PALU, MERCUSUAR -Pelaksanaan Diklat wasit/juri yang dilaksanakan KONI Sulawesi Tengah menjadi berwarna dengan hadirnya beberapa peserta perempuan, salah satunya Ainun Fadillah di cabor Sepakbola.
Kehadirann Ainun yang baru berusia 18 tahun di lapangan tak hanya sekedar menjadi pemanis atau pelengkap, tapi diharapkan berpengaruh bagi kemajuan olahraga paling populer ini di Sulawesi Tengah. Apalagi Asosiasi PSSI Provinsi Sulteng belum memiliki wasit Sepakbola konfensional wanita.
“Sepakbola memang didominasi kaum laki-laki. Tapi wanita pun sudah mulai banyak yang mengemari Bahkan sudah ada yang menjadi pemain dan pelatih. Kenapa tidak,kalau saya mencoba menjadi wasitnya,” ujar Ainun kepada Mercusuar membuka percakapan.
Ainun punya paras cantik yang menjadi daya tarik yang diharapkan bisa meredam perilaku agresif yang dilakukan oleh pesepakbola pria jika kelak mendapat tugas menjadi wasit utama ataupun asisten.
Ainun mengakui bahwa menjadi wasit lantaran ia senang dengan tantangan. Apalagi ayahnya mantan wasit C1 nasional di zaman Indonesia Super League. “Saya menyukai tantangan dan menurut saya, perbedaan antara wasit laki-laki dan perempuan adalah hanya komunikasi dan sangat menentukan jalannya pertandingan,”ujar Mahasiswa PJKR Untad ini
“Sebagai orang tua tentunya saya mendukung apa yang dipilih oleh Ainun karena dia memang suka olahraga. Selain Sepakbola dia adalah atlet Pencaksilat, tosser di Bolavoli bahkan bisa bernyanyi. Saya berharap Ainun sukses di dalam Diklat sehingga kehadiranya nanti bisa menjadi motivasi bagi perempuan lainnya untuk menjadi wasit Sepakbola,” terang Asman Tonda, ayah Ainun yang saat ini sebagai Pengawas Pertandingan Nasional PSSI.
Sejauh ini turnamen-turnamen Sepakbola di Kota Palu dan sekitarnya khususnya di level senior rawan terjadi protes pemain kepada wasit yang cenderung berlebihan . Jadi,kehadiran Ainun nanti di lapangan sepakbola sebagai pengadil diharapkan bisa meredam emosi pemain pria dalam sebuah pertandingan. CLG