LOLU UTARA, MERCUSUAR — Kegiatan Kreasi Sastra Murid Bersama Guru (Kreasi Sastra MBG) yang mengusung tema “Merawat Merah Putih Melalui Sastra” dimulai dengan lomba menulis cerpen dan puisi, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di Taman Bundaran Nasional dan Gedung Juang Palu tersebut menjadi bagian dari rangkaian Kreasi Sastra MBG yang digelar selama sebulan, mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026.
Direktur PlakPlik Ngataku Sulteng, Agustan mengatakan, minat sekolah mengikuti kegiatan tersebut cukup besar. Hingga saat ini, panitia mencatat sekitar 70 sekolah dari jenjang SD atau sederajat, SMP, SMA, dan SMK di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
“Alhamdulillah, untuk kegiatan kali ini, minat sekolah, baik itu level SD atau sederajat, hingga kemudian SMP dan juga SMA serta SMK, cukup besar. Untuk saat ini, yang terdata di panitia, kurang lebih 70 sekolah,” ujar Agustan.
Menurut Ketua Jurusan Bahasa dan Seni FKIP Untad tersebut, panitia juga membuka pendaftaran bagi peserta dari luar Kota Palu, khususnya Kabupaten Sigi dan Donggala. Kebijakan tersebut diambil karena pada pelaksanaan perdana ini panitia belum menyediakan biaya akomodasi bagi peserta dari wilayah yang lebih jauh.
Agustan menilai tingginya minat peserta menunjukkan perkembangan sastra di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, cukup signifikan. Namun, perkembangan tersebut perlu diikuti dengan penguatan pemahaman sastra di kalangan guru dan murid.
Ia mengatakan sastra tidak hanya berkaitan dengan unsur keindahan, tetapi juga memiliki aturan dan tata bahasa yang perlu dipahami.
“Untuk momentum awal ini, kami memiliki tujuan, yakni bagaimana menggaungkan tentang sastra di kalangan pendidik. Karena memahami dan mencintai sastra adalah sebuah keniscayaan di dunia pendidikan. Sastra mulai diajarkan dari bangku sekolah dasar,” katanya.
Selain lomba cerpen dan puisi, Kreasi Sastra MBG juga diisi coaching clinic mengenai teknik penulisan cerpen dan puisi. Kegiatan tersebut melibatkan sejumlah seniman Kota Palu yang memiliki pengalaman di bidang sastra untuk memberikan referensi kepada peserta, khususnya pemula.
Agustan mengatakan rangkaian kegiatan juga mencakup workshop teknik menulis puisi, teknik menulis cerpen, dan teknik membaca puisi. Peserta terdiri atas murid dan guru dengan metode pemaparan, diskusi, praktik, demonstrasi, dan apresiasi karya.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, Kreasi Sastra MBG diarahkan tidak hanya menjadi ajang perlombaan, tetapi juga ruang pembelajaran dan penguatan apresiasi sastra bagi guru dan murid di Sulawesi Tengah. MBH







