Oleh: Ir. Drs. Abdullah, MT.
Sewindu Bencana Padagimo
Bencana dibagi atas 3 bagian, yakni bencana alam, bencana non alam dan bencana sosial. Bencana alam sendiri dibagi atas 2 bagian, yakni bencana geologi dan bencana hidro-meteorologi. Bencana geologi terjadi akibat dinamika litosfer. Bencana hidro-meteorologi terjadi akibat dinamika hidrosfer dan/atau atmosfer.
Beberapa hari yang lalu diperingati sewindu terjadinya bencana PADAGIMO Sulteng 2018, yakni “Jumat/28 September 2018 – Senin/28 September 2026.” Daerah terdampak meliputi Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi dan Kabupaten Parimo (PADAGIMO) Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng). Daerah terdampak lainnya adalah Kabupaten Pasangkayu dan Kabupaten Mamuju Tengah (PasMateng) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar). Dampaknya sangat besar, baik kerusakan harta benda (rumah warga dan infrastruktur) maupun korban manusia (tewas, hilang, luka dan pengungsi).
Bencana PADAGIMO Sulteng 2018 dipicu oleh gempabumi tektonik pada 28 September 2018 dengan magnitudo 8 (G28S2018M7,4) akibat aktivitas Sesar Palu-Koro (SPK). G28S2018M7,4 memicu multi bencana geologi. Selain memicu bencana gempabumi sendiri dan retakan permukaan (surface rupture), G28S2018M7,4 juga memicu bencana tsunami, bencana likuefaksi, bencana longsor dan bencana downlift (land subsidence) yang terjadi secara bersamaan. Bencana geologi tersebut juga disertai bencana non-alam dan bencana sosial. Beberapa waktu kemudian, terjadi bencana turunan berupa bencana banjir rob dan bencana sedimentasi.
Gempa Supershear dan Panjang Retakan
Paramater G28S2028M7,4 adalah: origin time 18:02 WITA, magnitudo 7,4, kedalaman 11 km, serta episenter 119,85 BT dan 0,20 LS. Panjang retakan permukaan SPK, yang merupakan sumber getaran gempa tersebut, adalah 156 km, lihat Gambar 1a. Durasi gempanya sekitar 2 menit. Gempabumi ini tergolong gempabumi supersheardan merupakan gempa supeshear ke-5 yang pernah terjadi sepanjang sejarah gempabumi, lihat Gambar 1b.
Pesawat supersonik, kecepatannya lebih cepat dibanding kecepatan suara, menimbulkan bom suara (sonic boom). Gempabumi supershear, kecepatan retakan permukaan bumi lebih cepat dibanding kecepatan gelombang gempanya, menimbulkan bom seismik (seismic bomb). Bom seismik ini berbentuk getaran ekstrem yang menambah daya rusak gempa M7,4 tersebut, yang kemudian memicu terjadinya multi bencana geologi. Selain itu, dengan durasi gempa sekitar 2 menit, mendorong intensitas gempa mencapai Skala X MMI (Ekstrem). Pola intensitasnya berbentuk elips, dengan pusat elips adalah retakan SPK sepanjang 156 km.

Gambar 1 Retakan permukaan SPK dan gempabumi supershear
Panca Bencana
Multi bencana geologi yang dimaksukan di atas adalah 5 jenis bencana (panca bencana) geologi yang dipicu oleh G28S2018M7,4, yaitu:
- Bencana gempabumi dan retakan permukaan SPK. Dampak bencana yang ditimbulkan langsung oleh getaran ekstrem G28S2018M7,4 adalah kerusakan bangunan (rumah warga dan infrastruktur) dengan kategori rusak ringan, rusak sedang dan rusak berat, bahkan ada yang rusak total. Jumlahnya sangat banyak. Adapun dampak bencana yang ditimbulkan oleh retakan permukaan SPK, semuanya kategorinya rusak total, salah satunya ditunjukkan dalam Gambar 2.

Gambar 2 Sesar Palu-Koro (SPK) memotong Jl. Cemara, Kelurahan Donggala Kodi Kecamatan Ulujadi Kota Palu. Di lokasi ini, pergeseran mendatar SPK sebesar 5,4 m dan bangunan masjid rusak total
- Bencana Tsunami. Getaran ekstrem G28S2018M7,4 memicu bencana tsunami di 5 wilayah pesisir secara bersamaan, yakni di pesisir Teluk Tambu dan Teluk Tompe atau Teluk Sirenja (Kabupaten Donggala), Teluk Palu (Kota Palu dan Kabupaten Donggala) dan pantai Olaya Kabupaten Parigi Moutong Sulteng serta pantai Budong-Budong Sulbar. Kusus di Teluk Palu, terdapat sekitar 10 pusat tsunami. Di sisi timur Teluk Palu, tsunami dibangkitkan oleh longsor muara sungai dan tebing terjal di dasar teluk. Di sisi barat, tsunami dibangkitkan oleh pergeseran vertikal SPK. Selain itu, ada pusat tsunami yang berbeda dengan lainnya, seperti ditunjukkan dalam Gambar 3. Dalam hal ini, sebagian ruas Jl. Cut Meutia mengalami downlift dan kemudian membangkitkan tsunami.

