Persiapan Porprov 2026, Ketua KONI Donggala Bantah Anggaran Cabor Disusun Asal-Asalan

DONGGALA, MERCUSUAR – Ketua KONI Kabupaten Donggala, Asgaf Umar, menegaskan bahwa penyusunan anggaran persiapan menuju Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Sulawesi Tengah 2026 dilakukan berdasarkan usulan kebutuhan masing-masing cabang olahraga, bukan atas keinginan atau pertimbangan subjektif pengurus KONI.

Hal itu ditegaskan Asgaf Umar menyusul kritikan dari Ketua Askab PSSI Donggala, Mohammad Edwan yang menilai terjadi perbedaan nilai usulan yang mencolok dari setiap cabor yang diajukan KONI Kabupaten Donggala ke pemerintah Kabupaten Donggala.

Menurut Asgaf setelah proposal awal yang mencakup seluruh cabang olahraga diajukan, KONI kembali diminta melakukan efisiensi oleh Pemerintah Kaabupaten Donggala sehingga fokus diarahkan kepada cabang olahraga unggulan.
“Belakangan ini kami diminta lagi melakukan efisiensi. Karena itu kami perkecil lagi usulan anggaran dan hanya memasukkan cabang olahraga unggulan satu dan unggulan dua,” kata Asgaf.

Ia menilai kritik yang disampaikan Ketua Askab PSSI Donggala muncul karena hanya melihat salah satu skema proposal yang berisi sekira 17 cabang olahraga unggulan dan tidak memasukkan sepak bola.

Asgaf menjelaskan, seluruh angka yang tercantum dalam proposal berasal dari kebutuhan yang diajukan masing-masing cabang olahraga. KONI hanya meneruskan usulan tersebut setelah melalui pembahasan bersama pengurus cabang.

“Kami meminta setiap cabang olahraga mengajukan seluruh kebutuhannya, baik peralatan maupun kebutuhan pertandingan. Jadi angka-angka yang muncul dalam proposal bukan dibuat-buat oleh KONI,” ujarnya.
Ia mencontohkan perbandingan antara cabang olahraga paralayang dan pencak silat yang menurutnya tidak dapat disamakan karena kebutuhan peralatannya sangat berbeda.

“Kalau membandingkan paralayang dengan silat, itu jauh langit dengan bumi. Satu set perlengkapan paralayang sekarang harganya sekitar Rp100 juta. Itu sebabnya pengurus FASI Donggala mengajukan kebutuhan sesuai kondisi riil yang ada,” jelasnya.

Menurut Asgaf, untuk enam atlet paralayang saja kebutuhan peralatan dapat mencapai sekitar Rp600 juta, belum termasuk perlengkapan lain seperti helm dan sepatu sehingga total kebutuhan mendekati Rp700 juta.

Sementara itu, cabang olahraga pencak silat hanya mengajukan kebutuhan perlengkapan pertandingan berupa baju tanding dengan nilai sekitar Rp17 juta. Karena kebutuhan yang berbeda itulah, kata dia, nominal anggaran antar cabang olahraga tidak bisa dibandingkan secara langsung.

Asgaf juga mengungkapkan bahwa sejumlah cabang olahraga unggulan telah menyatakan kesiapan dan optimisme untuk menyumbangkan medali emas bagi Donggala pada Porprov 2026. Dalam pertemuan yang digelar KONI bersama pengurus cabang olahraga, beberapa cabor bahkan memberikan target perolehan medali secara jelas.

“Dengan memberangkatkan kurang dari 10 cabang olahraga saja, kami memperkirakan bisa mendapatkan sekitar 20 medali emas. Di antaranya dari paralayang, atletik, silat, akuatik, petanque, kickboxing, biliar dan beberapa cabang lainnya,” katanya.
Menurutnya, strategi tersebut diambil karena kondisi keuangan daerah saat ini mengharuskan adanya prioritas dalam penggunaan anggaran. Oleh karena itu, KONI lebih memfokuskan dukungan kepada cabang olahraga yang memiliki peluang besar meraih medali.

“Tujuan utama mengikuti Porprov adalah prestasi. Dengan kondisi efisiensi yang ketat, kami harus memprioritaskan cabang olahraga yang berpeluang menghasilkan medali emas. Itu juga sejalan dengan arahan pemerintah daerah agar Donggala mampu meningkatkan prestasi,” tegas Asgaf.
Ia menambahkan, KONI telah menyampaikan beberapa skema proposal kepada pemerintah daerah dan DPRD sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan besaran dukungan anggaran untuk persiapan Porprov Sulawesi Tengah 2026. CLG

Pos terkait