PALU, MERCUSUAR — SEAMEO BIOTROP bersama Universitas Tadulako (Untad) menggelar Pelatihan Nasional Pengelolaan dan Pemanfaatan Lahan Suboptimal di Laboratorium Terpadu Untad, Selasa (1/9/2026).
Pelatihan tiga hari (1–3 September 2026) ini diikuti 34 peserta yang terdiri dari representasi guru SMK, dosen, dan perwakilan instansi pemerintahan, atas dukungan Kemendikdasmen, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, dan PKR Mikroba Karst Universitas Hasanuddin.
Palu menjadi kota ketiga pelaksanaan pelatihan ini setelah Universitas Bengkulu (Mei 2026) dan Universitas Palangka Raya (Juli 2026).
Deputi Direktur Bidang Program SEAMEO BIOTROP, Dr. rer. nat. Doni Yusri, S.P., M.M., menyampaikan pelatihan ini merupakan bagian dari program unggulan (flagship) SEAMEO BIOTROP 2026 yang tahun ini fokus mentransfer pengetahuan kepada guru sebagai agen perubahan sekaligus agen transformasi ke sekolah masing-masing.
Ia memaparkan, dari 70-an juta hektare lahan suboptimal di Indonesia, sebagian besar berpotensi produktif jika dikelola tepat, namun bisa memicu bencana bila diabaikan.
Guru SMK dipilih sebagai sasaran utama karena dinilai mampu menjembatani pengetahuan ilmiah dengan bahasa dan praktik yang mudah diterima masyarakat.
Doni menambahkan, pelatihan dirancang selaras dengan kondisi eksisting lahan di tingkat lokal, sehingga materi turut membahas optimalisasi lahan suboptimal di berbagai medan — lahan basah, lahan kering, lahan lereng, lahan gambut, hingga lahan sekolah — agar pendekatannya dapat disesuaikan dengan karakteristik lahan masing-masing daerah.
Sesuai roadmap SEAMEO BIOTROP, tahun depan sekolah-sekolah yang berhasil mempraktikkan materi akan dimonitor dan sebagian dijadikan percontohan pemberdayaan lingkungan bersama masyarakat, bekerja sama dengan Untad.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan dan Kerjasama Untad, Dr. sc. agr. Aiyen Tjoa, mengapresiasi kegiatan ini dan menyatakan Untad siap menjadi mitra tindak lanjut program. Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah, Syam Zaini, M.Si., S.Pd., turut mengapresiasi pelatihan dan meminta para guru mengikutinya secara sungguh-sungguh agar hasilnya dapat diterapkan di sekolah masing-masing.
Materi pelatihan selama 32 jam mencakup lima topik: konservasi dasar lahan suboptimal (termasuk biopori), identifikasi air dan tanah tercemar, identifikasi gulma sebagai bio-indikator, teknik berkebun adaptif, serta pembuatan kompos dan pupuk hayati.
Hari pertama diisi teori, sedangkan hari kedua dan ketiga didominasi praktik lapangan, dengan narasumber dari SEAMEO BIOTROP, Untad, PKR Mikroba Karst Unhas, dan IPB University secara luring maupun daring.
Sebagai luaran, setiap peserta menyusun rencana tindak lanjut (action plan) yang dipresentasikan pada hari terakhir. JEF






