalui Pendataan Potensi Cagar Budaya Gua Prasejarah, Kabupaten Morowali. 

Pola-pola penempatan gambar telapak tangan yang seringkali ditemukan secara berkelompok (panel) dapat diartikan memiliki cerita dan makna yang diinginkan. Dominasi gambar telapak tangan di gua Berlian dan gua Mbokita merupakan penggambaran yang sederhana untuk menunjukkan eksistensi budaya bagi pembuatnya, terhadap bentuk gagasan yang menghasilkan karya seni lukis, penggambaran aktivitas dan lingkungannya, pengkodefikasian terhadap kepercayaan dunia natural dan supranatural. 

Pilihan Redaksi :  Pasar Tavajuka Akan Direvitalisasi 

Perpaduan gambar telapak tangan dengan bentuk-bentuk penggambaran hewan, antropomorfik, dan geometris tidak sekedar menggambarkan sesuatu yang ada di alam untuk memenuhi kesenangan, tetapi penggambaran tersebut dapat menjadi simbol-simbol aktivitas natural dan supranatural masyarakat pelaku budaya. 

Begitu juga dengan penggunaan warna bahan yang didominasi warna merah terdapat dan kurangnya penggunaan warna hitam tentu bukan hal yang dilakukan tanpa kesengajaan. Perpaduan pola penempatan gambar telapak tangan berwarna merah dan hitam memberikan makna terhadap pola ideologi dari perilaku masyarakat pelaku budaya.

Penemuan baru sebaran gambar cadas di gua, ceruk dan tebing laut kawasan karst Matarape masih berpotensi. Sebagai langkah awal upaya pelestarian cagar budaya di wilayah karst Matarape, maka diperlukan pendataan berkelanjutan dan penelitian arkeologi untuk mengetahui persebaran menyeluruh untuk mengetahui wilayah budaya seberapa luas ruang jelajah pelaku budaya gambar cadas di karst Matarape pada masa lalu. 

Pilihan Redaksi :  SMA/SMK Sulteng Dilarang PTM 100 Persen

Diperlukan penelitian terpadu untuk mengungkap umur absolut, dengan menggunakan metode uranium series Geochemistry pada sampel gambar telapak tangan dan figuratif lainnya di gua Mbokita dan gambar telapak tangan di gua Berlian. Metode pertanggalan ini menjadi hal penting untuk mengetahui umur gambar cadas di kawasan karst Matarape untuk mengungkap jalur migrasi pelaku budaya gambar cadas di Indonesia.

Adapun keterlibatan masyarakat setempat sangat diperlukan sebagai pemberi informasi sekaligus penunjuk jalan. Penguasaan lingkungan yang dimiliki masyarakat setempat menjadi faktor utama untuk mengantar peneliti menemukan dugaan situs-situs baru, yang selama ini belum mereka pahami, terutama bentuk-bentuk peninggalan hasil kebudayaan masa prasejarah. JEF

Baca Juga