Liquifasi, Qoorun dan Mati syahid

  • Whatsapp
FB_IMG_1538660434919

Oleh : ibnu Mundzir

(birokrat muda kota palu)

Sore hari tanggal 28 oktober 2018, Gempa itu terjadi persis saat adzan sholat magrib, seperti hari biasa, setelah menyiapkan bahan pameran untuk hari habitat dunia dan hari kota dunia yang dilaksanakan dikota palu, materi sudah selesai dicetak dan sudah siap untuk di loading di venue pameran stand kota palu di pesisir teluk palu, persis di samping panggung utama pesona palu nomoni.

Dan bencana gempa itupun tiba, sangat cepat, semua rontok hanya dalam hitungan detik, hanya sebutan namaMu yang kuingat, ditengah keterkejutan dan ketidak berdayaan, suara ibu yang menangis, kawan yang frustasi, serta deretan kendaraan yang berjatuhan ditempat parkir, diperparah hilangnya jaringan untuk sekedar mengetahui kabar keluarga dirumah. Sebuah pelajaran besar, tentang kecil, nisbih dan tidak berdaya makhluk yang bernama manusia.

Secara saintifik, saya ingin katakan bahwa sampai hari ini gempa bumi itu, suatu bencana yang tak bisa diprediksi manusia, bencana yang tak memberi tanda-tanda, bencana yang bisa datang kapan saja ini menjadi bencana satu-satunya yang paling sulit diterka manusia.
Berbeda banjir atau angin topan yang bisa diprediksi manusia, gunung yang akan meletus selalu memberi tanda-tanda dan badai topan yang bisa dilihat prediksinya kemana ia akan berjalan. Tetapi khusus gempa tidak bisa.

Pilihan Redaksi :  Jumlah Perkara Tipikor 2021 Naik

Gempalah satu-satunya bencana yang bisa memicu bencana lain seperti longsor, kebakaran, tsunami, gunung meletus dan likuifikasi. Pernah mendengar apa itu likuifikasi? Nah.. Itu yang ingin saya bahas disini.

Likuifikasi (Liquification) adalah keadaan dimana tanah yang semulanya kuat menjadi hilang daya kekuatannya akibat gempa bumi, sehingga tanah ini akan berubah menjadi seperti bubur yang lembek . Keadaan seperti ini disebabkan karena kondisi air dibawah tanah ketika terguncang oleh gempa bumi maka air ini akan meresap naik kepermukaan mengisi pori-pori tanah sehingga menghilangkan kekuatan tanah tersebut, umumnya hal seperti ini terjadi pada daerah yang tanahnya berpasir atau tanah liat dan tanah berkerikil halus.

Umumnya hal diatas terjadi diwilayah yang tanahnya bercampur pasir seperti di pesisir pantai atau disemua wilayah yang komposisi tanahnya berpasir atau berkerikil. Fenomena ini terkadang terjadi setelah gempa bumi dimana kadang ada beberapa wilayah yang seolah tanahnya terhisap atau munculnya semburan lumpur dan semacamnya dari tanah.

Keadaan seperti ini bisa membuat bangunan dan segala yang ada dipermukaan tanah bisa tersedot kebawah atau naik ke atas tergantung letak wilayahnya, hal ini juga bisa menyebabkan sebuah jalan amblas atau anda bisa melihat dengan mata sendiri sebuah rumah, pohon, atau tiang listrik berjalan didepan mata anda sendiri seperti terjadi longsor tapi hal ini terjadi di daerah yang relatif rata bukan bertebing curam.

Pilihan Redaksi :  Pemilihan Duta Pariwisata Cilik dan Remaja 2022

Banyak contoh likuifikasi yang pernah terjadi, salah satunya adalah gempa di Palu kemarin, didaerah balaroa atau perumnas (itu yang sempat saya lihat), serta beberapa video gempa bumi didaerah sigi. Sebenarnya ketika pohon kelapa, tower dan rumah itu berjalan bukan pada saat gempa berguncang tapi ketika gempa mendekati masa akan berhenti dan konsentrasi air di bawah tanah naik ke permukaan sehingga kondisi tanah menjadi terlalu gembur dan mendorong serta menelan apa saja yang ada diatasnya. Ini sungguh kejadian yang sangat luar biasa. Kalau lihat pegunungan di sebelah barat palu, maka kejadian seperti ini, kayaknya bukan yang pertama, namun pernah beberapa kali pada masa yang lampau, untuk para akademisi disilahkan untuk mendalaminya.

Diluar negeri juga banyak kejadian seperti ini pasca terjadinya gempa dimana ada beberapa bangunan yang permukaan dasarnya ambles kedalam tanah seolah tersedot. Inilah likuifikasi

Pilihan Redaksi :  Kalsum Pimpin DPC PAN Tawaeli

Pernah dengar berita tentang cerita si Qarun zaman dulu, yang hidup dizamannya Nabi Musa, dimana ia beserta hartanya ditenggelamkan kedalam tanah pasca gempa bumi. Mungkin saja itu adalah fenomena likuifikasi sedang berlangsung disana mengingat wilayah si Qarun merupakan wilayah berpasir dengan sumber air dari Sungai Nil. Wallahu a’lam

Itulah singkatnya penjelasan likuifikasi, sebagian tulisan ini saya dapat dari sahabat saya, yang coba menjelaskan tentang apa yang sedang terjadi di kota palu. Ketika beberapa tahun lalu, saya terlibat dalam penyusan sebuah dokemen kebencanaan, dokumen itu dimulai dengan kalimat, kota palu adalah supermarketnya bencana, sebab semuanya berpotensi terjadi di kota ini, sudah takdir kota ini, didirikan persis diatas sebuah sesar aktif, sesar palu koro, hanya ada dua kota di dunia ini yang bernasib seperti itu, yaitu san andreas dan kota palu.

Untuk semua sahabat dan handai tolan yang berduka karena kehilangan sanak saudara, saya teringat, sebuah penghiburan bahwa orang yang meninggal dunia karena bencana alam, sebenarnya adalah sebuah kematian yang patut dicemburui, sebab mereka tergolong mati syahid dunia, dan tidak ada balasan atas mati syahid, kecuali surga, wallahualam bi syawab.***

Baca Juga