Gambar 3 Salah satu pusat tsunami pada 28 September 2018 dan tabel waktu tiba tsunami di pantai Teluk Palu
Tsunami yang terjadi di 5 wilayah pesisir tersebut tergolong tsunami lokal. Maksudnya, hanya dalam hitungan menit setelah G28S2018M7,4, tsunami sudah tiba di pantai. Pada Gambar 3 juga ditampilkan tabel waktu tiba tsunami di pantai Teluk Palu, yang dicatat oeh 7 CCTV. Waktunya, bervariasi antara 1:43 menit sampai 3:36 menit. Adapun run-up tsunami tertinggi 10,67 m (rendaman tsunami 165 m) terjadi di Masjid Iradatullah, di Kelurahan Tondo Kota Palu. Persis di sebelah utaranya, yakni kawasan pergudangan, di Kelurahan Layana Indah Kota Palu, run-up tsunami 9,17 m (rendaman tsunami 378,9 m). Rendaman tsunami terjauh 468,80 m (run-up tsunami 10,03 m) terjadi di sekitar Mercure Hotel, di Kelurahan Lere Kota Palu.
Bencana Likuefaksi. Getaran ekstrem G28S2018M7,4 memicu likuefaksi di sekitar 40 lokasi, ada di wilayah yang permukaan tanahnya rata dan ada pula yang permukaan tanahnya miring. Ada 4 lokasi yang permukaan tanahnya miring mengalami likuefaksi massif, yakni Balaroa dan Petobo Kota Palu serta Jono Oge dan Sibalaya Kabupaten Sigi, seperti ditunjukkan dalam Gambar 4. Di lokasi likuefaksi Jono Oge, lumpur likuefaksinya sangat encer, sehingga penjalaran lumpurnya cukup jauh mengikuti kemiringan permukaan tanah. Di lokasi ini ada 4 desa terdampak, yakni Desa Pombewe dan Desa Jono Oge Kecamatan Sigi Biromaru serta Desa Langaleso Dan Desa Kabobona Kecamatan Dolo.

Gambar 4 Lokasi likuefaksi massif yang dipicu oleh G28S2018M7,4
- Bencana Longsor. Getaran ekstrem G28S2018M7,4 memicu terjadinya tanah longsor di sejumlah lokasi di PADAGIMO, baik di pegunungan/pebukitan yang dilewati atau dekat jalur jalan, maupun yang jauh dari jalur jalan. Di beberapa tempat di sebelah barat Lembah Palu, antara Marawola – Dolo Selatan, terjadi longsor cukup massif di pegunungan/pebukitan. Salah satu lokasi longsor tersebut ditunjukkan dalam Gambar 5.

Gambar 5 Longsor akibat G28S2018M7,4 di pegunungan sebelah barat Desa Poi Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi. (Sumber gambar: mandarnews.com)
- Bencana Bencana Downlift. Ketika terjadi G28S2018M7,4 juga terjadi downlift (land subsidence), yakni penurunan permukaan tanah secara cepat dan rfrelatif luas. Berbeda dengan dengan 4 bencana yang disebutkan di atas, bencana downlift baru diketahui ketika terjadi pasang air laut pertama pasca G28S2018M7,4, yakni pada 11 Oktober 2018, atau 13 hari setelah G28S2018M7,4. Bencana downlift ini terjadi di beberapa tempat di wilayah pesisir PADAGIMO. Salah satu lokasi bencana downlift tersebut ditunjukkan dalam Gambar 6.

Gambar 6 Genangan air laut di lokasi downlift, Desa Tompe Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala, Kamis sore/11 Oktober 2018 (Sumber gambar: FB NU Care – LAZISNU, 14 Oktober 2018)
Bencana Turunan
Ada 2 jenis bencana PADAGIMO Sulteng 2018 yang menimbulkan bencana turunan, yaitu:
- Bencana longsor menurunkan bencana sedimentasi (bencana geologi). Disebutkan di atas bahwa G28S2018M7,4 memicu longsor di sejumlah titik, termasuk di pebukitan/pegunungan. Material longsoran tertahan di sekitar kaki gunung/bukit. Ketika terjadi hujan deras dengan durasi lama, material longsoran tersebut dialirkan ke wilayah yang permukaannya lebih rendah dan menimbulkan bencana sedimentasi di wilayah tersebut. Salah satu lokasi bencana sedimentasi yang dimaksud ditunjukkan dalam Gambar 7.

Gambar 7 Bencana sedimentasi di Dusun I Desa Bangga Kecamatan Dolo Selatan Kabupaten Sigi (Foto: Abdullah, 28 April 2019)
- Bencana downlift menurunkan bencana banjir rob (bencana hidro-meteorologi).Banjir rob merupakan fenomena tahunan, tetapi di PADAGIMO banjir rob menjadi fenomena bulanan. Setiap air laut pasang, di wilayah yang mengalami downlift terjadi bencana banjir rob. Salah satu lokasi bencana banjir rob ditunjukkan dalam Gambar 8. Bencana turunan ini masih terjadi sampai sekarang, setiap bulan.

Gambar 8 Banjir rob di wilayah downlift, di Desa Tompe Kecamatan Sirenja Kabupaten Donggala. Banjir rob terjadi 2 – 3 hari setiap bulan ketika air laut pasang (Sumber gambar: FB Andi Rusdin, 17 September 2020)
Model Panca Bencana
Kejadian multi bencana tersebut dan dampaknya (Gubernur Sulteng, 2019) serta bencana turunannya dapat digambarkan dalam suatu model, yakni Model Panca Bencana PADAGIMO Sulteng 2018, seperti yang ditunjukkan dalam Gambar 9.

Gambar 9 Model panca bencana PADAGIMO Sulteng 2018 (Abdullah, 2025)
Penutup
Bencana PADAGIMO Sulteng 2018 patut selalu diperingati, bukan untuk memperpanjang ratapan kesedihan karena dampaknya sangat besar, tetapi karena karakteristiknya yang sangat unik sehingga sangat baik dijadikan pelajaran untuk dapat hidup aman di wilayah yang rawan dengan multi ancaman bencana. Keunikannya adalah sebuah gempabumi tetapi memicu multi bencana geologi secara bersamaan. Seiring dengan multi bencana geologi tersebut, juga terjadi bencana non alam berupa kebakaran serta bencana sosial berupa penjarahan. Selain itu, bencana tersebut ternyata masih menyimpan ancaman bencana turunan yang masih terjadi sampai sekarang.
Dari bencana ini diketahui bahwa sebuah gempabumi bermagnitudo signifikan, selain dapat menimbulkan bencana gempabumi sendiri, juga dapat memicu beberapa bencana geologi lainnya secara bersamaan. Karenanya, penyusunan konsep mitigasi bencana atau pengurangan risiko bencana ke depan, tidak lagi fokus untuk ancaman bencana tunggal, tetapi terhadap ancaman multi bencana.
Bahan Tulisan
- Abdullah, 2025, Mitigasi Bencana Alam untuk Perguruan Tinggi (Bahan Ajar), FMIPA UNTAD, Palu.
- Abdullah, Muh. Dahlan Th. Musa, Muh. Rusli, Abd. Rahman, Ketut Sulendra dan Ahmad Imam Abdullah, 2019, Kajian dan Penelitian Wilayah Pesisir Pasca Gempabumi dan Tsunami di Kabupaten Donggala Tahun 2019, Kerjasama BALITBANGDA Kab. Donggala – FMIPA UNTAD, Donggala.
- Bao, H., Ampuero, J.P., Meng, L., Fielding, E. J., Liang, C., Milliner, C. W., Feng, T., Huang H., 2019, Early and Persistent Supershear Rupture of the 2018 Magnitude 7.5 Palu Earthquake. Nat. Geosci, 12, 200–205.
- Gubernur Sulteng (Drs. H. Longki Djanggola, M.Si.), Wakil Gubernur Sulteng (H. Rusli Dg. Palabbi, S.Sos., SH., MH.) dan Sekretaris Daerah Sulteng (Drs. H. Mohammad Hidayat Lamakarate, M.Si.), 2019, Dampak Bencana Alam Gempabumi, Tsunami dan Likuefaksi di Wilayah PADAGIMO Sulawesi Tengah, PUSDATINA Sulteng 16-09-2019, Palu.
Penulis adalah Dosen Prodi Teknik Geofisika dan Kepala Laboratorium Palu-Koro, Jurusan Fisika dan Matematika Fakultas MIPA Universitas Tadulako, Palu






